Harga Minyak Mentah naik 2% Pekan Ini, Simak Pendorongnya

Badan Energi Internasional memproyeksikan surplus untuk tahun depan, meskipun ada sedikit revisi ke atas dari perkiraan permintaan minyak global tahun 2025 sebesar 20.000 barel per hari.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 17 Mei 2025, 08:30 WIB
Jika dihitung secara mingguan, harga minyak mentah Brent dan AS naik lebih dari 2%. Ilustrasi harga minyak dunia hari ini (Foto By AI)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak mentah naik lebih dari 1% pada perdagangan hari Jumat, membukukan kenaikan mingguan kedua berturut-turut. Kenaikan harga minyak mentah ini didorong oleh meredanya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dengan China.

Mengutip CNBC, Sabtu (17/5/2025), harga minyak mentah Brent naik 88 sen atau 1,36% dan ditutup pada USD 65,41 per barel. Sedangkan harga minyak mentah West Texas Intermediate AS naik 87 sen atau 1,41% ditutup pada USD 62,49 per barel.

Kedua patokan harga minyak dunia ini turun lebih dari 2% pada sesi sebelumnya menyusul aksi jual karena prospek kesepakatan nuklir Iran.

Jika dihitung secara mingguan, harga minyak mentah Brent dan AS naik lebih dari 2%.

Presiden AS Donald Trump mengatakan Amerika Serikat hampir mencapai kesepakatan nuklir dengan Iran, Pemerintah Teheran telah menyetujui persyaratan yang diajukan oleh Pemerintah Washington.

Namun, berdasarkan keterangan salah seorang sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut mengatakan masih ada masalah yang harus diselesaikan antara keduanya.

Analis ING menulis dalam sebuah catatan bahwa kesepakatan nuklir yang mencabut sanksi akan meredakan risiko pasokan, yang memungkinkan Iran meningkatkan produksi minyak dan menemukan lebih banyak pembeli yang bersedia membeli minyaknya.

Hal itu dapat menghasilkan pasokan tambahan sekitar 400.000 barel per hari.

 

Kesepakatan AS dan China

Ilustrasi harga minyak dunia (dok: Foto AI)

Meskipun ada potensi tekanan pasokan, baik Brent maupun WTI naik 0,6% sejauh minggu ini.

Sentimen meningkat setelah AS dan China, dua konsumen dan ekonomi minyak terbesar di dunia, sepakat untuk menghentikan sementara perang dagang mereka selama 90 hari, di mana kedua belah pihak akan menurunkan bea masuk perdagangan secara drastis.

Tarif timbal balik yang besar antara Tiongkok dan AS telah menimbulkan kekhawatiran akan pukulan telak terhadap pertumbuhan global dan permintaan minyak.

Analis di BMI, unit dari Fitch Solutions, mempertahankan perkiraan mereka untuk Brent pada harga rata-rata USD 68 per barel pada tahun 2025 dan USD 71 per barel pada 2026, turun dari USD 80 per barel pada tahun 2024, dengan alasan ketidakpastian kebijakan perdagangan terhadap prospek harga.

"Meskipun periode pendinginan selama 90 hari membuka peluang untuk kemajuan tambahan dalam menurunkan hambatan perdagangan di kedua belah pihak, ketidakpastian pada kebijakan perdagangan jangka panjang akan membatasi kenaikan harga," kata analis dalam sebuah laporan penelitian.

Yang menambah kekhawatiran pasar adalah surplus yang diharapkan.

Proyeksi Badan Energi Internasional

Ilustrasi harga minyak dunia hari ini (Foto By AI)

Badan Energi Internasional pada hari Kamis menaikkan perkiraan pertumbuhan pasokan global 2025 sebesar 380.000 barel per hari, karena Arab Saudi dan anggota OPEC+ lainnya menghentikan pemotongan produksi.

IEA juga memproyeksikan surplus untuk tahun depan, meskipun ada sedikit revisi ke atas dari perkiraan permintaan minyak global tahun 2025 sebesar 20.000 barel per hari.

Investor juga mencermati tanda-tanda pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve AS, yang dapat memperkuat ekonomi dan permintaan minyak.

Awal minggu ini, data dari Badan Informasi Energi AS menunjukkan lonjakan stok minyak mentah yang lebih besar dari perkiraan, sehingga meningkatkan kekhawatiran permintaan di konsumen minyak terbesar di dunia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya