Cuaca Hari Ini Minggu 1 Juni 2025: Jakarta dan Sekitarnya Berawan Tebal

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan, seluruh wilayah Jakarta pada siang hingga malam hari diperkirakan berawan tebal

oleh Nasrul FaizDiterbitkan 01 Juni 2025, 06:15 WIB
Pria main skateboard saat cuaca cerah di Jakarta, Selasa (1/12/2020). Kota Jakarta dengan langit biru menambah keindahan hutan beton. BMKG bahwa kualitas udara Jakarta jadi baik dalam dua minggu ini, Jakarta mengalami hujan dengan intensitas tinggi disertai angin kencang. (merdeka.com/Imam Buhori)

Liputan6.com, Jakarta - Cuaca pagi Jakarta hari ini, Minggu (1/6/2025) diprakirakan seluruh langitnya akan berawan tebal, tanpa terkecuali. Demikianlah prediksi cuaca hari ini.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan, seluruh wilayah Jakarta pada siang hingga malam hari juga diperkirakan berawan tebal

Kondisi serupa juga diprediksi terjadi di daerah penyangga ibu kota. Di Bekasi, Jawa Barat, cuaca dari pagi hingga malam diperkirakan tetap berawan tebal.

Hal yang sama berlaku untuk wilayah Depok dan Kota Bogor, Jawa Barat, yang langitnya juga akan diselimuti awan tebal sepanjang hari.

Sementara itu, cuaca di wilayah Tangerang, Banten diperkirakan berawan dari pagi hingga malam hari.

Berikut informasi prakiraan cuaca Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) selengkapnya yang dikutip Liputan6.com dari laman resmi BMKG www.bmkg.go.id:

 Kota  Pagi  Siang   Malam 
 Jakarta Barat  Berawan Tebal  Berawan Tebal   Berawan Tebal
 Jakarta Pusat   Berawan Tebal  Berawan Tebal  Berawan Tebal
 Jakarta Selatan   Berawan Tebal  Berawan Tebal  Berawan Tebal
 Jakarta Timur   Berawan Tebal  Berawan Tebal  Berawan Tebal
 Jakarta Utara   Berawan Tebal  Berawan Tebal  Berawan Tebal
 Kepulauan Seribu   Berawan Tebal  Berawan Tebal   Berawan Tebal
 Bekasi   Berawan Tebal  Berawan Tebal  Berawan Tebal
 Depok   Berawan Tebal  Berawan Tebal  Berawan Tebal
 Kota Bogor   Berawan Tebal  Berawan Tebal  Berawan Tebal
 Tangerang  Berawan  Berawan  Berawan

BMKG Prediksi Kemarau Basah hingga Agustus 2025

Adapun sektor yang paling terdampak dari fenomena El Nino adalah sektor pertanian, utamanya tanaman pangan semusim yang sangat mengandalkan air. Rendahnya curah hujan tentunya akan mengakibatkan lahan pertanian kekeringan dan dikhawatirkan akan mengalami gagal panen. (merdeka.com/Arie Basuki)

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan Indonesia akan mengalami fenomena kemarau basah hingga akhir Agustus 2025. Kondisi ini berbeda dengan kemarau normal yang ditandai dengan cuaca panas dan kering.

Kemarau basah ditandai dengan curah hujan yang masih tinggi meski sudah memasuki musim kemarau. Deputi Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan kondisi cuaca yang tidak biasa.

"Fenomena ini lebih umum disebut Kemarau Basah," kata Guswanto dikutip Rabu (28/5/2025).

Dia juga menambahkan, kemarau basah adalah fenomena cuaca yang tidak biasa, di mana musim kemarau yang biasanya kering dan panas, tetapi masih mengalami hujan atau kelembaban yang signifikan.

Lantas, apa saja yang menyebabkan terjadinya kemarau basah ini? Bagaimana dampaknya terhadap berbagai sektor di Indonesia? Berikut ulasan selengkapnya.

Durasi dan Persentase Wilayah Terdampak Kemarau Basah

Penetapan status siaga bencana kekeringan di Provinsi Banten diakibat musim kemarau berkepanjangan sebagai dampak dari fenomena El Nino. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

BMKG memprediksi kemarau basah akan berlangsung hingga akhir Agustus 2025. Persentase wilayah yang terdampak diperkirakan akan terus meningkat.

Pada Juni 2025, wilayah terdampak mencapai 56,54%, kemudian meningkat menjadi 75,38% pada Juli, dan mencapai puncaknya 84,94% pada Agustus. Setelah Agustus, Indonesia diperkirakan memasuki musim pancaroba (peralihan) hingga November, sebelum memasuki musim hujan pada Desember 2025 hingga Februari 2026.

Fenomena kemarau basah disebabkan oleh beberapa faktor utama. Suhu permukaan laut di sekitar Indonesia yang tetap hangat menjadi salah satu pemicu utama. Kondisi ini mendorong pembentukan awan dan hujan meskipun sedang musim kemarau. Selain itu, fenomena iklim global seperti La Niña dan Indian Ocean Dipole (IOD) negatif juga turut meningkatkan kelembapan udara di atmosfer.

Aktivitas gelombang atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, dan gelombang Rossby juga berperan dalam meningkatkan intensitas pembentukan awan hujan. Kombinasi dari faktor-faktor ini menyebabkan curah hujan tetap tinggi selama periode kemarau.

Dampak Kemarau Basah pada Sektor Pertanian

Kemarau basah berpotensi menimbulkan kerugian di sektor pertanian karena curah hujan yang tidak menentu. Meskipun hujan membantu tanaman musiman, intensitas hujan yang tinggi dapat merusak tanaman.

Petani perlu mewaspadai potensi gagal panen akibat cuaca ekstrem ini. Perubahan pola tanam dan pemilihan jenis tanaman yang lebih tahan terhadap curah hujan tinggi menjadi langkah adaptasi yang penting.

Selain sektor pertanian, kemarau basah juga berdampak pada sektor kesehatan. Meningkatnya risiko penyakit infeksi saluran pernapasan dan demam berdarah menjadi perhatian utama.

Populasi nyamuk yang bertambah akibat genangan air menjadi faktor pemicu penyebaran penyakit demam berdarah.

Masyarakat diimbau untuk menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan langkah-langkah pencegahan penyakit.

Aktivitas masyarakat juga dapat terganggu karena cuaca yang tidak menentu. Perencanaan kegiatan di luar ruangan perlu mempertimbangkan potensi hujan yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Informasi cuaca terkini dari BMKG menjadi panduan penting dalam beraktivitas.

Antisipasi dan Pengelolaan Dampak Iklim

Guswanto juga menambahkan, penting untuk melakukan antisipasi dan pengelolaan yang tepat untuk menghadapi potensi dampak iklim ini. Musim kemarau 2025 diprediksi lebih pendek karena beberapa faktor, meskipun ENSO (El Nino-Southern Oscillation) dalam kondisi normal.

Awal tahun 2025 diprediksi akan mengalami La Nina lemah, yang dapat meningkatkan curah hujan di beberapa wilayah Indonesia.

Suhu laut yang meningkat dapat mempengaruhi pola curah hujan, tetapi dalam kasus ini, tidak menyebabkan kemarau panjang karena kondisi ENSO yang netral. Sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi akan mengalami curah hujan normal hingga atas normal pada tahun 2025, sehingga musim kemarau tidak terlalu panjang.

Infografis 4 Anomali Cuaca Pemicu Potensi Cuaca Ekstrem di Indonesia. (Liputan6.com/Trieyasni)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya