Pakai Teknologi Canggih, Agrinas Pangan Nusantara Bakal Kelola Food Estate 425 Hektare

PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) akan mengelola lumbung pangan nasional (food estate) seluas total 425 ribu hektare. Teknologi canggih pertanian juga disebut akan diterapkan perusahaan.

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 14 Mei 2025, 19:40 WIB
Sejumlah petani sedang memanen padi di wilayah Lalang, Nagari Pagadih, Agam, Sumatera Barat, Kamis 1/5/2025 (Foto: Syahrul Rahmat)

Liputan6.com, Jakarta PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) akan mengelola lumbung pangan nasional (food estate) seluas total 425 ribu hektare. Teknologi canggih pertanian juga disebut akan diterapkan perusahaan.

Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono menyampaikan salah satu tugas yang akan diemban Agrinas Pangan Nusantara adalah mengelola food estate. Pada tahap awal, ada 225 ribu hektare yang tersebar di sejumlah lokasi.

"Agrinas Pangan salah satu yang ingin menjadi tonggak dari keberhasilan transformasi pangan kita adalah bagaimana pengelolaan food estate," ungkap Sudaryono dalam Launching Agrinas Pangan Nusantara, di Jakarta, Rabu (14/5/2025).

Lahan tersebut setidaknya tersebar di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Sumatera Selatan. Kemudian, rencananya ada tambahan 200 ribu hektare lahan sawah baru di Wanam, Merauke, Papua Selatan.

Pengelolaan lahan sawah ini juga berbeda dengan sebelumnya. Kali ini, sejalan dengan perhatian pemerintah, alat pertanian akan dilakukan sehingga tak lagi dilakukan secara manual.

 

 

Produktivitas Tinggi

Kabupaten Ngawi, Jawa Timur (Jatim), menjadi daerah penghasil beras terbesar se-Indonesia, sejak tahun 2021-2023. Indeks Pertanian (IP) Ngawi mencapai 2,8 dan tertinggi secara nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023, produksi gabah kering giling (GKG) di Ngawi mencapai 771.251 ton, dengan luasan area panen padi sekitar 124.923 hektare (ha).

"Sehingga baru berdiri, baru melek, baru jalan Agrinas Pangan sudah memiliki atau sudah mengelola di akhir tahun ini total 425 ribu hektar sawah lahan produktif kita yang pengerjaannya tidak lagi dicangkul, tapi menggunakan mekanisasi dengan alat yang besar, dengan alat yang besar," tuturnya.

Lebih lanjut, Sudaryono menyampaikan manfaat penggunaan teknologi pertanian tadi. Dalam hitungannya, mekanisasi pertanian dengan bantuan alat akan meningkatkan produktivitas.

"Dengan luas wilayah yang luas, dengan mekanisasi di bidang yang baik, irigasi yang bagus, maka produktivitasnya tinggi, kemudian inputnya efisien," terangnya.

"Sehingga hitungan kalkulasi di atas kertas food estate kita ini bisa menghadirkan beras dengan kualitas yang baik," sambung Sudaryono.

 

Tingkatkan Pendapatan Petani

Petani menggiling saat musim panen padi di sawah Desa Bube Baru, Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo (15/3). Mulai dari menyabit padi hingga sudah menjadi bulir gabah itu semua mengunakan tenaga manusia. (Liputan6.com/Arfandi Ibrahim)

Kemudian, Sudaryono juga menyampaikan kalau harga jual beras berkualitas baik juga akan berdampak positif ke pendapatan petani.

Setidaknya, harga Gabah Kering Panen (GKP) dengan hasil produksi yang baik akan berkisar di Rp 6.000-7.000 per kilogram.

"Harga per kilonya bisa dikisaran 6.000 sampai 7.000 rupiah per kilo. Karena efisien, sehingga diharapkan ini membawa nuansa dan pembaruan baru dalam penyediaan pangan untuk rakyat kita," ucapnya.

 

Beda Dengan Sebelumnya

Petani merontokan padi hasil panen di Kabupaten Tangerang, Banten, Jumat (16/7/2021). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor sektor pertanian pada bulan Juni 2021 mengalami kenaikan, yakni sebesar 33,04 persen (M-to-M) atau sebesar 15,19 persen secara (Y-on-Y). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sudaryono mengungkapkan, skema penggarapan lahan food estate itu berbeda dari sebelumnya.

"Jadi begini, zaman Presiden Soeharto katakanlah yang dimaksud dengan food estate itu tidak dibarengi dengan model mekanisasi. Caranya adalah satu keluarga dipindahin ke tempat itu, kemudian dikasih pengelolaan tanah," ungkapnya.

Dengan begitu, tingkat produktivitasnya rendah imbas luasan lahan dan tenaga penggarapnya tidak sebanding. "Kalau dengan mekanisasi, tanam lebih cepat, menanam lebih cepat, panen lebih cepat, tanam lagi lebih cepat, sehingga produktivitas dalam setahun diharapkan lebih cepat," pungkas dia.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya