Ditutup Perkasa Hari Ini, Intip Prediksi Rupiah Besok 17 Juni 2025

Nilai tukar Rupiah (IDR) mengalami penguatan di awal pekan pada Senin, 16 Juni 2025. Rupiah ditutup menguat 39 point terhadap Dolar AS (USD), setelah sebelumnya sempat melemah 7 point dilevel Rp16.265 dari penutupan sebelumnya di level Rp16.310.

oleh Natasha AmaniDiterbitkan 16 Juni 2025, 18:30 WIB
Pegawai memperlihatkan mata uang rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (5/1/2023). Mengutip data Bloomberg pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup turun 0,22 persen atau 34 poin ke Rp15.616,5 per dolar AS. Hal tersebut terjadi di tengah penguatan indeks dolar AS 0,16 persen ke 104,41. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta Nilai tukar Rupiah (IDR) mengalami penguatan di awal pekan pada Senin, 16 Juni 2025. Rupiah ditutup menguat 39 point terhadap Dolar AS (USD), setelah sebelumnya sempat melemah 7 point dilevel Rp16.265 dari penutupan sebelumnya di level Rp16.310.

“Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp16.220 - Rp16.270,” ungkap pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya di Jakarta, Senin (16/6/2025).

Penguatan Rupiah terjadi meski Timur Tengah dikejutkan oleh serangan baru oleh Israel dan Iran selama akhir pekan.

Serangan rudal Iran di Tel Avi, Israel dan kota pelabuhan Haifa memicu kekhawatiran di antara para pemimpin dunia pada pertemuan G7 pekan ini.

Ketegangan Iran-Israel telah memicu kekhawatiran tentang gangguan di Selat Hormuz, di mana dekitar seperlima dari total konsumsi minyak dunia, atau sekitar 18 hingga 19 juta barel per hari (bpd) minyak, kondensat, dan bahan bakar, melewati selat tersebut.

“Fokus minggu ini adalah pada serangkaian pertemuan bank sentral, dimulai dengan Bank Jepang pada hari Selasa. Federal Reserve akan memutuskan suku bunga pada hari Rabu, sementara Bank of England, Bank Nasional Swiss, dan Bank Rakyat China juga akan memutuskan suku bunga akhir minggu ini,” papar Ibrahim.

Di Asia, data resmi terbaru menunjukkan produksi industri China tumbuh sedikit lebih rendah dari yang diharapkan pada bulan Mei 2025, di tengah meningkatnya tekanan dari tarif perdagangan AS.

“Namun, pertumbuhan penjualan ritel China melampaui ekspektasi, menandakan ketahanan dalam belanja konsumen meskipun ketidakpastian ekonomi meningkat,” Ibrahim menyoroti.

Adapun AS dan China pekan lalu mengumumkan beberapa kemajuan dalam negosiasi perdagangan mereka, meskipun tidak ada kesepakatan permanen yang diumumkan.

 

ULN RI Kembali Naik, Kini Sentuh Rp7.197,76 Triliun

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat, Jakarta, Kamis (23/10/2014) (Liputan6.com/Johan Tallo)

 

Uang luar negeri Indonesia kembali mencatatkan kenaikan secara bulanan pada April 2025 senilai USD 800 juta menjadi USD 431,55 miliar atau sekitar Rp7.197,76 triliun (JISDOR akhir April 2025 Rp16.679 per dolar AS). Meski terjadi kenaikan ULN sebesar 8,2% secara tahunan atau year on year (YoY), posisi utang tetap terjaga.

Dimana kenaikan kewajiban luar negeri pemerintah tersebut meningkat sejalan dengan pelemahan rupiah yang terjadi usai pengumuman tarif resiprokal AS pada awal April lalu.

“Struktur ULN Indonesia tetap sehat, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Hal ini tecermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang turun menjadi 30,3% pada April 2025, dari 30,6% pada Maret 2025, serta didominasi oleh ULN jangka panjang dengan pangsa mencapai 85,1% dari total ULN,” papar Ibrahim.

 

Sumber ULN April 2025

Selain rupiah, pada penutupan perdagangan, Senin (13/1/2025), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona merah. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Secara umum, perkembangan posisi ULN April 2025 tersebut bersumber dari sektor publik.

Secara perinci, posisi ULN pemerintah pada April 2025 mencapai US$208,8 miliar atau tumbuh sebesar 10,4% YoY, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan 7,6% pada Maret 2025.

Perkembangan ULN tersebut dipengaruhi oleh penarikan pinjaman dan peningkatan aliran masuk modal asing pada Surat Berharga Negara (SBN) domestik, seiring dengan kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia yang tetap terjaga di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang tinggi.

Infografis Beda Rupiah 1998 dengan 2018 terhadap Dolar AS. (Liputan6.com/Triyasni)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya