Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi pada pekan lalu yang didorong oleh berbagai faktor seperti ketegangan geopolitik, dinamika fiskal Amerika Serikat (AS), dan rilis data ekonomi yang beragam. Harga emas dunia pekan ini diperkirakan masih dalam tekanan.
Analis Senior Dupoin Futures Indonesia Andy Nugraha menjelaskan, pada pekan lalu harga emas sempat melonjak tajam setelah Presiden Donald Trump mengumumkan rencana pemotongan pajak yang diperkirakan akan menambah utang nasional hingga USD 3,8 triliun dalam satu dekade.
Advertisement
Kebijakan fiskal tersebut turut mendorong lembaga pemeringkat Moody’s menurunkan peringkat kredit pemerintah AS. Pasar menilai langkah ini sebagai sinyal meningkatnya risiko fiskal, sehingga mendorong investor kembali pada emas sebagai aset lindung nilai (safe haven).
Sementara itu, eskalasi ketegangan di Timur Tengah dan hubungan dagang AS-China terus menjadi katalis positif bagi permintaan emas.
"Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, arus modal mengalir ke aset-aset aman seperti logam mulia," jelas dia dalam keterangan tertulis, Senin (26/5/2025).
Di sisi lain, data PMI manufaktur dan jasa AS yang membaik pada bulan Mei menekan harga emas secara jangka pendek, karena memunculkan optimisme terhadap pemulihan ekonomi AS.
Sentimen pasar pun terbelah antara harapan akan stabilitas ekonomi dan kekhawatiran terhadap keberlanjutan fiskal.
Prediksi Pekan Ini
Untuk pekan ini, Andy memproyeksikan harga emas dunia masih berpotensi melanjutkan pelemahan hingga ke kisaran USD 3.070, terutama jika sentimen risk-on kembali mendominasi dan Dolar AS menguat.
"Skenario ini bisa terealisasi apabila data ekonomi AS yang akan dirilis menunjukkan penguatan lebih lanjut, yang dapat menunda ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed," kata dia.
Namun, peluang rebound tetap terbuka jika harga mampu menembus resistance kunci di USD 3.405. Jika level ini dilewati, maka harga emas dunia berpotensi menguat hingga ke USD 3.500, terutama jika dipicu oleh eskalasi geopolitik atau pelemahan signifikan pada Dolar AS.
"Arah kebijakan fiskal pasca pengesahan RUU pajak juga akan menjadi fokus pasar, karena berpotensi memperburuk persepsi terhadap stabilitas keuangan pemerintah AS," ungkap Andy.
Ketidakpastian Global
Secara keseluruhan, meskipun tekanan teknikal jangka pendek masih membayangi, Andy menilai prospek jangka menengah emas tetap positif. Hal ini didukung oleh tingginya permintaan investor serta ketidakpastian global yang belum menunjukkan tanda mereda.
Para trader disarankan untuk mencermati sinyal reversal maupun breakout sebagai potensi katalis arah harga selanjutnya.