Liputan6.com, Jakarta Los Angeles FC (LAFC) terancam sanksi denda setelah insiden unik yang melibatkan striker veteran Olivier Giroud saat laga pembuka mereka di ajang Piala Dunia Antarklub 2025 melawan Chelsea.
Dalam pertandingan yang digelar di Mercedes-Benz Stadium, Atlanta, Selasa (17/6/2025) dini hari WIB, LAFC takluk 0-2 dari wakil Inggris berkat gol Pedro Neto dan Enzo Fernandez.
Advertisement
Namun bukan hasil pertandingan yang menjadi sorotan, melainkan momen ketika Giroud hendak masuk sebagai pemain pengganti di awal babak kedua.
Mantan striker Chelsea dan AC Milan itu diketahui belum mengenakan jersey saat dipanggil untuk masuk ke lapangan, sehingga memaksa wasit menghentikan jalannya pertandingan selama beberapa menit.
Kritik untuk Wasit
Keputusan wasit Jesus Valenzuela Saez yang menunda kick-off babak kedua demi menunggu Giroud mengenakan jersey menuai kritik tajam, termasuk dari mantan wasit Premier League, Keith Hackett.
“Seharusnya wasit tidak menghentikan pertandingan hanya karena pemain pengganti belum siap secara perlengkapan. Pertandingan harus dilanjutkan sesuai waktu yang telah ditentukan,” ujar Hackett kepada Football Insider.
“Dalam situasi seperti ini, bukan hanya wasit yang patut dikritik, tetapi klub juga seharusnya dikenai sanksi karena tidak menyiapkan pemainnya dengan baik.”
Hackett, yang kini berusia 80 tahun, menegaskan bahwa panitia kompetisi perlu memberikan sanksi kepada LAFC karena dianggap menghambat jalannya pertandingan. Ia juga menyebut perlunya evaluasi terhadap kinerja wasit dalam mengelola momen krusial seperti ini.
“Ini contoh buruk dalam pengelolaan pertandingan. Wasit butuh pengarahan lebih lanjut tentang pentingnya ketepatan waktu dalam sepak bola profesional,” tegasnya.
Kontroversi Piala Dunia Antarklub 2025
Insiden ini juga menambah daftar kontroversi yang mewarnai turnamen Piala Dunia Antarklub tahun ini. Sebelumnya, Lionel Messi juga menjadi sorotan setelah diduga melakukan tindakan tidak sportif saat laga Inter Miami melawan Al-Ahly.
Messi tertangkap kamera tampak melakukan gerakan menyerupai sundulan ke arah salah satu pemain lawan, namun VAR tidak mengambil tindakan apa pun.
Banyak pihak menilai keputusan tersebut menunjukkan adanya perlakuan istimewa terhadap pemain tertentu.
Meski begitu, pihak FIFA maupun panitia penyelenggara belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait dua insiden tersebut.
Kontroversi yang Harus Jadi Evaluasi
Dua insiden ini menjadi catatan penting bagi penyelenggaraan Piala Dunia Antarklub 2025.
Di tengah upaya FIFA memperluas cakupan dan daya tarik turnamen, kejadian seperti penundaan laga karena pemain belum siap atau dugaan kekerasan tanpa sanksi jelas dapat merusak kredibilitas kompetisi.
Dengan meningkatnya jumlah klub dan perhatian global, profesionalisme di setiap lini—baik pemain, ofisial klub, maupun wasit—menjadi tuntutan yang tak bisa ditawar lagi.
Sumber: Football Insider