Liputan6.com, Jakarta Harga emas dunia saat ini berada dalam fase konsolidasi yang sarat gejolak. Meskipun terus mempertahankan tren kenaikan bulanan, harga emas kini bergerak dalam kisaran yang sempit namun sangat fluktuatif.
Analis memperkirakan pola ini akan bertahan dalam beberapa bulan ke depan, seiring dengan masih berlangsungnya ketidakpastian ekonomi makro dan geopolitik global.
Advertisement
Dikutip dari Kitco, Senin (2/6/2025), Saat ini, harga spot emas berada di level USD3.292,81 per ons, turun hampir 2% selama sepekan terakhir. Namun, secara bulanan, emas masih mencatatkan kenaikan tipis, menandai lima bulan berturut-turut tren positif.
Di sisi lain, pasar berjangka menutup bulan Mei dengan pelemahan tipis sebesar USD2, menandai berakhirnya reli jangka pendek yang sebelumnya cukup kuat.
Meski pergerakan harga tampak netral, volatilitas pasar emas tetap berada di tingkat tinggi. Selama bulan Mei, harga emas mengalami fluktuasi intrabulan sebesar USD324,90 per ons turun dari rekor bulan April yang mencapai USD539,50, namun masih jauh di atas rata-rata 20 tahun yang berkisar di angka USD89. Tingginya volatilitas ini dianggap sebagai cerminan dari ketidakpastian kebijakan ekonomi dan fiskal Amerika Serikat.
Tanda Gejolak Harga Emas
Kepala Riset di Capitalight Research, Chantelle Schieven, menyatakan bahwa gejolak harga emas mencerminkan “kekacauan” dalam kebijakan pemerintah AS yang tidak konsisten.
“Tidak mengejutkan melihat volatilitas seperti ini di pasar emas. Ini mencerminkan ketidakpastian yang besar, terutama dari arah kebijakan pemerintah Amerika,” ujar Schieven, dikutipd ari Cointelegraph.com, Minggu (1/6/2025).
Schieven memperkirakan pasar emas akan tetap dalam pola bertahan selama musim panas, sementara para investor menunggu dampak penuh dari kebijakan dagang yang diambil Presiden Donald Trump.
“Pasar emas saat ini sedang menunggu. Harga akan bergerak naik lagi, tapi dampak kebijakan Trump baru akan terasa dalam enam hingga delapan bulan mendatang,” jelasnya.
Data Inflasi AS Pengaruhi Harga Emas
Sementara itu, data inflasi terbaru juga turut membentuk sentimen pasar. Indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti (Core PCE) indikator inflasi yang diawasi ketat oleh Federal Reserve menunjukkan kenaikan 2,5% dalam 12 bulan terakhir, menurun dari revisi Maret sebesar 2,7%. Meski demikian, ekspektasi inflasi satu tahun ke depan masih tinggi, tetap berada di atas 6%.
Menurut Eugenia Mykuliak, Pendiri dan Direktur Eksekutif B2PRIME Group, lonjakan harga emas sebesar hampir 60% sejak awal tahun 2024 dipicu oleh kombinasi faktor makroekonomi dan geopolitik.
“Faktor utama pendorong adalah ketidakpastian terhadap arah inflasi dan kebijakan moneter. Meskipun ada tanda-tanda disinflasi di awal tahun ini, kekhawatiran tentang tarif, kebijakan dagang, dan kesehatan fiskal AS menciptakan risiko stagflasi yang nyata,” ujar Mykuliak.
Potensi untuk menembus kembali rekor tertinggi USD3.500 per ons memang belum terlihat dalam waktu dekat. Namun, sejumlah analis meyakini bahwa harga emas masih memiliki ruang untuk kembali menguat, terutama menjelang dimulainya bulan perdagangan baru.
Ramalan Harga Emas
Salah satu pemicu utama volatilitas minggu ini adalah keputusan panel hakim federal AS yang membatalkan kebijakan tarif impor yang baru diberlakukan oleh Presiden Trump pada bulan lalu. Keputusan ini justru menambah lapisan baru dalam ketidakpastian perdagangan global. Para analis memperingatkan bahwa keputusan tersebut tidak akan menyelesaikan persoalan bahkan bisa memperparah ketegangan yang ada.
Kepala Riset Valuta Asing dan Komoditas di Commerzbank, Thu Lan Nguyen, menyatakan bahwa konflik dagang masih jauh dari kata selesai. “Trump masih memiliki peluang untuk menggugat keputusan ini atau mencari celah hukum lainnya. Artinya, ketidakpastian akan terus berlangsung, dan permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai (safe haven) akan tetap tinggi,” katanya.
Meskipun tidak ada tanda-tanda akan terjadinya tekanan jual besar-besaran, pasar juga belum menunjukkan minat beli yang agresif. Ricardo Evangelista, Analis Senior di ActivTrades, menilai bahwa sejumlah faktor tetap menjadi penopang harga.
“Ketidakpastian terkait tarif, meningkatnya ketegangan geopolitik, serta kekhawatiran terhadap prospek ekonomi global menjadi alasan utama mengapa tekanan turun terhadap harga emas masih sangat terbatas,” jelasnya.
"Dengan banyaknya ketidakpastian saat ini, status emas sebagai aset safe haven akan terus memberikan dukungan terhadap harga, terutama di kisaran USD 3.300,” tambah Evangelista.