Menag Ajak Ditjen Pendis Lahirkan Program Cinta Berlandasakan Ekoteologi

Imam Besar Masjid Istiqlal ini menjelaskan, teologi yang berkembang selama ini tidak menyentuh dunia kemanusiaan yang paling dalam. Sehingga kemanusiaan dangkal yang kita raih.

oleh Muhammad Radityo PriyasmoroDiterbitkan 11 Mei 2025, 04:07 WIB
Menteri Agama Republik Indonesia Nasaruddin Umar dalam Rapat Koordinasi Program Prioritas di Jakarta, Jumat (9/5/2025) (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar menuturkan, pihaknya mendorong jajaran Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) turut mengembangkan program-program yang memupuk cinta diantara manusia, sebagai landasan dari ekoteologi. Hal itu disampaikan Rapat Koordinasi Program Prioritas bersama Menteri Agama Nasaruddin Umar, di Jakarta, Jumat (9/5/2025).

"Cinta ini dapat menjadi motor bagi meningkatnya kualitas kemanusiaan masyarakat. Kita ingin menampilkan ontology yang berbeda dari teologi maskulin yang selama ini kita kembangkan, sebuah teologi yang secara konfensional dianut oleh kita semua," ujar Menag seperti dikutip dari keterangan tertulis, Minggu (11/5/2025).

Lebih lanjut, Imam Besar Masjid Istiqlal ini menjelaskan, teologi yang berkembang selama ini tidak menyentuh dunia kemanusiaan yang paling dalam. Sehingga kemanusiaan dangkal yang kita raih.

"Yang kita inginkan adalah memanusiakan manusia, bahkan disamping ini memanusiakan alam semesta, memanusiakan binatang, memanusiakan alam," terangnya.

Dia menyadari, kalimat memanusiakan alam semesta akan terdengar aneh bagi masyarakat awam, kendati jika merujuk pada berbagai kitab suci, maka kita akan menjumpai banyak sekali makna cinta, bukan hanya untuk sesama manusia, tetapi juga alam.

"Memang kalimat-kalimat aneh, bagaimana secara ontology selama ini kita memaknai alam itu sebagai benda mati saja, sebagian ada benda hidup, ada yang biologis dan ada yang non biologis." ujar Menag.

 

Perhatian Khusus

Senada dengan itu, Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Suyitno menuturkan, diantara berbagai program Direktorat Pendidikan Islam, hal yang menjadi perhatian khusus adalah yang berkaitan dengan menerjamahkan ekoteologi dan kurikulum cinta yakni Green Madrasah dan Green Kampus.

"Riset-rieset ke depan akan diarahkan kepada riset-riset yang berdampak, mencarikan solusi agar semua kepentingan layanan Kementerian Agama dilakukan penguatan riset dari kampus-kampus maupun LP2M yang ada," ujar Suyitno.

"Khusus terkait dengan lingkungan, menerjemahkan ekoteologi akan kita perkuat dengan Green Madrasah dan Green Kampus dan tidak kalah pentingnya juga mengembangkan madrasah berbasis adiwiyata," sambung dia.

Kemudian, pada sesi presentasi, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Sahiron menjelaskan berbagai program yang tengah digarap Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, yakni Internasionalisasi, Peningkatan Akreditasi, Employability, Digitalisasi Layanan, Penguatan Riset, Penguatan Vokasi, Standarisasi Sarpras dan Green Campus, serta Penguatan PTKIS.

"Yang ke-tujuh standarisasi sarpras dan green campus, yang ini nanti ada hubungannya dengan ekoteologi, dan termasuk didalamnya ada SBSN dan kemudian program PHLN yang itu nantinya diarahkan kepada perhatian terhadap lingkungan," tuturnya.

Sebagai informasi, agenda ini juga menghadirkan Tokoh Cendekiawan Muslim Indonesia, Haidar Bagir sebagai kolaborasi Mewujudkan Pendidikan Unggul, Ramah dan Terintegrasi.

Hadir juga Stafus dan Staf Ahli Menteri Agama Sekretaris Jenderal Kemenag Kamaruddin Amin, Ses Ditjen Pendis Arskal Salim GP, Direktur Pesanten Basnang Said, Direktur KSKK Madrasah Nyayu Khodijah, Direktur PI Munir, dan Direktur GTK Madrasah Thobib Al Asyhar. Serta para Rektor seluruh PTKI di Indonesia yang hadir melalui daring.

Infografis Ragam Festival Kuliner Nusantara. (Liputan6.com/Abdillah)

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya