Daftar 22 Negara Desak Israel Izinkan Bantuan Masuk Gaza yang Dilanda Kelaparan

"Masyarakat Gaza harus menerima bantuan yang sangat mereka butuhkan," demikian pernyataan 22 negara yang mendesak Israel untuk mengizinkan bantuan masuk di tengah kelaparan yang melanda.

oleh Tanti YulianingsihDiterbitkan 20 Mei 2025, 19:03 WIB
Anggota parlemen Italia dan Eropa memegang plakat selama protes di depan sisi Mesir dari perbatasan Rafah, menyerukan diakhirinya perang dan agar bantuan diizinkan masuk ke Jalur Gaza, 18 Mei 2025. (AFP)

Liputan6.com, Gaza - Sebanyak 22 negara, termasuk Australia, Inggris, Prancis, dan Jerman, pada Senin (19/5) menyerukan Tel Aviv untuk segera mengizinkan bantuan kemanusiaan penuh masuk ke Gaza di tengah ancaman kelaparan akibat blokade Israel.

Menteri luar negeri negara-negara donor utama tersebut—yang juga mencakup Jepang dan Selandia Baru—menyatakan, "Meski kami mengakui tanda-tanda dimulainya kembali bantuan secara terbatas, Israel memblokir bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza selama lebih dari dua bulan."

Pernyataan itu menegaskan bahwa "makanan, obat-obatan, dan pasokan penting telah habis" dan "penduduk menghadapi kelaparan."

"Masyarakat Gaza harus menerima bantuan yang sangat mereka butuhkan," tambah pernyataan tersebut seperti dikutip dari The Daily Sabah, Selasa (20/5/2025).

Pernyataan bersama ini dirilis saat PBB menyatakan hanya sembilan truk bantuan yang diizinkan masuk ke Gaza, yang mereka sebut drop in the ocean (setetes di lautan) di tengah krisis kemanusiaan di wilayah tersebut.

Pernyataan para donor juga secara tegas menolak rencana Israel yang dilaporkan ingin mengganti sistem distribusi bantuan sebelumnya di Gaza. Mereka menuntut Israel "memungkinkan PBB dan organisasi kemanusiaan bekerja secara independen dan tidak memihak untuk menyelamatkan nyawa."

 

Dukungan untuk Gaza dan Sanksi untuk Israel

Diketahui sejak 2 Maret 2025, pemerintah Israel memblokade masuknya seluruh pengiriman bantuan kemanusiaan ke wilayah Gaza. (Bashar TALEB/AFP)

Pernyataan tersebut ditandatangani oleh Australia, Kanada, Denmark, Estonia, Finlandia, Prancis, Jerman, Islandia, Irlandia, Italia, Jepang, Latvia, Lituania, Luksemburg, Belanda, Selandia Baru, Norwegia, Portugal, Slovenia, Spanyol, Swedia, dan Inggris.

Dukungan juga datang dari Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa (UE) Kaja Kallas, Komisioner UE untuk Manajemen Krisis Hadja Lahbib, serta Komisioner untuk Mediterania Dubravka Šuica.

Sementara itu, Inggris, Prancis, dan Kanada mengancam akan mengambil "tindakan konkret" terhadap Israel, termasuk sanksi, atas aktivitasnya di Gaza dan Tepi Barat.

Pernyataan bersama pada Senin (19/5) secara keras mengkritik keputusan Israel yang hanya mengizinkan bantuan "dasar" dalam jumlah terbatas ke Gaza setelah hampir tiga bulan blokade, yang dinilai "sangat tidak memadai." Mereka juga menyerukan Israel menghentikan aksi militer baru yang "kejam" di Gaza dan segera membuka akses bantuan kemanusiaan.

Pernyataan ini muncul tak lama setelah Israel dan PBB menyatakan beberapa truk bantuan pertama telah masuk Gaza—yang oleh Kepala Kemanusiaan PBB digambarkan sebagai "setetes di lautan dari yang sangat dibutuhkan."

Ketiga negara tersebut - Inggris, Prancis, dan Kanada - menegaskan bahwa mereka selalu mendukung hak Israel untuk membela diri dari terorisme, tetapi menyebut eskalasi saat ini tidak proporsional.

Daftar Lengkap 22 Negara Desak Israel Izinkan Bantuan Masuk Gaza

Sementara itu, di wilayah Gaza selatan, militer Israel menyerukan evakuasi bagi warga Palestina di sekitar kota Khan Yunis menjelang apa yang disebut sebagai serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. (Bashar TALEB/AFP)
  1. Australia
  2. Kanada
  3. Denmark
  4. Estonia
  5. Finlandia
  6. Prancis
  7. Jerman
  8. Islandia
  9. Irlandia
  10. Italia
  11. Jepang
  12. Latvia
  13. Lituania
  14. Luksemburg
  15. Belanda
  16. Selandia Baru
  17. Norwegia
  18. Portugal
  19. Slovenia
  20. Spanyol
  21. Swedia
  22. Inggris
Infografis Bencana Kelaparan Mendera Warga Gaza. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya