De Bruyne dan Trent: Dua Kreator Terbaik yang Tinggalkan Premier League

Premier League sebentar lagi akan kehilangan dua pemain paling berbahaya dalam urusan umpan: Kevin De Bruyne dan Trent Alexander-Arnold. De Bruyne dikabarkan akan hengkang dari Manchester City, sementara Alexander-Arnold hampir pasti bergabung dengan Real Madrid.

oleh Richard Andreas LuturmasDiperbarui 25 Mei 2025, 03:00 WIB
Gelandang Manchester City, Kevin De Bruyne melambaikan tangan kepada para pendukung saat ia meninggalkan lapangan di akhir pertandingan terakhirnya bersama The Citizens selama pertandingan sepak bola Liga Premier Inggris 2024/2025 melawan Bournemouth di Stadion Etihad, Manchester, Inggris, pada 20 Mei 2025. (Paul ELLIS/AFP)

Liputan6.com, Jakarta Ketika berbicara soal skill di sepak bola, yang sering terbayang adalah gocekan, trik, atau ketenangan dalam tekanan. Namun sesungguhnya, kemampuan paling esensial adalah akurasi dalam mengumpan dan mengubah peluang biasa menjadi gol.

Dalam konteks itu, Premier League sebentar lagi akan kehilangan dua pemain paling berbahaya dalam urusan umpan: Kevin De Bruyne dan Trent Alexander-Arnold. De Bruyne dikabarkan akan hengkang dari Manchester City, sementara Alexander-Arnold hampir pasti bergabung dengan Real Madrid.

Dua pemain ini bukan hanya piawai dalam mengirimkan bola ke kotak penalti, tapi juga telah mengubah cara kita melihat kreativitas di lapangan. Kepergian mereka akan menyisakan lubang besar dalam kualitas distribusi bola di liga.


Dominasi Statistik dan Nilai Tambah dalam Umpan

Trent Alexander-Arnold, bek kanan, gelandang Liverpool. (Bola.com/liverpoolfc.com)

Secara statistik, De Bruyne adalah raja assist Premier League selama satu dekade terakhir. Alexander-Arnold, meski seorang bek kanan, berada di posisi empat besar sejak jadi starter reguler pada 2018.

Pemain seperti Mohamed Salah dan Son Heung-min juga masuk daftar assist tertinggi, namun kontribusi mereka lebih banyak dari sisi penyelesaian akhir.

Umpan-umpan mereka cenderung sederhana, tidak seperti De Bruyne dan Alexander-Arnold yang mampu menciptakan peluang dari situasi tidak berbahaya.

Kedua pemain ini bisa mengubah bola dari area netral menjadi peluang emas hanya dengan satu sentuhan. Itu bukan sekadar soal teknik, tapi juga kecerdasan membaca ruang dan pergerakan rekan.


Kreativitas Sejati Melebihi Kemampuan Set-Piece

Kevin De Bruyne resmi menutup karier panjangnya bersama Manchester City di Stadion Etihad, Manchester, Inggris, pada 20 Mei 2025. (Paul ELLIS/AFP)

James Ward-Prowse dikenal sebagai pengambil bola mati ulung, namun kontribusinya dalam permainan terbuka masih terbatas. De Bruyne dan Alexander-Arnold justru mampu menciptakan variasi umpan spektakuler di segala situasi.

Mereka bisa melepaskan umpan silang tajam, switch ke sisi berlawanan, hingga cutback mendekati garis gawang. Hebatnya, meski dominan dengan kaki kanan, keduanya juga fasih menggunakan kaki kiri.

Kombinasi visi dan presisi ini jarang dimiliki pemain lain di Premier League saat ini. Mereka bukan hanya kreator, tapi juga inovator dalam distribusi bola.


Evolusi Taktik Lewat Peran Unik di Lapangan

Trent Alexander-Arnold mendapat cemoohan dari pendukung Liverpool ketika bersua Arsenal pada laga pekan ke-36 Premier League di Stadion Anfield, Minggu (11/5/2025) malam WIB. (AP Photo/Jon Super)

De Bruyne adalah pelopor posisi "free eight" dalam sistem Pep Guardiola, beroperasi di antara garis vertikal dan horizontal lawan. Posisi ini membuatnya sulit dijaga karena terus bergerak di ruang antar pemain.

Lanjut Baca:

Manchester City menyempurnakan skema ini dengan memainkan winger kaki kiri di kanan untuk membuka ruang bagi De Bruyne. Salah satu contoh nyata adalah saat dia memberi assist ke Haaland dalam kemenangan krusial atas Tottenham. Alexander-Arnold pun berevolusi dari bek kanan menjadi semacam deep-lying playmaker. Perpindahannya ke tengah lapangan membuka dimensi baru dalam permainan Liverpool.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya