Dolar AS Hari Ini Kembali Perkasa, Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp 16.680 per USD

Potensi tekanan pelemahan rupiah terhadap dolar AS hari ini ke arah Rp 16.680, dengan potensi support di kisaran Rp 16.500 untuk perdagangan pada Kamis hari ini.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 15 Mei 2025, 11:30 WIB
Pada Kamis (15/5/2025) nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan hari ini di Jakarta, menguat sebesar 1 poin atau 0,01 persen menjadi Rp 16.561 per USD dari sebelumnya Rp 16.562 per USD. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat tipis pada perdagangan di awal kamis hari ini. Namun penguatan ini rentan karena adanya sentimen dari faktor eksternal terutama dari AS.

Pada Kamis (15/5/2025) nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan hari ini di Jakarta, menguat sebesar 1 poin atau 0,01 persen menjadi Rp 16.561 per USD dari sebelumnya Rp 16.562 per USD.

Presiden Direktur PT Doo Financial Futures Ariston Tjendra memperkirakan nilai tukar rupiah melemah seiring efek dari hasil negosiasi AS dengan China terkait tarif.

“Ini masih efek dari hasil negosiasi AS dan China yang berhasil, sehingga tarif barang dari China bisa ditekan dan harga barang yang dikonsumsi warga AS dari China turun. Perekonomian AS terbantu dengan hal ini, sehingga dolar AS menguat,” ujarnya, dikutip dari Antara.

Pada Rabu (14/5/2025), dolar AS tertekan karena persepsi pasar atas kenaikan tarif barang dari China akan menurunkan daya beli atau konsumsi di AS karena banyaknya barang konsumsi impor China.

Adapun sekarang, persepsi berbalik karena tarif diturunkan sehingga dolar AS menguat lagi.

“Kondisi indeks dolar AS pagi ini masih menunjukkan penguatan. Nilai tukar regional terlihat melemah terhadap dolar AS,” ujar dia pula.

Melihat sentimen dari dalam negeri, kata Aris, pasar mungkin menyoroti tingkat pemutusan hubungan kerja yang tinggi di kuartal pertama tahun ini bisa menjadi indikator pelambatan ekonomi. Selain itu, Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I-2025 Indonesia yang masih sulit tembus 5 persen, disinyalir karena konsumsi melemah.

“Potensi tekanan pelemahan rupiah terhadap dolar AS hari ini ke arah Rp 16.680, dengan potensi support di kisaran Rp 16.500 hari ini,” kata Aris.

Bahaya Rupiah Jadi Salah Satu Mata Uang Paling Loyo di Asia

Mengakhiri perdagangan Senin (13/1/2025), rupiah melemah 0,57% atau 93 poin ke level Rp16.283 per dolar AS. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus menunjukkan pelemahan, dengan posisi penutupan pada 9 Mei 2025 masih berada di kisaran Rp16.500 per dolar AS. 

Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, mengatakan kondisi ini menempatkan rupiah sebagai salah satu mata uang di Asia yang menunjukkan kinerja kurang stabil terhadap dolar Amerika Serikat.

“Kalau kita bicara perkembangan rupiah saat ini, ini penutupan di hari tanggal 9 Mei kemarin di sekitar masih Rp16.500-an, artinya memang kita bicara kondisinya, memang sejauh ini rupiah masih menjadi salah satu currency di Asia yang mengalami kelemahan terhadap dolar AS,” kata Josua saat ditemui di kantor Permata Bank, Jakarta, Rabu (14/5/2025).

Salah satu faktor utama di balik tekanan terhadap rupiah adalah ekspektasi perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini.

 

Aksi Jual Investor

IHSG ditutup anjlok 71,987 poin (1,02 persen) ke posisi 7.016,879. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Perkiraan tersebut turut memicu aksi jual bersih oleh investor asing di pasar saham, karena prospek pertumbuhan ekonomi dinilai memiliki dampak langsung terhadap potensi keuntungan korporasi.

“Karena biasanya kalau kita bicara selain sentimen, investor di pasar saham pun juga mempertimbangkan bagaimana prospek pertumbuhan ekonomi yang akan berimplikasi nantinya kepada corporate earnings, sehingga ini menjadi salah satu faktor yang juga mempengaruhi juga kinerja di nilai tukar rupiah,” jelasnya.

Selain pasar saham, tekanan juga dirasakan di pasar obligasi. Saat ini, imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia masih berada di bawah level 6,8–6,9 persen. 

Infografis Beda Rupiah 1998 dengan 2018 terhadap Dolar AS. (Liputan6.com/Triyasni)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya