Alfamart Kuasai Lawson Indonesia, Resmi Akuisisi 70% Saham dari Alfamidi

Emiten ritel pemilik jaringan Alfamart, resmi mengambil alih 70% saham PT Lancar Wiguna Sejahtera (LWS), pemegang lisensi waralaba Lawson di Indonesia

oleh Pipit Ika RamadhaniDiperbarui 15 Mei 2025, 15:04 WIB
Ilustrasi gerai Alfamart (Foto: PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT)

Liputan6.com, Jakarta PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), emiten ritel pemilik jaringan Alfamart, resmi mengambil alih 70% saham PT Lancar Wiguna Sejahtera (LWS), pemegang lisensi waralaba Lawson di Indonesia.

Akuisisi ini dilakukan melalui pembelian 1.484.855.160 lembar saham dari PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), yang sebelumnya menjadi pemilik mayoritas LWS. Nilai transaksi mencapai Rp200,46 miliar, dengan harga pembelian Rp 135 per saham.

Penandatanganan akta jual beli dilakukan pada 14 Mei 2025 di hadapan notaris Sriwi Bawana Nawaksari, S.H., M.Kn., di Kabupaten Tangerang.

Ini merupakan kelanjutan dari perjanjian jual beli saham bersyarat yang telah diumumkan sebelumnya oleh MIDI pada 9 April 2025 dalam Keterbukaan Informasi ke Bursa Efek Indonesia. Dengan ini, AMRT secara resmi menjadi pemilik mayoritas dan pengendali Lawson di Indonesia.

Transaksi ini mempertegas konsolidasi AMRT di sektor ritel domestik, di mana perseroan kini memiliki kendali langsung atas dua merek besar: Alfamart dan Lawson.

Aksi korporasi ini dinilai sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat posisi pasar AMRT melalui penguasaan multi-merek yang menyasar segmen konsumen berbeda.

 

Midi Utama Lepas Lawson: Strategi Fokus pada Bisnis Inti

Aktivitas pekerja di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Senin (3/1/2022). Pada pembukan perdagagangan bursa saham 2022 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung menguat 7,0 poin atau 0,11% di level Rp6.588,57. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Manajemen PT Midi Utama Indonesia Tbk menyampaikan bahwa pelepasan saham LWS adalah bagian dari langkah strategis perusahaan untuk memperkuat fokus bisnis di sektor perdagangan eceran. MIDI, yang juga mengelola jaringan Alfamidi, ingin menyederhanakan portofolio dan konsentrasi sumber daya agar lebih efektif dalam pengembangan jaringan inti mereka.

Corporate Secretary MIDI, Suantopo Po, dalam keterbukaan informasi menyebutkan bahwa dana hasil divestasi ini akan digunakan untuk mendukung operasional dan belanja modal perusahaan. Fokus MIDI ke depan adalah memperluas jangkauan ritel berbasis kebutuhan harian, dengan format dan segmen pasar yang telah terbukti memberikan kontribusi positif terhadap pendapatan perusahaan.

Dengan dilepasnya kendali atas LWS, MIDI berharap dapat meningkatkan efisiensi, memperbaiki struktur keuangan, dan memperkuat posisi kompetitif mereka. Langkah ini juga mencerminkan restrukturisasi portofolio agar MIDI dapat lebih adaptif terhadap dinamika pasar ritel yang semakin kompetitif.

"Transaksi ini diharapkan dapat berkontribusi positif terhadap kinerja keuangan perusahaan ke depan. Manajemen optimistis bahwa akuisisi ini akan berdampak langsung terhadap peningkatan pendapatan dan arus kas perusahaan. Sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi seluruh pemegang saham," ungkap Suantopo dalam keterbukaan informasi Bursa, Kamis (15/5/2025).

 

Dampak Finansial: Dukungan Pendanaan dan Peningkatan Kinerja

Pengunjung tengah melintasi layar pergerakan saham di BEI, Jakarta, Senin (13/2). Pembukaan perdagangan bursa hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat 0,57% atau 30,45 poin ke level 5.402,44. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Transaksi senilai lebih dari Rp200 miliar ini diharapkan memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kinerja keuangan MIDI. Dengan bertambahnya likuiditas, perusahaan memiliki ruang lebih luas untuk membiayai ekspansi dan kebutuhan operasional tanpa harus mencari pendanaan eksternal. Dana segar tersebut juga dapat diarahkan ke gerai baru dan peningkatan efisiensi jaringan distribusi.

Selain itu, MIDI menegaskan bahwa transaksi ini tidak termasuk dalam kategori transaksi material maupun transaksi benturan kepentingan sebagaimana diatur dalam POJK 17/2020 dan POJK 42/2020. Nilai transaksi tercatat di bawah 20% dari total ekuitas MIDI per 31 Desember 2024, yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Purwantono, Sungkoro & Surja.

Ke depan, manajemen MIDI berharap efisiensi yang diperoleh dari divestasi ini akan tercermin dalam laporan laba rugi maupun arus kas. Dengan struktur portofolio yang lebih ramping dan pendanaan internal yang lebih kuat, perusahaan optimistis dapat mencapai pertumbuhan yang lebih berkelanjutan.

 

Pengunjung melintas dilayar pergerakan saham di BEI, Jakarta, Senin (30/12/2019). Pada penutupan IHSG 2019 ditutup melemah cukup signifikan 29,78 (0,47%) ke posisi 6.194.50. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya