Serba-Serbi Air Force One Pemberian Qatar untuk Trump, Ini 6 Kontroversinya

Donald Trump menyalahkan perusahaan pembuat pesawat yaitu Boeing atas keterlambatan panjang dalam penyediaan Air Force One versi baru.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiperbarui 13 Mei 2025, 12:36 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Ruang Oval, Gedung Putih, Kamis (17/4/2025). (Dok. AP Photo/Alex Brandon)

Liputan6.com, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat Donald Trump membela tawaran dari Qatar yang memberikan jet mewah Boeing 747 untuk sementara digunakan sebagai pesawat kepresidenan Air Force One. Ia menyebutnya sebagai “gestur yang sangat baik” dari sekutu AS, meskipun banyak pihak mempertanyakan legalitas, tampilan, hingga potensi risiko keamanannya.

Jet Boeing 747-8 yang disebut-sebut sempat menarik perhatian Trump pada Februari lalu merupakan pesawat ultra-mewah yang telah dimodifikasi dengan harga sekitar 400 juta dolar AS (sekitar Rp3.340 miliar). Dijuluki sebagai “istana terbang,” jet ini termasuk salah satu pesawat pribadi termahal di dunia.

Berbicara kepada wartawan di Gedung Putih pada Senin, Trump menyalahkan perusahaan pembuat pesawat, Boeing, atas keterlambatan panjang dalam penyediaan Air Force One versi baru, dikutip dari laman Indian Express, Selasa (13/5/2025).

“Kami sangat kecewa karena Boeing butuh waktu lama untuk menyelesaikan pesawat Air Force One yang baru. Yang sekarang sudah berusia 40 tahun,” ujarnya. “Kalau Anda lihat pesawat-pesawat dari negara-negara Arab yang diparkir di sebelah pesawat AS, rasanya seperti berasal dari planet lain.”

Namun, para pengkritik menilai penerimaan jet mewah dari negara asing tetap bermasalah. Jurnalis New York Times, Maggie Haberman, menyebutnya bisa jadi “hadiah termahal dari negara asing dalam sejarah AS.” Ia menambahkan, “Jika Trump terus menggunakannya setelah tak lagi menjabat, ia akan memiliki akses ke pesawat yang jauh lebih modern dibandingkan 'Trump Force One',” yaitu jet pribadi Boeing 757 milik Trump yang dibuat tahun 1991.

Berikut enam hal yang perlu diketahui seputar kontroversi ini:

1. Hadiah Gratis dari Qatar

Menurut laporan ABC News, Qatar berencana memberikan jet jumbo canggih kepada Trump selama kunjungannya ke Doha. Pesawat tersebut disebut akan digunakan sebagai Air Force One sementara hingga akhir masa jabatan kedua Trump, jika ia kembali menjabat.

Jet itu kabarnya akan diserahkan ke yayasan perpustakaan kepresidenan Trump pada 1 Januari 2029, sehingga menimbulkan pertanyaan soal kepemilikan dan legalitasnya.

Trump sendiri mengonfirmasi kabar ini melalui platform Truth Social miliknya.

“Departemen Pertahanan menerima sebuah pesawat 747 secara GRATIS, sebagai pengganti sementara Air Force One yang sudah berusia 40 tahun. Transaksi ini dilakukan secara terbuka dan transparan, tapi tetap membuat para Demokrat marah dan menuntut agar kita membayar MAHAL untuk pesawat itu,” tulisnya.

 

2. Qatar: Belum Ada Kesepakatan Final

Konpers Presiden AS Donald Trump mengakhiri hubungan AS dan WHO. Dok: Gedung Putih

Pemerintah Qatar membenarkan adanya diskusi dengan AS mengenai "kemungkinan transfer" pesawat tersebut, namun membantah bahwa keputusan final telah diambil atau bahwa jet itu merupakan hadiah langsung.

"Transfer pesawat saat ini masih dalam tahap pertimbangan," ujar Ali Al-Ansari, atase media Qatar. “Masih dalam tinjauan hukum kedua pihak, dan belum ada keputusan resmi.”

3. Solusi atas Penundaan Proyek Air Force One

Air Force One yang saat ini digunakan berusia lebih dari 30 tahun, sementara pesawat penggantinya yang dipesan dari Boeing mengalami penundaan dan pembengkakan anggaran, membuat proyek itu memakan biaya miliaran dolar. Trump menganggap tawaran dari Qatar sebagai solusi sementara.

Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan kepada CNBC bahwa setiap hadiah dari negara asing selalu diproses sesuai hukum. "Pemerintahan Trump berkomitmen pada transparansi penuh," ujarnya.

Penasihat hukum Trump, termasuk Pam Bondi, menyatakan bahwa jet itu secara teknis diberikan kepada Angkatan Udara AS, bukan kepada Trump pribadi. Bahkan, memo internal dari Departemen Kehakiman disebut-sebut mendukung argumen tersebut.

 

4. Kritik Keras karena Potensi Pelanggaran Konstitusi

Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump (AP Photo/Evan Vucci)

Sejumlah pakar hukum dan politisi menyoroti kemungkinan pelanggaran terhadap Emoluments Clause dalam Konstitusi AS, yang melarang pejabat federal menerima hadiah dari negara asing tanpa persetujuan Kongres.

“Trump tampaknya terus menggunakan posisi pemerintah untuk keuntungan pribadi,” kata Kathleen Clark, pakar etika pemerintahan dari Universitas Washington di St. Louis, kepada Associated Press.

Pemimpin Senat dari Partai Demokrat, Chuck Schumer, menyindir: “Tak ada yang lebih 'America First' daripada Air Force One yang diberikan oleh Qatar.”

Anggota Kongres Demokrat Jamie Raskin menekankan bahwa Trump seharusnya meminta izin dari Kongres untuk menerima aset senilai ratusan juta dolar tersebut. “Konstitusi jelas mengatakan: tidak boleh ada hadiah dari negara asing tanpa persetujuan Kongres,” katanya.

 

5. Jet Qatar Tak Punya Sistem Perlindungan Setara Air Force One

Transformasi Barron Trump saat pelantikan Donald Trump sebagai presiden di 2017 - 2025

Seorang mantan pejabat AS mengatakan kepada Associated Press bahwa jet dari Qatar kemungkinan tidak dilengkapi teknologi perlindungan penting seperti sistem anti-rudal, pelindung terhadap radiasi nuklir, serta sistem komunikasi aman—semua merupakan fitur standar di Air Force One.

Juliette Kayyem, profesor keamanan dari Harvard, juga mengingatkan soal risiko pengawasan: “Aspek keamanan dan kontrol juga patut dikhawatirkan. Qatar bisa saja menyesuaikan pesawat itu untuk kepentingannya sendiri,” ujarnya kepada The Guardian.

6. Ada Kaitan dengan Bisnis Trump di Qatar?

Kontroversi makin memanas setelah diketahui bahwa Trump Organization baru-baru ini mengumumkan proyek pembangunan lapangan golf senilai 5,5 miliar dolar AS di Qatar. Hal ini memicu spekulasi adanya hubungan antara kepentingan bisnis Trump dan kebijakan luar negeri AS.

Trump menegaskan bahwa Qatar adalah pembeli utama Boeing dan mengetahui soal penundaan produksi. “Mereka ingin membantu. Jika kami bisa menerima 747 sebagai donasi untuk Departemen Pertahanan untuk digunakan sementara, saya rasa itu adalah bentuk niat baik yang luar biasa... dan saya sangat menghargainya,” ujarnya.

Infografis Tarif Impor Ala Donald Trump. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya