Indonesia dan Belanda Perkuat Komitmen Repatriasi Benda Budaya

Kedua menteri menegaskan pentingnya kolaborasi jangka panjang, khususnya dalam riset asal-usul koleksi (provenance research), penguatan kerja sama kelembagaan, dan penyederhanaan proses pengembalian artefak yang secara historis dan kultural berasal dari Indonesia.

oleh Tim NewsDiterbitkan 14 Juni 2025, 18:32 WIB
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon dan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Sains Belanda H.E. Eppo Bruins menyepakati langkah strategis memperkuat kerja sama repatriasi benda budaya. (Istimewa).

Liputan6.com, Jakarta - Dalam pertemuan bilateral yang berlangsung di Kantor Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, dan Sains Belanda (Ministerie van Onderwijs, Cultuur en Wetenschap) di Den Haag, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon dan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Sains Belanda H.E. Eppo Bruins menyepakati langkah strategis memperkuat kerja sama repatriasi benda budaya.

Kedua menteri menegaskan pentingnya kolaborasi jangka panjang, khususnya dalam riset asal-usul koleksi (provenance research), penguatan kerja sama kelembagaan, dan penyederhanaan proses pengembalian artefak yang secara historis dan kultural berasal dari Indonesia.

Langkah ini juga menjadi bagian penting dalam penguatan Indonesia–Netherlands Comprehensive Partnership dan Plan of Action 2024–2025, yang menempatkan kebudayaan sebagai pilar utama kerja sama kedua negara.

Fadli Zon mengapresiasi kerja sama yang telah terjalin, terutama keberhasilan pemulangan 828 obyek warisan budaya ke tanah air hingga akhir 2024. Koleksi yang telah dipulangkan antara lain Koleksi Pita Maha, Harta Karun Lombok, dan 68 artefak dari Museum Rotterdam.

“Saya sangat menghargai semangat keterbukaan dan kemitraan yang ditunjukkan oleh Pemerintah Belanda dalam proses repatriasi ini. Lebih dari sekedar pemulangan artefak, repatriasi ini sangat penting untuk melengkapi narasi sejarah, memulihkan memori, martabat, dan identitas budaya bangsa,” ujar Fadli Zon.

Sementara itu, Bruins menyampaikan komitmen penuh terhadap restitusi benda budaya milik Indonesia.

“Saya sangat terlibat secara pribadi dalam proses restitusi. Bagi saya, seluruh benda atau artefak apa pun yang tidak seharusnya berada di sini, harus dikembalikan ke tempat asalnya, ke akar budayanya. Sesuatu yang dicuri tidak seharusnya disimpan di sini,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa proses pengembalian seharusnya tidak dihambat oleh birokrasi yang rumit. Menurutnya, riset asal-usul tetap penting namun harus dibarengi dengan proses yang cepat dan efisien.

Perkuat Kolaborasi Museum dan Arsip Kolonial

Dalam diskusi tersebut, kedua menteri juga menyinggung potensi kerja sama lanjutan dalam pemanfaatan arsip kolonial. Termasuk di dalamnya penguatan pelaksanaan MoU ANRI–NAN (2022–2027), serta dukungan terhadap revitalisasi Museum Nasional Indonesia sebagai pusat rujukan tata kelola museum di kawasan Asia Tenggara.

Menteri Bruins turut menawarkan referensi fasilitas penyimpanan konservasi canggih yang dimiliki Belanda, yang dinilai dapat menjadi acuan untuk peningkatan kapasitas museum di Indonesia.

Tak hanya benda budaya, kerja sama juga diperluas ke sektor ekonomi kreatif. Menteri Fadli mendorong optimalisasi perjanjian kerja sama perfilman yang telah ditandatangani pada Desember 2024. Ia juga menyampaikan potensi kolaborasi dalam pengembangan Joint Development Fund yang mengintegrasikan Dana Indonesiana dengan lembaga pendanaan budaya Belanda seperti Mondriaan Fonds.

“Saya juga mengusulkan pengembangan film bersama yang mengangkat narasi sejarah kedua negara,” ujarnya.

Kerja sama produksi bersama juga sudah mulai membuahkan hasil, salah satunya adalah film Perang Kota yang menjadi penutup ajang Festival Film Rotterdam pada Februari 2025.

Peran Strategis Indonesia House Amsterdam

Kedua menteri turut menyoroti peran strategis Indonesia House Amsterdam (IHA) sebagai pusat diplomasi budaya dan ekonomi kreatif Indonesia di Eropa. Peluang kolaborasi antara IHA dan Erasmus Huis Jakarta turut dibahas, terlebih dalam rangka memperingati 55 tahun kehadiran Erasmus Huis di Indonesia pada November 2025.

Bruins menyampaikan apresiasinya terhadap peran aktif kedua institusi dan menegaskan harapannya agar sinergi antara keduanya semakin diperkuat melalui program-program bersama.

Menutup pertemuan, Fadli secara resmi mengundang Bruins dan delegasi Belanda untuk menghadiri CHANDI Summit 2025 atau World Culture Forum yang akan digelar di Bali pada September 2025.

Forum global ini dirancang sebagai ruang diskusi kebijakan budaya, keberlanjutan, serta inovasi lintas negara yang inklusif dan transformatif.

Infografis Warisan Budaya TakBenda UNESCO dari Indonesia. (Liputan6.com/Abdillah)

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya