Alasan Menhub Dudy Tertibkan Truk Obesitas

Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi tidak memungkiri jika larangan ODOL bakal berdampak besar terhadap ekonomi, khususnya harga barang.

oleh Maulandy Rizky Bayu KencanaDiperbarui 09 Mei 2025, 10:05 WIB
Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi. (Foto: Liputan6.com/Tira Santia)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi menilai larangan lalu-lalang angkutan barang berlebih muatan, alias Over Dimension Over Load (ODOL) jadi hal yang perlu disegerakan. Lantaran informasi soal kecelakaan lalu lintas akibat truk obesitas terus bermunculan. 

Di sisi lain, ia tidak memungkiri jika larangan ODOL bakal berdampak besar terhadap ekonomi, khususnya harga barang. Menhub pun kerap menerima peringatan, program Zero ODOL berpotensi memicu inflasi.  

Namun, Menhub Dudy Purwagandhi tak ingin kebijakan tersebut hanya berpatokan pada angka saja. Sebab wara-wiri angkutan barang berlebih muatan kian mengancam nyawa para pengguna jalan. 

"Bahwa ini akan berdampak (terhadap ekonomi), pasti akan berdampak. Tapi saya sampaikan ada hal yang enggak bisa kita ukur dengan angka, nyawa manusia. Ini yang selalu saya sampaikan kepada teman-teman, enggak bisa," tegasnya dalam sesi jumpa media di Jakarta, Kamis (8/5/2025).

Menurut dia, hilangnya nyawa seseorang tidak bisa dibandingkan dengan inflasi. "Apakah kita harus saksikan terus setiap hari ada yang meninggal, enggak mungkin juga. Nah ini yang ingin saya sampaikan, bahwa nyawa manusia tidak bisa kita sandingkan dengan angka," dia menekankan. 

Sebagai contoh, ia mengangkat kasus truk tronton oleng yang menabrak angkot di Purworejo, Jawa Tengah, mengakibatkan 11 orang tewas dan 6 lainnya luka-luka. Juga kecelakaan tunggal yang melibatkan bus Antar Lintas Sumatera (ALS) di Padang Panjang, Sumatera Barat yang menewaskan 12 orang. 

"Satu truk itu bisa ngambil 11 nyawa, satu bis bisa ngambil 12 nyawa. Itu rasanya buat saya enggak bisa, enggak bisa kita bandingkan nyawa. Enggak bisa kita bandingkan nyawa dengan angka," ucap dia.

Truk Obesitas Sulit Diberantas?

Bukan hanya itu, truk ODOL juga menjadi penyebab jalan-jalan rusak. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Pernyataan serupa sempat didengungkan oleh Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia, Tory Damantoro. Ia tak memungkiri jika pemberantasan truk obesitas bakal sangat sulit, meskipun kecelakaan akibatnya sudah banyak memakan korban nyawa. Lantaran permasalahan dari angkutan logistik ini sudah sangat sistemik dan mengakar.  

"Saling kait-mengkait semuanya. Kementeriannya sampai tidak bisa menyelesaikan, tidak bisa kolaborasi. Jangan sampai kemudian kita nunggu jadi viral, kematian-kematian akibat ODOL ini jadi viral. Kemudian negara ini jadinya justice by viral," bebernya saat berbincang dengan Liputan6.com beberapa waktu lalu. 

Di sisi lain, Tory tak memungkiri jika kehadiran angkutan logistik merupakan salah satu nyawa dari pertumbuhan ekonomi. Khususnya demi mengejar target pertumbuhan ekonomi 8 persen menuju Indonesia Emas 2045.

Nyawa Jadi Tumbal

Sejumlah truk melintasi ruas jalan tol Tangerang-Jakarta, Kota Tangerang, Banten, Rabu (2/3/2022). Apindo mengatakan penerapan kebijakan bebas truk kelebihan muatan (over dimension overload/ODOL) akan sulit dilaksanakan pada 2023 karena ekonomi terpuruk akibat covid-19. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Namun, ia tidak mau negara semakin kaya dengan mengambil nyawa warganya sebagai tumbal. Akibat pemerintah lalai mengatasi masalah kendaraan berlebih muatan di jalan.

"Saya sampaikan, ODOL ini jadi masalah dan membunuh warga negara berkali-kali. Kalau pertumbuhan ekonomi 8 persen tidak didukung oleh sistem logistik yang baik, maka kematian akibat ODOL itu akan terus-terusan terjadi dan malah kemudian meningkat," sebutnya 

"Jadi apa gunanya pertumbuhan ekonomi 8 persen kalau kemudian banyak yang meninggal? Moso kayak orang punya pesugihan, pakai tumbal," keluh Tory.

 

 

Infografis Target Truk Obesitas ODOL Tak Lagi Mengaspal 2026. (Liputan6.com/Gotri/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya