Rudal Fattah-1: Senjata Hipersonik Iran Penghancur Tel Aviv dan Haifa Israel

Serangan rudal Iran ke Tel Aviv dan Haifa pada 16 Juni 2025, diduga menggunakan Rudal Fattah-1, menandai peningkatan konflik dengan Israel.

oleh Ilyas Istianur PradityaDiterbitkan 17 Juni 2025, 07:00 WIB
Serangan rudal hipersonik Iran, Fattah-1 berhasil membuat dua kota penting Israel—Tel Aviv dan Haifa hancur. (dok: AI)

Liputan6.com, Jakarta Serangan rudal hipersonik Iran, Fattah-1, menghantam dua kota penting Israel—Tel Aviv dan Haifa—pada Minggu dini hari (15/6). Serangan Iran ini menimbulkan kerusakan parah, terutama di wilayah Haifa yang menjadi pusat industri minyak Israel. Beberapa kilang minyak besar dilaporkan lumpuh total, menyebabkan gangguan pasokan energi domestik dan ekspor regional. 

Fattah-1 dikenal sebagai rudal balistik hipersonik dengan kecepatan luar biasa, mencapai antara 16.000 hingga 18.500 km/jam.

Dengan kecepatan tersebut, rudal Fattah ini mampu menembus sistem pertahanan udara Israel yang selama ini dianggap paling canggih di kawasan, termasuk sistem Iron Dome dan David’s Sling. Rudal ini membutuhkan hanya sekitar 4–6 menit untuk menempuh jarak 1.000 km dari wilayah barat Iran, seperti Lorestan, ke utara Israel. 

Spesifikasi Fattah-1: Ancaman Teknologi Tinggi

Rudal Fattah-1 merupakan hasil pengembangan teknologi strategis Iran yang diumumkan secara resmi pada pertengahan 2023. Rudal ini memiliki panjang sekitar 15 meter dengan diameter satu meter, serta dilengkapi hulu ledak seberat 450 kilogram.

Diluncurkan dalam dua tahap, Fattah-1 menggunakan bahan bakar padat untuk tahap pertama dan dilengkapi kendaraan reentry pada tahap kedua. 

Kepala rudalnya dilengkapi sirip manuver dan nozzle pengarah, memberi kemampuan manuver tinggi saat memasuki atmosfer kembali.

Ini menjadikan Fattah-1 setara dengan rudal hipersonik negara-negara besar seperti DF-17 milik Tiongkok dan Avangard milik Rusia. Menurut laporan dari Defense Update (2023), rudal hipersonik dengan kemampuan manuver tinggi hampir mustahil untuk dicegat oleh sistem pertahanan saat ini. 

 

Respons Internasional dan Ketegangan Kawasan

Iran Bombadir Israel dengan Ratusan Rudal

Serangan ini memicu respons keras dari komunitas internasional. Amerika Serikat dan Uni Eropa mendesak de-eskalasi dan mengutuk penggunaan senjata pemusnah massal dalam konflik terbuka.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa serangan ini adalah “tindakan perang terbuka” dan berjanji akan membalas secara “besar dan terukur”. 

Para analis pertahanan menyebut insiden ini sebagai titik balik dalam dinamika militer di Timur Tengah.

“Iran telah membuktikan bahwa mereka tidak hanya memiliki senjata strategis, tetapi juga kesiapan politik untuk menggunakannya,” kata Michael Eisenstadt, pakar militer dari Washington Institute, seperti dikutip Reuters (16/6/2025). 

 

Fattah-1 dan Implikasi Geopolitik di Timur Tengah

Rudal yang diluncurkan dari Iran menuju Israel melesat di langit malam seperti yang terlihat dari Deir al-Balah, Jalur Gaza, Selasa (1/10/2024). (Dok. AP/Abdel Kareem Hana)

Kehadiran Fattah-1 memperkuat posisi Iran dalam menghadapi aliansi Barat dan Israel. Rudal ini menandai langkah baru dalam perlombaan senjata di Timur Tengah, di mana teknologi rudal hipersonik menjadi simbol supremasi militer. 

Menurut Global Firepower 2025, Iran kini menempati peringkat ke-14 dunia dalam kekuatan militer global dan menjadi kekuatan rudal balistik terbesar di Timur Tengah. Dengan keberhasilan serangan ini, Iran mengirim pesan kuat bahwa mereka siap menantang dominasi militer Israel, terutama dalam menghadapi tekanan geopolitik dan sanksi ekonomi. 

Serangan Fattah-1 menunjukkan bahwa konfrontasi di Timur Tengah kini telah memasuki fase baru—di mana senjata hipersonik berpotensi menjadi penentu peta konflik kawasan. 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya