Liputan6.com, Jakarta Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, mengatakan bahwa rencana penambahan impor minyak dan gas bumi (migas) dari Amerika Serikat bukan merupakan penambahan kuota total, melainkan pengalihan sumber impor minyak dari negara lain.
Diketahui, rencana ini merespons penetapan tarif resiprokal yang diumumkan Presiden AS Donald Trump pada April 2025 lalu. Dalam proses negosiasi yang dilakukan pemerintah, tambahan impor migas dari AS menjadi salah satu poin pembahasan.
Advertisement
"Kembali lagi kami menyampaikan di sini bahwa kita bukan menambah impor dari Amerika Serikat, melainkan kita shifting, shifting (sumber negara) impor," kata Simon dalam konferensi pers di Graha Pertamina, Jakarta, Jumat (13/6/2025).
Pengalihan dari Negara Lain
Ia mencatat bahwa saat ini ada beberapa negara yang menjadi sumber impor migas Pertamina. Seiring dengan negosiasi untuk menambah volume impor dari AS, maka pengalihan dari negara lain menjadi pertimbangan.
"Dengan adanya kebijakan tarif Trump ini, kita berusaha untuk mendorong—sekaligus mengikuti arahan dari pemerintah—untuk melakukan negosiasi tarif Trump ini. Tentunya dengan melakukan shifting dari tempat-tempat lain, kita berusaha mengubah sumber untuk mendapat pasokan dari Amerika Serikat," tuturnya.
"Tentunya hal ini menjadi perhatian kita juga untuk terus memastikan ketahanan energi di Indonesia dapat selalu kita penuhi," sambungnya.
Masih Menghitung
Simon menjelaskan bahwa ada sejumlah faktor yang masih diperhitungkan jika menambah impor dari AS, salah satunya adalah biaya distribusi akibat pengalihan impor dari negara lain.
"Beberapa langkah ini perlu juga kita perhitungkan, dari lamanya waktu pengiriman termasuk harga yang kita dapat dari Amerika. Kembali lagi, pemerintah selalu mendukung semua upaya kita untuk meningkatkan transaksi kita dengan Amerika Serikat," ujar dia.
"Tentunya untuk pengadaan sumber crude ataupun peningkatan volume impor LPG dari Amerika Serikat. Kami yakin, dengan bantuan serta negosiasi dari pemerintah, kita akan mendapatkan solusi terbaik, yang tentunya dalam jangka panjang bisa memberikan harga yang lebih kompetitif," tambah Simon.
Bahlil Dukung Tambahan Impor LPG dari AS
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan tidak mempermasalahkan waktu distribusi impor LPG dari Amerika Serikat. Padahal, menurut catatan PT Pertamina (Persero), waktu pengiriman LPG dari AS membutuhkan sekitar 40 hari.
Dia menilai waktu tempuh pengiriman bukanlah alasan yang cukup kuat. Mengingat, sebagian besar impor LPG Indonesia memang berasal dari AS.
"Gak ada alasan, toh LPG kita juga kan kita impor dari Amerika," kata Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (23/5/2025).
Ia menjelaskan bahwa 59 persen dari total impor LPG Indonesia didatangkan dari Amerika Serikat. Oleh karena itu, dia tidak mempermasalahkan durasi pengirimannya.
"59 persen dari total konsumsi LPG nasional—dari total impor LPG nasional—50 persen lebih itu dari Amerika. Gak ada soal (waktu pengirimannya)," tegasnya.