Pasar Saham Asia Lesu Jelang Akhir Pekan, Ini Sentimennya

Berlawanan dengan wall street, bursa saham Asia Pasifik melemah pada perdagangan Jumat, (30/5/2025).

oleh Agustina MelaniDiperbarui 30 Mei 2025, 08:52 WIB
Ilustrasi bursa saham Asia (Foto by AI)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Asia Pasifik anjlok pada perdagangan Jumat (30/5/2025). Koreksi bursa saham Asia Pasifik seiring ekonomi Amerika Serikat (AS) yang melambat, ketakutan inflasi dan ketidakpastian dari perkembangan hukum seputar tarif timbal balik atau resiprokal Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trumo yang membebani sentimen investor.

Mengutip CNBC, Jumat pekan ini, Pengadilan Perdagangan Internasional AS memutuskan pada Rabu malam kalau Donald Trump telah melampaui kewenangannya ketika ia memberlakukan tarif “timbal balik”-nya. Pengadilan memerintahkan agar perintah tarif yang ditentang dibatalkan.

Namun, pemerintahan Trump mengajukan pemberitahuan banding tak lama setelah putusan tersebut dan pengadilan banding memberlakukan kembali pungutan tersebut pada Kamis sore.

Pemerintah mengatakan dapat meminta Mahkamah Agung (MA) paling cepat pada Jumat untuk menghentikan putusan awal pengadilan federal jika perlu.

Investor terus mencermati pembacaan inflasi inti Tokyo untuk April untuk menilai bagaimana hal itu dapat memengaruhi keputusan Bank of Japan apakah akan menaikkan suku bunga lagi tahun ini. Hal tersebut di tengah ketidakpastian tarif yang sedang berlangsung.

Angka itu mencakup biaya konsumen tidak termasuk makanan segar, diperkirakan naik 3,5%, menurut ekonom yang disurvei oleh Reuters, dibandingkan 3,4% bulan sebelumnya.

Indeks Nikkei 225 di Jepang mengawali hari dengan penurunan 1,55%. Sementara itu, indeks Topix yang turun 1%.

Di Korea Selatan, indeks Kospi melemah 0,4%, sedangkan indeks Kosdaq tergelincir 0,44%. Di Australia, indeks ASX 200 melemah 0,2%.

Sementara itu, indeks Hang Seng berjangka di Hong Kong berada di posisi 23.297, menunjukkan pembukaan lebih lemah dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi 23.573,38.

Kontrak berjangka Amerika Serikat (AS) sedikit berubah karena investor menunggu lebih banyak berita perdagangan dan data inflasi terbaru.

  

Bursa Saham Amerika Serikat

Ilustrasi wall street (Photo by Patrick Weissenberger on Unsplash)

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street menguat pada perdagangan Kamis, 29 Mei 2025. Indeks S&P 500 naik pada perdagangan Kamis pekan ini yang dipimpin kenaikan saham Nvidia.

Akan tetapi, kenaikan terbatas seiring investor bersikap hati-hati setelah serangkaian perkembangan hukum seputar tarif timbal balik Presiden AS Donald Trump.

Mengutip CNBC, indeks S&P 500 naik 0,4% menjadi 5.912,17. Indeks Nasdaq bertambah 0,39% ke posisi 19.175,87, jauh dari kenaikan intraday tertinggi sebesar 1,5%. Indeks Dow Jones bertambah 117,03 poin atau 0,28% dan berakhir di posisi 42.215,73.

Sementara itu, Pengadilan Perdagangan Internasional Amerika Serikat memutuskan pada Rabu malam kalau Trump melampaui kewenangannya saat ia memberlakukan tarif timbal balik atau resiprokal. Pengadilan memerintahkan agar perintah tarif yang ditentang dibatalkan.

Namun, pemerintahan Trump mengajukan pemberitahuan banding segera setelah putusan tersebut dan pengadilan banding memberlakukan kembali pungutan tersebut pada Kamis sore. Pemerintah mengatakan dapat meminta Mahkamah Agung paling cepat pada Jumat untuk menghentikan putusan awal pengadilan federal jika perlu.

 

Pasar Tak Suka Kepastian

Pasar Saham AS atau Wall Street.Unsplash/Aditya Vyas

Kebijakan pungutan Trump yang kadang-kadang tidak berlaku, serta ketakutan inflasi yang dipicu oleh prospek tarif, mengguncang pasar bulan lalu. Beberapa perusahaan juga telah menunjuk pada bea masuk saat mengurangi perkiraan mereka dan mencatat ketidakpastian seputar kebijakan perdagangan dan dampaknya pada konsumen.

"Secara umum, pasar tidak menyukai ketidakpastian, karena membuat perkiraan menjadi lebih sulit," kata Pendiri Blue Chip Daily, Larry Tentarelli.

"Kami memperkirakan siklus berita tarif akan menjadi proses yang panjang, yang dapat menyebabkan volatilitas jangka pendek yang lebih tinggi,” ia menambahkan.

Namun, saham Nvidia memberikan momentum pasar yang meningkat dengan lonjakan lebih dari 3%. Pembuat chip tersebut melampaui ekspektasi pada laba bersih dan laba kotor pada kuartal pertama, karena bisnis pusat datanya mencatat pertumbuhan tahun-ke-tahun sebesar 73%.

Laporan Nvidia yang kuat "dapat menyegarkan optimisme investor secara menyeluruh dan membantu investor untuk fokus pada kekuatan AI dan lebih sedikit pada berita utama dari Washington tentang tarif dan pajak," kata Chief Investment Officer Main Street Research, James Demmert.

 

 

 

Infografis Efek Donald Trump Menang Pilpres AS ke Perekonomian Global. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya