Gereja Korea Selatan Alami Peretasan, Tampilkan Bendera Korea Utara Saat Siaran Langsung

Korea Internet & Security Agency mengatakan bahwa mereka sedang menyelidiki kasus ini.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 21 Juni 2025, 09:03 WIB
Ilustrasi Korea Utara (Dok. AFP)

Liputan6.com, Seoul - Salah satu gereja terbesar di Korea Selatan mengatakan pada Jumat (20/6/2025), siaran langsung ibadah mereka di YouTube sempat diretas dan menampilkan bendera Korea Utara

Insiden itu terjadi pada Rabu (18/6/2025) pagi dini hari, ketika siaran langsung ibadah dari Gereja Onnuri tiba-tiba menampilkan bendera Korea Utara, disertai musik yang disebut merupakan lagu propaganda.

Bendera itu ditampilkan selama sekitar 20 detik, kata seorang pejabat gereja kepada AFP, seraya menambahkan bahwa kejadian ini telah dilaporkan kepada polisi.

"Selama ibadah pagi dini hari pada 18 Juni, sebuah video yang tidak terduga ditayangkan akibat insiden peretasan," kata pihak gereja dalam pernyataan terpisah seperti dilansir CNA.

"Saat ini kami sedang melakukan investigasi mendesak terhadap penyebab insiden ini dan akan mengambil langkah-langkah yang sesuai segera setelah situasinya menjadi jelas."

 

Peretasan Lainnya

Ilustrasi Korea Utara (AP)

Sebuah gereja Protestan lain di Seoul, yaitu Gereja Naesoo-Dong, juga mengatakan kepada AFP bahwa mereka mengalami insiden peretasan serupa tak lama sebelum ibadah YouTube mereka pada Rabu pagi dini hari.

Sebuah video "tidak pantas" ditampilkan selama sekitar 50 detik akibat serangan peretasan, kata Pendeta Oh Shin-young kepada AFP, seraya menambahkan bahwa rekaman tersebut tampaknya tidak berkaitan dengan Korea Utara.

Korea Selatan, yang dikenal luas sebagai salah satu negara dengan konektivitas internet tertinggi di dunia, sudah lama menjadi sasaran peretasan siber oleh Korea Utara, yang telah dituduh melakukan sejumlah serangan besar di masa lalu.

Pihak kepolisian mengumumkan tahun lalu bahwa para peretas Korea Utara berada di balik pencurian data sensitif dari jaringan komputer pengadilan Korea Selatan—termasuk catatan keuangan pribadi—yang berlangsung selama dua tahun.

Data yang dicuri mencapai lebih dari satu gigabita.

Juga pada tahun lalu, badan intelijen Korea Selatan mengatakan bahwa mata-mata Korea Utara menggunakan LinkedIn untuk menyamar sebagai perekrut kerja dan memikat warga Korea Selatan yang bekerja di perusahaan pertahanan, dengan tujuan memperoleh akses terhadap informasi teknologi perusahaan-perusahaan tersebut.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya