Indonesia Deflasi 0,37 Persen di Mei 2025

kelompok pengeluaran penyumbang deflasi terbesar pada Mei 2025 adalah kelompok makanan minuman dan tembakau dengan deflasi sebesar 1,04 persen. Ini adalah deflasi ketiga di tahun ini. Ekonomi Indonesia dalam bahaya?

oleh Arief Rahman HDiperbarui 02 Juni 2025, 11:58 WIB
Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap bahwa Indonesia mengalami deflasi lima bulan beruntun. (merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,37 persen pada Mei 2025. Angka ini lebih rendah dari deflasi pada Mei 2024.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini menyampaikan deflasi tersebut imbas dari menurunnya indeks harga konsumen di Mei 2025.

"Pada Mei 2025 terjadi deflasi sebesar 0,37 persen secara bulanan atau terjadi penurunan indeks harga konsumen dari 108,47 pada April 2025 menjadi 108,07 pada Mei 2025," kata Pudji dalam Rilis Berita Resmi Statistik, Senin (2/6/2025).

Mengutip data BPS, ini menjadi deflasi ketiga selama 2025. Sebelumnya, terjadi deflasi pada Januari dan Februari 2025. Sedangkan, pada Maret dan April 2025 mengalami inflasi. BPS mencatat inflasi pada April 2025 sebesar 1,37 persen.

Adapun, kelompok pengeluaran penyumbang deflasi terbesar pada Mei 2025 adalah kelompok makanan minuman dan tembakau dengan deflasi sebesar 1,04 persen dan memberikan andil deflasi sebesar 0,41 persen.

"Adapun komoditas yang dominan mendorong deflasi pada kelompok ini adalah cabai merah, cabai rawit dan masing-masing memberikan andil deflasi sebesar 0,12 persen," tuturnya.

 

Bawang dan Ikan Segar

Penurunan daya beli dipengaruhi sejumlah faktor yaitu deflasi tiga bulan berturut-turut, menurunnya kinerja industri manufaktur. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Selanjutnya, Pudji menyampaikan komoditas lain yang juga memberikan andil deflasi pada kelompok ini adalah bawang merah dengan andil deflasi sebesar 0,09 persen. Kemudian ikan segar dengan andil deflasi sebesar 0,05 persen.

"Bawang putih dengan andil deflasi sebesar 0,04 persen dan daging ayam ras dengan andil deflasi sebesar 0,01 persen," tegasnya.

 

Neraca Dagang RI Suprlus

Petugas beraktivitas di area bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (29/10/2021). Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan neraca perdagangan Indonesia pada September 2021 mengalami surplus US$ 4,37 miliar karena ekspor lebih besar dari nilai impornya. (Liputan6.com/Angga

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2025 sebesar USD 160 juta. Hal ini memperpanjang catatan surplus neraca perdagangan selama 60 bulan berturut-turut.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini menyampaikan capaian positif tersebut per April 2025.

"Pada April 2025, neraca perdagangan barang mencatat surplus sebesar 0,16 miliar US dollar dan perdagangan Indonesia telah mencatat surplus selama 60 bulan berturut-turut sejak Mei 2020," kata Pudji dalam Rilis Berita Res Statistik, Senin (2/6/2025).

 

Ditopang Komoditas Non Migas

Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (14/4/2022). Kenaikan harga komoditas global di tengah perang Rusia-Ukraina tetap menjadi pendorong utama terjadinya surplus yang besar karena mendorong kinerja ekspor Indonesia. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Dia menjelaskan lebih lanjut, surplus neraca perdagangan RI ini ditopang paling besar dari komoditas non minyak dan gas bumi (migas). Besaran surplusnya mencapai USD 1,51 miliar

"Surplus pada April 2025 ini lebih ditopang oleh surplus pada komoditas non migas yaitu sebesar 1,51 miliar US Dollar," kata dia.

BPS mencatat komoditas penyumbang surplus utama non migas ini adalah Bahan bakar mineral atau HS 27, kemudian lemak dan minyak hewani atau nabati atau HS 15 serta besi dan baja atau HS 72.

 

Neraca Dagang Migas Defisit

Sementara itu, Pudji menyampaikan neraca perdagangan migas RI mengalami defsit USD 1,35 miliar.

Penyumbang defisit terbesar yakni komoditas hasil minyak dan minyak mentah.

"Pada saat yang sama, neraca perdagangan migas tercatat defisit 1,35 miliar US Dollar dengan komoditas penyumbang defisitnya adalah hasil minyak dan minyak mentah," terangnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya