Es Limun Jadul, Kisah Minuman Legendaris yang Semakin Sulit Ditemui

Minuman ini terbuat dari campuran air soda, perasan jeruk nipis atau lemon, dan gula pasir. Biasanya disajikan dingin dengan campuran es batu.

oleh Switzy SabandarDiterbitkan 19 Mei 2025, 14:00 WIB
Ilustrasi es limun santan (Sumber: Pixabay/blandinejoannic)

Liputan6.com, Yogyakarta - Es limun, minuman era 1980-1990-an yang dulu mudah ditemui di warung-warung kaki lima, kini semakin langka. Minuman sederhana ini pernah menjadi primadona penyegar dahaga masyarakat Indonesia sebelum tergusur oleh merek-merek minuman modern.

Mengutip dari berbagai sumber, es limun merupakan minuman berkarbonasi tradisional. Minuman ini populer di Indonesia sejak era kolonial Belanda hingga tahun 1990-an.

Minuman ini terbuat dari campuran air soda, perasan jeruk nipis atau lemon, dan gula pasir. Biasanya disajikan dingin dengan campuran es batu.

Berbeda dengan minuman bersoda modern, es limun jadul memiliki rasa yang lebih alami dengan kadar kemanisan yang bisa disesuaikan selera. Pada masa kejayaannya, es limun menjadi sajian wajib di warung-warung tenda dan pedagang kaki lima.

Minuman ini dijual dalam gelas bening besar dengan harga berkisar Rp500-Rp1.000 per gelas di era 1990-an. Beberapa warung terkenal bahkan memiliki resep rahasia dengan tambahan daun pandan atau jahe untuk memberikan aroma khas.

Produksi es limun tradisional umumnya dilakukan secara rumahan dengan peralatan sederhana. Pedagang menggunakan botol-botol kaca bekas yang diisi dengan campuran air soda dan perasan jeruk, kemudian disimpan dalam ember berisi es balok.

Cara penyajiannya yang unik, dengan menuangkan dari botol ke gelas sambil menciptakan bunyi khas ssst, menjadi daya tarik tersendiri bagi para pembeli. Menurut catatan sejarah kuliner, es limun mulai populer di Indonesia sejak awal abad ke-20.

 

Alternatif Murah

Minuman ini menjadi alternatif murah bagi masyarakat yang ingin merasakan sensasi minuman bersoda seperti yang dikonsumsi orang Belanda. Beberapa pabrik lokal seperti Es Limun Cap Badak dan Es Limun Cap Singa sempat memproduksi minuman ini dalam skala besar sebelum akhirnya tutup seiring perubahan zaman.

Es limun di pasar modern kini semakin sulit ditemui. Data Asosiasi Pengusaha Minuman Ringan Indonesia menyebutkan, hanya tersisa sekitar 15% pedagang tradisional yang masih menjual es limun asli dibandingkan tahun 1990-an.

Beberapa daerah masih mempertahankan tradisi es limun dengan varian lokal. Contohnya di Surabaya, terdapat es limun kocok yang dicampur kuning telur.

Sementara di Bandung ada es limun gula aren yang menggunakan pemanis alami. Beberapa kedai nostalgia di kota-kota besar juga menghidupkan kembali es limun jadul.

Penulis: Ade Yofi Faidzun

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya