Liputan6.com, Jakarta - Ada sisi lain yang menarik perhatian dari kedatangan Mbah Sumbuk pada Minggu, 18 Mei 2025, yaitu kehadiran bus khusus yang dilengkapi lift hidrolik mini. Dengan fitur tersebut, jemaah haji lansia dan disabilitas yang memerlukan bantuan kursi roda bisa masuk ke dalam bus tanpa perlu digotong oleh petugas.
Lift hidrolik itu berada di samping badan bus, terletak di antara pintu masuk depan dan belakang. Secara perlahan, kursi roda didorong ke atas lift untuk kemudian diangkat ke atas menuju pintu masuk khusus yang dibuka dengan tinggi sekitar 1 meter dan lebar 60 cm.
Advertisement
Pendorong kursi perlu sedikit merunduk agak bisa masuk ke dalam lalu menggesernya agar posisi sejajar dengan kursi penumpang lain. Kursi rodanya kemudian dikunci agar tetap aman saat bus melaju menuju hotel tempatnya menginap di Makkah.
Bus khusus itu kembali digunakan untuk memobilisasi 30 jemaah haji lansia dari Kloter Palembang (PLM) 13. Setelah dibariskan rapi dari paviliun, para lansia yang duduk di kursi roda kemudian didorong mendekat ke arah bus yang sudah berjaga. Satu per satu mereka masuk dengan kursi roda sebelum dipindahkan ke kursi penumpang biasa.
Digunakan Sejak Tahun Lalu
Kepala Operasi Al Wukalla, perusahaan pengelola bandara, Abdullah Abuzaid mengatakan pihaknya menyiapkan bus tersebut agar memudahkan mereka yang terbatas geraknya, lebih mudah bergerak masuk ke dalam bus.
"Kami gembira hari ini bisa melayani masyarakat dari Indonesia, alhamdulillah. Seluruh 30 orang dengan keterbatasan, kami mampu memindahkannya, bergerak dari pintu menuju bus menggunakan bus spesial kami. Kami membuatnya mudah, sangat sederhana untuk mereka dan berdoa supaya mereka menjadi haji mabrur," kata Abdullah kepada Media Center Haji, Minggu malam, 18 Mei 2025.
Kepala Daker Bandara PPIH Arab Saudi Abdul Basir mengaku penggunaan bus khusus tersebut di Bandara Jeddah sudah dari tahun lalu. Ia mengapresiasi pihak Arab Saudi, baik Kementerian Haji dan Umrah maupun Wukalla, terkait penyediaan fasilitas tersebut.
"Kita harus berikan apresiasi luar biasa dan terima kasih kepada pemerintah arab saudi, khususnya Kementerian Haji dan Wukalla, yang memberikan layanan terbaik kepada jamaah kita, sehingga jemaah merasa terlayani sebaik-baiknya, dan itu juga demi keselamatan dan kenyamanan jemaah haji lansia dan disabilitas," ujarnya.
Pelayanan Khusus untuk Jemaah Lansia Tanpa Pendamping
Pada tahun ini, komposisi jemaah lansia haji reguler Indonesia mencapai 37 persen. Terkait layanan, Kasie lansia, disabilitas, dan PKP2JH, Didit Sigit Kurniawan, di Madinah, Jumat, 16 Mei 2025, menjelaskan bahwa pihaknya memberikan perhatian khusus terhadap jemaah lansia yang tidak bersama keluarganya, sepanjang hari.
"Kegiatan yang dilakukan seperti memandikan, memberikan makan, serta memberikan bantuan jemaah tersebut ke tempat ibadah yang menggunakan kursi roda," ia menerangkan.
Mekanisme pelayanan untuk jemaah lansia dimulai saat masuk ke hotel. Petugas haji akan menanyai apakah mereka didampingi keluarga/kerabat atau tidak. Setelah terpetakan lansia tanpa pendamping, barulah layanan diberikan, khususnya lansia dengan kategori khusus.
"Misalkan jemaah tersebut sepertinya sakit, pasca stroke, yang tidak bisa melakukan anggota tubuhnya untuk makan, maka kita berikan bantuan untuk makan," ujarnya.
Menurut data Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) hingga Senin (19/5/2025) pukul 13.20 Waktu Arab Saudi (WAS), sebanyak 119.633 jemaah calon haji tiba di Tanah Suci, dengan 25.887 di antaranya merupakan lanjut usia. Dari jumlah tersebut, 73.108 orang telah tiba di Makkah, baik dari Madinah maupun dari Jeddah.
Jemaah Haji Diminta Disiplin Pakai Masker
Dalam kesempatan berbeda, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengimbau seluruh jemaah haji Indonesia agar mewaspadai penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang menjadi keluhan terbanyak selama pelaksanaan ibadah haji tahun ini. Hingga hari ini, Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) di Daerah Kerja Makkah dan Madinah mencatat 7.957 kasus ISPA menimpa jemaah.
Kepala Bidang Kesehatan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, dr. Mohammad Imran, MKM, menjelaskan bahwa peningkatan kasus ISPA dipicu oleh tingginya kepadatan jemaah di area seperti Thawaf, Sa’i, dan terminal bus, serta suhu ekstrem yang saat ini berkisar pada 42--46 derajat Celcius di Makkah Al Mukarromah.
"Situasi ini menjadi faktor risiko utama penularan penyakit ISPA," ujar Imran dalam konferensi pers di Media Center Haji (MCH) Daker Makkah, Senin (19/5/2025). Ia juga menyebutkan bahwa hingga saat ini, sebanyak 115.727 jemaah haji Indonesia telah tiba di Makkah, dan sekitar 80 persen di antaranya tergolong kelompok berisiko tinggi (risti), termasuk lanjut usia dan penderita penyakit penyerta.
Untuk mencegah kondisi memburuk, jemaah kelompok risti diimbau untuk selalu menggunakan masker saat beraktivitas di luar hotel atau di tempat keramaian, terutama mereka yang mengalami gejala flu, batuk, atau pilek.