Liputan6.com, Yogyakarta - Dominasi rumah limasan dibanding joglo dalam arsitektur tradisional Jawa ternyata menyimpan alasan praktis yang berkaitan dengan efisiensi bahan, tenaga kerja, dan strata sosial masyarakat pada masa lalu. Rumah limasan menjadi pilihan utama masyarakat Jawa karena konstruksinya yang lebih sederhana.
Bentuk atap limas yang dasar hanya memerlukan empat sisi miring membuat struktur bangunan ini lebih mudah dibuat. Berbeda dengan joglo yang membutuhkan konstruksi atap lebih kompleks dengan susunan tumpang sari dan penopang tenggek, limasan hanya memerlukan balok-balok dasar yang sederhana.
Advertisement
Mengutip dari laman Dinas Kebudayaan DIY, faktor ekonomi menjadi pertimbangan utama dalam pemilihan bentuk limasan. Data dari Dinas Kebudayaan Yogyakarta menunjukkan bahwa pembuatan rumah limasan membutuhkan kayu 30-40% lebih sedikit dibanding joglo dengan ukuran yang sama.
Proses pembuatan yang lebih cepat juga menjadi keunggulan limasan. Sebuah rumah limasan bisa diselesaikan dalam waktu setengah dari durasi pembuatan joglo.
Hal ini karena tidak adanya elemen-elemen rumit seperti tumpang sari atau soko guru yang memerlukan ketelitian tinggi dalam pengerjaannya. Keterbatasan lahan turut memengaruhi popularitas limasan.
Rumah joglo membutuhkan area lebih luas untuk menciptakan proporsi yang seimbang, sementara limasan bisa dibangun di lahan terbatas sekalipun. Pada masyarakat agraris Jawa yang umumnya memiliki lahan sempit untuk permukiman, limasan menjadi solusi praktis.
Stratifikasi sosial masa lalu juga berperan dalam pola pemilihan bentuk rumah. Joglo yang megah dan rumit hanya dimiliki oleh kalangan bangsawan dan orang kaya sebagai simbol status.
Sedangkan limasan yang lebih sederhana menjadi pilihan masyarakat biasa, sehingga jumlahnya lebih banyak tersebar. Joglo biasanya menggunakan kayu jati pilihan dengan ukuran besar, sementara limasan bisa memakai kayu dengan kualitas lebih rendah atau bahkan kombinasi dengan bahan lain.
Ruang Lebih Efisien
Dari segi fungsi, limasan menawarkan ruang yang lebih efisien untuk kebutuhan sehari-hari keluarga Jawa. Bentuknya yang sederhana memudahkan pembagian ruang untuk kegiatan domestik tanpa memerlukan area terlalu luas seperti pada joglo.
Limasan dengan konstruksi lebih sederhana ternyata lebih tahan terhadap gempa karena distribusi bebannya merata. Sementara joglo dengan struktur lebih kaku memerlukan perawatan ekstra untuk mempertahankan kekuatannya.
Dalam perkembangannya, limasan lebih mudah mengalami modifikasi dan perluasan. Masyarakat bisa menambah ruangan tanpa harus mengubah struktur utama, berbeda dengan joglo yang memiliki bentuk baku sulit diubah.
Rumah ini dianggap lebih sesuai dengan filosofi hidup masyarakat Jawa yang sederhana dan bersahaja, sementara joglo lebih merepresentasikan kemegahan dan kekuasaan. Data dari berbagai kabupaten di Jawa menunjukkan rasio limasan mencapai 70-80% dari total rumah tradisional yang masih berdiri.
Limasan tidak memiliki tumpang sari, susunan balok yang menjadi ciri khas joglo. Penyederhanaan struktur inilah yang membuat limasan lebih mudah direplikasi oleh masyarakat luas.
Penulis: Ade Yofi Faidzun