Bocah SD di Indragiri Hulu Alami Pecah Usus Sebelum Meninggal, Akibat Penganiayaan?

Bocah SD yang mengalami penganiayaan di Indragiri Hulu meninggal dunia dengan kondisi usus pecah, Polisi sebut belum tentu karena pukulan.

oleh M SyukurDiperbarui 04 Juni 2025, 20:33 WIB
Konferensi pers dugaan kekerasan terhadap anak SD di Kabupaten Indragiri Hulu. (Liputan6.com/M Syukur)

Liputan6.com, Pekanbaru - Bidang Kedokteran dan Kesehatan serta Forensik Polda Riau telah menyelesaikan otopsi terhadap kematian anak berumur 8 tahun di Desa Siberida, Kecamatan Batang Gansal, Kabupaten Indragiri Hulu. Bocah itu sebelumnya mengalami penganiayaan dari kakak kelasnya.

Kasubbid Dokkes Polda Riau AKBP Supriyanto menjelaskan, autopsi korban diduga penganiayaan anak SD itu dilakukan pada 26 Mei di Rumah Sakit Indrasari. Bersama dokter Laboratorium Forensik, petugas menemukan sejumlah luka memar pada tubuh korban.

Luka memar terpada perut sebelah kiri. Selanjutnya memar pada paha serta resapan darah pada jaringan lemak bawah kulit karena kekerasan tumpul.

"Berikutnya kelainan pada usus, kebocoran usus pada perut kanan," jelas Supriyanto, Rabu siang, 4 Juni 2025.

Dokter menyimpulkan kematiannya disebabkan infeksinya sistemik pada rongga perut karena pecah usus buntu.

Sementara itu, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Riau Komisaris Besar Asep Darmawan menyatakan kematian korban lebih disebabkan pada infeksi usus buntu sistemik.

Asep tidak menutupi bahwa anak tersebut mengalami pemukulan ataupun penganiayaan. Hanya saja, polisi belum menyimpulkan apakah penganiayaan ini menyebabkan infeksi pada usus buntu.

"Kejadian ini masih dalam pengusutan oleh Polres Indragiri Hulu," kata Asep.

Sebelumnya, bocah 8 tahun di kabupaten tersebut mengalami penganiayaan oleh 5 kakak kelasnya pada 19 Mei 2025. Semuanya masih duduk di bangku sekolah dasar.

Anak tersebut mengeluh sakit kemudian dibawa ke tukang urut oleh keluarganya. Sehari setelah itu, anak meninggal dunia.

Kepolisian dan dokter juga belum bisa memastikan apakah pecah usus buntu pada korban karena pengobatan tradisional tersebut.

 

*** Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya