Liputan6.com, Jakarta Penggunaan paylater semakin jadi pilihan di tengah-tengah masyarakat. Sebagian mengakui kalau layanan Buy Now Pay Later (BNPL) ini memudahkan transaksi, meski mayoritas memenuhi hasrat konsumtif.
Beragam cerita muncul dari para pengguna paylater. Misalnya, Syah (28), pekerja di Kota Bogor yang mengaku sudah menggunakan layanan Buy Now Pay Later sejak 2021 lalu. Dia mengatakan telah mendaftar ke layanan paylater di 4 aplikasi berbeda.
Advertisement
"Tapi gak semuanya juga dipakai bareng, mungkin diawal ada pasti rasa penasaran lah ya, jadi dipakai," ungkap Syah, menceritakan kisahnya kepada Liputan6.com, Selasa (13/5/2025).
Dia mengatakan, dengan upah yang tak jauh dari standar minimal di Kota Hujan, paylater bisa menjadi bagian dalam memenuhi keperluannya. Bukan kebutuhan harian, melainkan untuk mengganti perangkat ponsel yang dimilikinya telah rusak.
"Kalau ditanya beli apa, namanya paylater dipakai buat belanja barang ya. Bukan buat harian sih, kayak baju dan elektronik, yang termahal beli barang Rp 3 jutaan, beli handphone," ucapnya.
Kisah serupa dialami Jono (32). Dia mengaku terpikat dengan iklan di sosial media yang menawarkan promosi potongan harga dalam pembelian ponsel keluaran terbaru.
"Pernah pakai paylater tahun 2023, dulu sih pakai paylater karena butuh buat beli handphone," ujarnya.
Beli Barang dan Jajan Harian
Sementara itu, Icha (29) mengisahkan lebih sering menggunakan paylater untuk kebutuhan harian. Dia mengaku belum lama menggunakan layanan tersebut. Soal penggunaannya, barang yang dibelinya masih dalam batas wajar pendapatan bulanan.
"Nah belinya itu kaya beli barang-barang di Shopee yang bisa kita bayar sekali di akhir bulan, jadinya ga terlalu gede bunganya," ucapnya.
"Saya juga rutin pakai paylater di Gojek (GoPaylater) buat beli makan siang. Ini lumayan nguntungin selain kita ngurangin kena biaya admin kalau isi ulang gopay, saya juga sering dapet promo yang gede pas beli makanan, dan bayar admin cuma sekali di akhir bulan," sambungnya.
Pernah Telat Bayar
Di sisi lain, Syah mengaku sudah tak bergantung kepada paylater. Syah mengatakan pernah terlambat dalam membayar tagihan paylater-nya.
Meski begitu, dia tak sampai gagal bayar biaya yang ditagihkan kepadanya. Kini dia lebih bijak dalam menggunakan layanan tersebut.
"Kalau gagal bayar enggak sih, cuma telat aja namanya juga kadang ada risiko tak terduga sehingga tertunda. Intinya harus diporsi sih, jangan terlalu nafsu," ucap Syah.
Berhenti Pakai Paylater
Sementara itu, Jono memutuskan berhenti menggunakan paylater. Alasannya, setelah menghitung biaya yang dikeluarkan untuk membeli barang yang diinginkannya, ternyata harganya lebih mahal.
"Pas pakai awal dikira nguntungin, eh gataunya malah jadi ketergantungan apa-apa pakai paylater. Dari situ mikir dan ngitung ulang harga barang yang dibeli pakai paylater, gataunya lebih mahal dan akhirnya gak mau pakai lagi karena malah jadinya rugi," tukas Jono.