Liputan6.com, Bern - Pemerintah federal Swiss telah memberi lampu hijau kepada perusahaan pertahanan RUAG untuk menjual 71 unit tank Leopard 1 ke Jerman. Namun, ada satu syarat penting: tank-tank ini tidak boleh diteruskan ke Ukraina.
Informasi ini dilaporkan oleh Swissinfo, media nasional Swiss, dikutip dari laman militarnyi, Senin (2/6/2025).
Advertisement
Tank-tank tersebut saat ini berada di Italia. RUAG sendiri memiliki total 96 unit Leopard 1 yang dibeli dari Kementerian Pertahanan Italia pada tahun 2016.
Rencana penjualan ini sebenarnya sudah mencuat sejak 2023. Namun saat itu, pemerintah Swiss menolak permintaan penjualan ke Jerman karena khawatir kendaraan tempur tersebut akan digunakan sebagai bagian dari bantuan militer untuk Ukraina.
Penolakan itu merujuk pada undang-undang Swiss yang melarang pengiriman senjata dan peralatan militer ke negara yang sedang terlibat konflik bersenjata. Kebijakan ini merupakan bagian dari prinsip netralitas yang sudah lama dianut oleh Swiss.
Keputusan pemerintah tersebut sempat menimbulkan ketegangan di antara negara-negara mitra di Eropa. Beberapa negara mendesak Swiss agar lebih fleksibel menyikapi situasi geopolitik saat ini.
Menanggapi hal itu, RUAG kemudian mengajukan permohonan kepada Sekretariat Negara untuk Urusan Ekonomi (SECO) agar diizinkan melanjutkan penjualan.
Akhirnya, pada 28 Mei lalu, pemerintah Swiss menyatakan bahwa penjualan tank-tank itu tidak memerlukan lisensi khusus. Dalam hukum federal, Jerman termasuk negara yang dapat membeli peralatan militer dari Swiss tanpa izin tambahan.
Kebijakan Pembatasan dari Swiss
Meski demikian, pemerintah tetap menegaskan bahwa Leopard 1 yang dijual ke Jerman tidak boleh dikirim ulang ke Ukraina.
Kebijakan pembatasan ini ditegaskan kembali sebagai bagian dari komitmen Swiss terhadap netralitas dalam kebijakan luar negeri mereka.
Sementara itu, industri pertahanan Swiss menghadapi tantangan besar akibat kebijakan ekspor yang ketat. Pada Maret 2025, sejumlah perwakilan industri mengeluhkan bahwa mereka kehilangan peluang di tengah meningkatnya kebutuhan militer Eropa.
Jerman—yang selama ini menjadi pelanggan terbesar senjata Swiss—mulai mengecualikan perusahaan-perusahaan Swiss dari beberapa kontrak pengadaan. Hal serupa juga dilakukan oleh Denmark dan Belanda, yang menangguhkan sejumlah pemesanan.