Rapor AC Milan Akhir Musim 2024/2025: Penuh Gejolak, 1 Trofi Juara, Gagal ke Eropa

Datangnya Paulo Fonseca sempat diharapkan menjadi titik balik. Namun, kepercayaan itu sirna lebih cepat dari yang diduga.

oleh Gia Yuda PradanaDiperbarui 27 Mei 2025, 11:48 WIB
Pemain AC Milan, Rafael Leao, tak mampu menahan air mata saat timnya ditaklukkan Lazio dalam laga giornata 27 Serie A 2024/2025 yang digelar di San Siro, Senin (3/3/2025) dini hari WIB. (AP Photo/Antonio Calanni)

Liputan6.com, Jakarta AC Milan memulai musim 2024/2025 dengan ambisi membara. Setelah finis sebagai runner-up Serie A musim lalu di bawah Stefano Pioli, ekspektasi publik meningkat—meskipun tak ada trofi yang berhasil dibawa pulang dari Coppa Italia dan Liga Europa.

Datangnya Paulo Fonseca sempat diharapkan menjadi titik balik. Namun, kepercayaan itu sirna lebih cepat dari yang diduga. Pada penghujung Desember, Fonseca didepak. Sang kompatriot dari Portugal, Sergio Conceicao, diangkat sebagai juru selamat.

Musim ini, Milan memang sedikit lebih baik secara pencapaian trofi dengan gelar Supercoppa Italiana. Mereka juga dominan dalam lima Derby della Madonnina. Namun, di balik semua itu, kegagalan lolos ke kompetisi Eropa menegaskan bahwa musim ini tetap musim yang gagal.


Performa AC Milan di Kompetisi Domestik: Euforia yang Singkat

Para pemain AC Milan merayakan kemenangan dalam pertandingan semifinal Supercoppa Italiana antara Juventus dan AC Milan di Taman Al-Awwal di Riyadh, Sabtu dini hari WIB (4-1-2025). (Fayez NURELDINE/AFP)

Kedatangan Sergio Conceicao membawa gelombang semangat baru. Debutnya diwarnai kemenangan atas Juventus di semifinal Supercoppa Italiana, lalu disambung dengan kemenangan atas Inter Milan di final. Trofi juara pun jatuh ke tangan Rossoneri.

Performa impresif itu berlanjut ke Coppa Italia. Milan menyingkirkan AS Roma dan kembali menekuk Inter untuk mencapai final. Namun, trofi kedua gagal diraih setelah tumbang 0-1 dari Bologna—kekalahan yang menyakitkan karena membawa konsekuensi besar.

Coppa Italia sejatinya menjadi tiket paling realistis ke Liga Europa karena posisi di liga jauh dari harapan. Saat peluang itu sirna, mimpi tampil di Eropa pun menguap. Di Serie A, Milan terseok dan akhirnya finis di peringkat delapan.


Performa di Liga Champions: Pupus sebelum Fase Gugur

Santiago Gimenez merayakan gol AC Milan dalam laga leg kedua playoff Liga Champions melawan Feyenoord di San Siro, Rabu (19/2/2025) dini hari WIB. (c) AP Photo/Luca Bruno

Di Liga Champions, Milan kembali mencicipi format baru fase liga. Namun, langkah mereka tersandung sejak awal. Dua kekalahan dari Liverpool dan Bayer Leverkusen membuka rangkaian hasil yang membuat tifosi gelisah.

Milan sempat bangkit. Lima kemenangan beruntun, termasuk kejutkan Real Madrid di Bernabeu, membawa mereka naik ke posisi menengah. Sayangnya, kekalahan terakhir dari Dinamo Zagreb membuat mereka finis di posisi ke-13, memaksa jalani play-off fase gugur.

Petaka datang di babak play-off. Melawan Feyenoord, Milan gagal mencetak keajaiban. Agregat 1-2 memastikan langkah mereka terhenti. Musim Eropa yang sempat menggugah akhirnya berakhir mengecewakan.

Lanjut Baca:

Christian Pulisic menjadi titik terang dalam musim penuh ketidakpastian ini. Winger asal Amerika Serikat mencetak 11 gol dan sembilan assist di Serie A, serta berkontribusi di Liga Champions dengan satu gol dan satu assist. Konsistensinya patut diapresiasi. Lain cerita dengan Santiago Gimenez. Penyerang anyar yang didatangkan dari Feyenoord pada tengah musim sempat bersinar di awal, tapi meredup seiring waktu. Performa inkonsisten dan paceklik gol membuatnya kehilangan tempat di tim utama. Momen paling pahit terjadi di laga kontra Roma. Selain kalah 1-3, Milan juga harus bermain tanpa Gimenez yang dikartu merah. Kekalahan itu memastikan Rossoneri gagal ke Eropa lewat jalur liga—penutup ironi yang getir.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya