Liputan6.com, Lumajang - Setiap tahun, warga Desa Selok Awar-Awar, Lumajang, menggelar tradisi karakan kucing sebagai bagian dari sedekah desa. Ritual yang diiringi musik ini bertujuan memohon keselamatan dan perlindungan kepada Tuhan serta leluhur, dengan kucing sebagai simbol penghormatan kepada Mbah Demo, sesepuh desa yang konon gemar mengendarai harimau.
Mengutip dari laman Kabupaten Lumajang, arak-arakan kucing merupakan ritual turun-temurun yang telah berlangsung puluhan tahun di Desa Selok Awar-Awar. Tradisi ini bermula dari kisah Mbah Demo, leluhur desa yang diyakini memiliki ikatan khusus dengan harimau.
Advertisement
Sebagai alternatif, warga menggunakan kucing sebagai simbol pengganti dalam prosesi adat tersebut. Prosesi diawali dengan pengumpulan kucing dari warga desa.
Hewan-hewan ini kemudian dimandikan dan dihiasi dengan bunga sebelum diarak. Bersama jolen (ancak berisi hasil bumi), kucing-kucing tersebut dibawa mengelilingi desa dengan iringan musik.
Rute arak-arakan melewati tempat-tempat yang dianggap keramat, termasuk Dusun Duren yang dipercaya sebagai lokasi berkumpulnya para leluhur. Selama prosesi, warga melantunkan doa-doa tolak bala dan permohonan keselamatan.
Makna simbolik kucing dalam tradisi ini memiliki beberapa dimensi. Kucing dipercaya sebagai perwujudan harimau yang menjadi tunggangan Mbah Demo.
Selain itu, hewan ini juga dianggap sebagai lambang kesuburan yang membawa keberkahan bagi tanah dan tanaman. Hewan ini juga sekaligus dipercaya memiliki kemampuan untuk mengusir hama yang mengancam hasil pertanian.
Perantara Komunikasi
Masyarakat juga meyakini bahwa kucing dapat berperan sebagai perantara komunikasi antara manusia dengan para leluhur mereka.
Fakta unik tentang tradisi ini memiliki beberapa aspek menarik yang dipatuhi oleh masyarakat setempat. Dalam pelaksanaannya, kucing yang diarak memiliki syarat khusus yaitu tidak boleh berwarna hitam pekat.
Hal ini dikarenakan warna tersebut dipercaya memiliki makna yang tidak sesuai dengan tujuan ritual. Masyarakat memiliki kepercayaan kuat bahwa dengan melaksanakan tradisi ini secara benar dan rutin, mereka dapat mencegah terjadinya wabah penyakit yang menyerang penduduk serta menghindari gagal panen yang bisa mengancam kesejahteraan seluruh warga desa.
Penulis: Ade Yofi Faidzun