Fakta Unik Yangko, Permen Ketan Lembut dari Yogyakarta

Ketika menggigit yangko, kita seakan diajak kembali ke masa lampau, ke suasana kampung halaman dengan suasana sore hari yang hangat

oleh Panji PrayitnoDiterbitkan 19 Mei 2025, 12:00 WIB
Yangko oleh-oleh Yogyakarta. Foto (oleh oleh Mbok Yem)

Liputan6.com, Jakarta - Yogyakarta kota budaya yang kaya akan sejarah dan tradisi, tidak hanya terkenal karena keraton dan seni pertunjukannya, tetapi juga melalui warisan kulinernya yang menggoda selera.

Salah satu oleh-oleh khas yang menjadi perwakilan rasa klasik kota ini adalah yangko, sejenis kue manis berbahan dasar ketan yang memiliki tekstur lembut dan rasa khas yang sulit untuk dilupakan.

Yangko bukan sekadar penganan biasa, ia adalah simbol dari kelembutan, kehangatan, dan sentuhan klasik yang mengundang nostalgia. Keunikan oleh-oleh Yogyakarta ini terletak pada harmoni antara rasa manis alami dari adonan ketan yang dipadukan dengan isian kacang manis di dalamnya serta taburan tepung tipis di luar yang menambah sensasi unik saat pertama kali bersentuhan dengan lidah.

Ketika menggigit yangko, kita seakan diajak kembali ke masa lampau, ke suasana kampung halaman dengan suasana sore hari yang hangat, di mana duduk bersantai ditemani teh hangat dan kue tradisional menjadi momen berharga yang tidak bisa dibeli dengan apa pun.

Yangko berbeda dari makanan berbahan ketan lainnya di Indonesia, baik dari segi rasa, tekstur, maupun filosofi di baliknya. Dibandingkan dengan mochi dari Jepang yang sering dijadikan pembanding, yangko menawarkan tekstur yang lebih padat namun tetap kenyal, dengan rasa manis yang lebih meditatif dan bersahaja.

Rasa manis yangko tidak membanjiri lidah, melainkan menyusup perlahan, memberikan kehangatan di setiap gigitan. Kelezatan ini bukan hanya berasal dari bahan dasarnya, yaitu ketan yang ditumbuk dan diolah hingga menjadi adonan lembut, tetapi juga dari proses pengolahan yang masih mempertahankan metode tradisional.

Beberapa produsen yangko di Kotagede dan kawasan lainnya di Yogyakarta masih menggunakan resep turun-temurun yang menjaga kemurnian cita rasa asli. Penggunaan kacang tanah sangrai sebagai isiannya memberikan kejutan rasa gurih di tengah kelembutan manis yang dominan, menciptakan pengalaman rasa yang kompleks namun harmonis.

Oleh-oleh

Taburan tepung ketan panggang yang membalut setiap potong yangko bukan hanya sebagai pelindung agar tidak lengket, tapi juga menambah tekstur berlapis yang membuat makanan ini semakin menarik secara organoleptik.

Dalam konteks rasa, yangko juga mengandung nilai budaya yang kental. Rasa manisnya yang tidak berlebihan mencerminkan sifat masyarakat Yogyakarta yang halus dan bersahaja.

Tidak seperti makanan modern yang cenderung berani dan eksplosif, yangko hadir sebagai bentuk kesederhanaan yang elegan sebuah bentuk kuliner yang mengajak penikmatnya untuk pelan-pelan meresapi setiap lapisan rasa yang ditawarkan.

Bahkan saat ini, beberapa inovasi rasa mulai diperkenalkan seperti durian, cokelat, pandan, dan stroberi, namun esensi dari rasa yangko tetap berpijak pada keunikan tekstur lembut, rasa manis alami, dan sensasi kacang yang meresap dalam gigitan.

Tak heran jika banyak wisatawan yang menjadikan yangko sebagai oleh-oleh utama, bukan hanya karena kemasannya yang menarik dan tahan lama, tetapi juga karena rasa yangko mampu membawa sebagian rasa Yogyakarta dalam setiap kotaknya. Rasa itu bukan hanya rasa ketan dan kacang, melainkan rasa tentang kota yang penuh keramahan, budaya, dan kenangan.

Penulis: Belvana Fasya Saad

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya