Menperin Bantah Deindustrialisasi di Indonesia, Ini Buktinya

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menepis anggapan Indonesia masuk dalam masa deindustrialisasi.

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 07 Mei 2025, 12:29 WIB
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Jumat (5/6/2020). (Dok Kemenperin)

Liputan6.com, Jakarta Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menepis anggapan Indonesia masuk dalam masa deindustrialisasi. Dia membeberkan bukti kalau Nilai Tambah Manufaktur Indonesia setara dengan negara-negara maju.

"Saya ingin mempertanyakan pada para pengamat yang mengatakan bahwa Indonesia sedang masuk atau sudah masuk ke dalam tahap deindustrialisasi, itu salah," tegas Menperin Agus Gumiwang dalam New Energy Vehicle Summit 2025, di Jakarta, dikutip Rabu (7/5/2025).

Mengacu pada data Bank Dunia dan United Nations Statistics, Nilai Tambah Manufaktur atau Manufacturing Value Added (MVA) Indonesia berada pada posisi USD 255,96 miliar di 2023. Meski data terbaru pada 2024 belum terbit.

"Angka ini merupakan angka yang tertinggi dalam sejarah Indonesia. Dan pada tahun 2023, Indonesia sudah berhasil menempatkan diri dalam Manufacturing Value Added pada posisi ke-12 besar di dunia, ke-12 besar di dunia," jelasnya.

Jika dibandingkan pada tingkat regional Asia, Indonesia masuk dalam posisi 5 besar di bawah China, Jepang, India dan Korea Selatan. Indonesia menjadi yang tertinggi untuk negara-negara ASEAN.

"Dan kini, nilai MVA yang dicatat oleh Indonesia, itu setara dengan beberapa negara industri maju atau beberapa negara yang sudah dikenal sebagai industri maju, seperti Inggris, Rusia, Prancis," tuturnya.

Dia juga menjelaskan, rata-rata MVA Global adalah sebesar USD 78,73 miliar. Sementara itu, rata-rata nilai MVA Indonesia berada di USD 102,85 miliar, yang menunjukkan nilai yang lebih tinggi.

 

 

 

Kontribusi Manufaktur ke PDB

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita didampingi Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza memberikan keterangan kepada media terkait komitmen dengan Apple di Kantor Kementerian Perindustrian, 26 Februari 2025. (Dok Kemenperin)

 

Agus melanjutkan, jika dilihat dari kontribusi industri manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, juga menunjukkan tren yang positif. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kontribusi industri manufaktur ke PDB Nasional sebesar 17,5 persen di kuartal I-2025.

Angka ini naik dari posisi 17,47 persen pada kuartal I-2024. Angka tersebut juga naik jika dihitung dari kuartal IV-2024 dengan 17,31 persen.

"(Anggapan deindustrialisasi) Kalau kita lihat dari MVA juga salah, kalau kita lihat dari kontribusi manufaktur terhadap GDP pun itu juga salah," tegas Agus.

 

Dilirik Investor

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. (Foto: Kementerian Perindustrian)

Menperin Agus juga mengatakan nilai MVA Indonesia itu jadi salah satu acuan bagi investor. Salah satunya dibuktikan lewat minat investasi dari kelompok Federation of Korean Industry (FKI).

Menurutnya, investor asing melihat peluang investasi dari tren kenaikan nilai MVA setiap tahunnya di Indonesia. 

"Saya ingat sekali minggu yang lalu ketika saya menerima Federasi Korean Industry mereka mengatakan bahwa salah satu pertimbangan yang penting bagi perusahaan Korea untuk investasi di Indonesia itu karena melihat bahwa trend MVA-nya terus menerus naik," tuturnya.

 

 

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya