Liputan6.com, Jakarta - Makin mendekati puncak haji, kota Makkah makin dipadati jemaah haji dari seluruh dunia. Pergerakan jemaah dari dan ke Masjidil Haram pun makin ramai dan sibuk. Hal itu berimbas pada antrean naik turun penumpang bus shalawat yang makin panjang.
"Untuk menghindari kepadatan antrean di halte dan terminal bus shalawat, jemaah agar menyesuaikan waktu keberangkatan dari hotel maupun waktu kepulangan dari Masjidil Haram dengan menggunakan bus shalawat," kata Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Muchlis M Hanafi di Makkah, Kamis (29/5/2025), dalam rilis yang diterima Liputan6.com.
Advertisement
Ia pun membagikan tipsnya. Pertama, datang lebih awal agar bisa salat di dalam masjid.
"Hindari potensi kemungkinan penutupan terminal dan potensi salat di luar masjid dengan risiko kepanasan," sambungnya.
Berdasarkan pantauan Liputan6.com di lapangan, akses masuk ke Masjidil Haram sudah mulai disekat sekitar sejam sebelum waktu salat. Pola penyekatan terjadi acak, melihat kondisi kepadatan jemaah haji yang akan masuk Masjidil Haram.
Dengan penyekatan tersebut, jemaah diarahkan berputar menuju pintu masuk masjid yang terbuka. Proses itu bahkan bisa memakan waktu lebih dari setengah jam sebelum kami bisa memasuki area dalam masjid.
Jangan Buru-Buru Pulang
Terkait hal itu pula, Muchlis mengimbau jemaah untuk tidak langsung pulang begitu selesai shalat. Ia menyarankan selama menunggu kepadatan antrean bus shalawat terurai, jemaah bisa berzikir atau memaksimalkan waktu dengan beribadah di Masjidil Haram.
Jangan lupa untuk membawa camilan atau bekal makanan secukupnya. Itu untuk mengganjal perut sementara tanpa perlu ke luar area dalam masjid.
Untuk asupan cairan, tersedia titik pengisian air zamzam di banyak tempat. Walau tersedia gelas plastik, akan lebih memudahkan bila Anda membawa tumbler agar tak sering bolak-balik mengantre zamzam.
Jemaah Diimbau Salat Jumat di Hotel Jelang Armuzna
Sementara itu, Kabid Transportasi PPIH 2025 Mujib Roni menyarankan agar jemaah haji Indonesia melaksanakan salat Jumat di masjid dekat hotel atau di musala hotel pada Jumat, 30 Mei 2015. Imbauan itu untuk mencegah kelelahan akibat padatnya Masjidil Haram jelang puncak haji.
"Kita berkaca pada pengalaman tahun kemarin. Bahwa jam 7 pagi itu biasanya layanan transportasi umum, termasuk layanan yang kita berikan yakni layanan bus Shalawat itu sudah harus dihentikan," ujarnya di kesempatan berbeda.
Mujib mengatakan saat ini hampir seluruh jemaah haji dari berbagai negara sudah tiba di Makkah. Dia mengatakan hal itu membuat situasi di Masjidil Haram bakal lebih padat saat salat Jumat.
Dia mengatakan pembatasan bus shalawat dan transportasi umum ke Masjidil Haram akan membuat jemaah kesulitan. Kondisi itu dikhawatirkan membuat jemaah harus menunggu sejak pagi hingga sore di Masjidil Haram dan berpotensi kelelahan.
Tunggu Keputusan Otoritas Arab Saudi
Dia mengatakan PPIH masih menunggu informasi detail soal pembatasan transportasi besok dari otoritas Arab Saudi. Dia berharap jemaah haji mengutamakan kesehatan.
"Biasanya kalau jam 7 pagi itu ditutup paling nanti menjelang ashar baru dibuka. Itu waktu yang cukup lama. Sehingga kalaupun jemaah tetap memaksa, satu kalau tidak mau menggunakan layanan umum yang tersedia lainnya mungkin taksi atau apa berarti kan jemaah harus berjalan kaki dan itu mengeluarkan energi yang luar biasa," tuturnya.
Sebelumnya, layanan bus shalawat akan berhenti beroperasi sementara mulai 5 Dzulhijjah hingga 13 Dzulhijjah 1446 H atau pada 1--8 Juni 2025. Hal itu bertujuan agar jemaah haji fokus menyiapkan diri untuk pelaksanaan puncak haji di Armuzna.
Jemaah haji Indonesia akan diberangkatkan ke Arafah untuk wukuf mulai 4 Juni 2025. Wukuf akan dilaksanakan pada 5 Juni 2025.
Setelah itu, jemaah akan melaksanakan mabit di Muzdalifah dan Mina. Jemaah juga harus melempar jumrah pada 6-9 Juni 2025.
Imbauan Arab Saudi
Sebelumnya, Ketua PPIH menyampaikan sembilan imbauan penting dari Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi kepada seluruh petugas dan jemaah haji Indonesia jelang puncak ibadah haji di Arafah-Muzdalifah-Mina (Armuzna). Imbauan disampaikan dalam rapat koordinasi yang berlangsung pada Selasa, 27 Mei 2025.
Salah satunya soal larangan jemaah haji keluar dari tenda Arafah dan Mina pada pukul 10 sampai 16 WAS karena suhu diperkirakan akan mencapai 50 derajat celcius. "Jadi, imbauan ini dikeluarkan untuk menjaga keselamatan dan kesehatan seluruh jemaah," katanya dalam jumpa pers di Makkah, Rabu, 28 Mei 2025.
Berikutnya, kedisiplinan dalam pergerakan Armuzna. Ia menekankan bahwa jemaah harus mengikuti jadwal pergerakan resmi sesuai syarikahnya masing-masing. "Jadi, dilarang bergerak sendiri-sendiri yang tidak sesuai penempatannya," sambungnya.