Tragedi Cinta Segitiga Amangkurat I, Kisah Ratu Malang dan Pembunuhan Massal Selir Mataram

Wanita tersebut telah menjadi istri sah Kyai Dalem, dalang wayang terkenal di Mataram. Amangkurat I memerintahkan pengambilannya secara paksa.

oleh Switzy SabandarDiterbitkan 09 Juni 2025, 01:00 WIB
Dua petugas melakukan eskavasi benteng cepuri sisi selatan Situs Kedaton, di Kedaton, Pleret,Bantul, Yogyakarta. Untuk melestarikan peninggalan kerajaan Mataram Islam masa Amangkurat I pada abad 17 m

Liputan6.com, Yogyakarta - Kematian permaisuri utama Kesultanan Mataram mendorong Sultan Amangkurat I mencari pengganti. Seorang wanita bernama Ratu Malang menjadi pusat kisah tragis yang berakhir dengan eksekusi massal puluhan selir istana.

Mengutip dari berbagai sumber, pasca mangkatnya permaisuri, Amangkurat I memerintahkan pencarian wanita cantik untuk dijadikan selir. Seorang abdi dalem mengusulkan anak perempuan Kyai Wayah, seorang dalang wayang Gedog terkemuka.

Wanita tersebut telah menjadi istri sah Kyai Dalem, dalang wayang terkenal di Mataram. Amangkurat I memerintahkan pengambilannya secara paksa.

Sultan terkesima melihat kecantikan wanita itu meski sedang mengandung dua bulan. Wanita itu bernamaa Retno Gumilang yang kemudian diberi gelar Ratu Wetan, meski rakyat lebih mengenalnya sebagai Ratu Malang.

Setelah melahirkan seorang putra yang diakui Amangkurat I sebagai anaknya, Sultan memerintahkan eksekusi terhadap Kyai Dalem. Kematian suaminya membuat Ratu Malang berduka berkepanjangan hingga jatuh sakit dan meninggal dunia.

Sebelum meninggal dunia, Ratu Malang mengeluarkan cairan aneh dari tubuhnya yang diduga merupakan tanda-tanda keracunan. Kematian yang mencurigakan ini memicu kemarahan besar Sultan Amangkurat I, yang kemudian melakukan tindakan terhadap orang-orang yang dicurigai.

 

Dayang Istana

Tidak hanya para selir istana, sekitar 60 dayang istana juga dihukum dengan dikurung tanpa makanan hingga akhirnya meninggal dunia. Jenazah Ratu Malang dan Kyai Dalem dimakamkan di Gunung Kelir, Bantul.

Sebelum proses pemakaman dilakukan, Sultan Amangkurat I bermimpi melihat Ratu Malang bersatu kembali dengan Kyai Dalem, suaminya. Mimpi ini mendorong sang sultan untuk memindahkan makam Ratu Malang agar berada dekat dengan makam suaminya.

Pada tahun 1668, kompleks pemakaman Ratu Malang dan Ki Dalem di Gunung Kelir selesai dibangun dan diberi nama antaka pura, yang berarti istana kematian. Tragedi kematian Ratu Malang ini memberikan dampak politik yang besar bagi Kerajaan Mataram.

Sultan Amangkurat I begitu terpukul dan berduka hingga mengabaikan urusan pemerintahan selama 4-5 tahun. Tragedi ini tercatat sebagai salah satu episode paling kelam dalam sejarah Kesultanan Mataram.

Penulis: Ade Yofi Faidzun

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya