Hari Raya Kuningan 2025: Dua Tanggal Perayaan, Makna, dan Tradisi Uniknya

Simak informasi lengkap tentang Hari Raya Kuningan 2025 yang jatuh pada dua tanggal, makna mendalamnya bagi umat Hindu Bali, serta tradisi unik perayaannya.

oleh Nila Chrisna YulikaDiterbitkan 03 Mei 2025, 15:06 WIB
Seorang perempuan umat Hindu membawa sesajen untuk perayaan hari raya Galungan di Pura Jagat Natha di Denpasar, Bali, Rabu (8/6/2022). Di tahun 2022 ini, Hari Raya Galungan jatuh pada tanggal 8 Juni dan diikuti Hari Raya Kuningan pada tanggal 18 Juni. (SONNY TUMBELAKA / AFP)

Liputan6.com, Jakarta- Hari Raya Kuningan tahun 2025 diperingati dalam dua periode, yaitu Sabtu, 3 Mei 2025, dan Sabtu, 29 November 2025. Perbedaan tanggal ini didasarkan pada dua perayaan Hari Raya Galungan yang terjadi di tahun tersebut, dengan Kuningan dirayakan sepuluh hari setelahnya.

Kedua perayaan ini memiliki makna mendalam bagi umat Hindu di Bali, khususnya sebagai ungkapan syukur dan penghormatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan para leluhur.

Perayaan Kuningan, yang namanya berasal dari kata "kuning" yang melambangkan kemuliaan dan kemakmuran, merupakan puncak dari rangkaian perayaan setelah Hari Raya Galungan.

Umat Hindu meyakini bahwa selama Galungan, para leluhur turun ke bumi dan kembali ke alamnya pada Hari Kuningan. Oleh karena itu, perayaan ini menjadi momen untuk memohon keselamatan, perlindungan, dan tuntunan lahir batin kepada Tuhan Yang Maha Esa dan para leluhur.

Nasi kuning, sebagai simbol kemakmuran dan kesucian, menjadi sajian utama dalam perayaan Kuningan. Sajian ini biasanya dihidangkan bersama lauk pauk, buah-buahan, bunga, dan janur yang dihias indah sebagai persembahan. Selain itu, terdapat juga tradisi dan ritual unik lainnya yang dilakukan oleh umat Hindu Bali dalam merayakan Hari Raya Kuningan.

Makna Mendalam Hari Raya Kuningan

Hari Raya Kuningan memiliki makna spiritual yang sangat dalam bagi umat Hindu Bali. Kata "Kuningan" sendiri berasal dari warna kuning, yang melambangkan kemuliaan, kesejahteraan, dan kemakmuran.

 Perayaan ini merupakan wujud syukur dan penghormatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta para leluhur yang dipercaya telah mengunjungi dunia selama Hari Raya Galungan.

Umat Hindu memohon keselamatan, perlindungan, dan tuntunan lahir batin kepada Tuhan Yang Maha Esa dan leluhur mereka. Mereka percaya bahwa dengan persembahan dan doa yang khusyuk, mereka akan mendapatkan berkah dan perlindungan dari segala macam bahaya.

Warna kuning pada nasi kuning yang menjadi sajian utama juga melambangkan kesucian dan kemakmuran yang dipanjatkan dalam doa.

Perayaan Kuningan juga menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi antar keluarga dan kerabat. Momen berkumpul bersama keluarga dan kerabat ini menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Hari Raya Kuningan, memperkuat ikatan dan kebersamaan dalam keluarga.

Tradisi dan Ritual Unik Hari Raya Kuningan

Berbagai tradisi dan ritual unik dilakukan umat Hindu Bali dalam merayakan Hari Raya Kuningan. Salah satu yang paling menonjol adalah persembahyangan di pura dan merajan. Persembahyangan di pura (tempat suci umum) dan merajan (tempat suci keluarga) dilakukan di pagi hari, karena diyakini para leluhur hanya berada di bumi hingga siang hari.

Nasi kuning, sebagai simbol kemakmuran, menjadi sajian utama yang dihaturkan sebagai persembahan. Sajian ini biasanya dilengkapi dengan lauk pauk, buah-buahan, bunga, dan janur yang dihias indah. Selain nasi kuning, tamiang (hiasan berbentuk lingkaran), dan endongan (simbol bekal kehidupan) juga menjadi bagian penting dalam perayaan ini.

Penjor, hiasan bambu yang dihiasi janur dan berbagai perlengkapan sesaji, serta hiasan khas lainnya turut memeriahkan suasana perayaan. Di beberapa tempat, pertunjukan wayang kulit dan barong juga diadakan sebagai bagian dari perayaan. Perayaan Kuningan biasanya berlangsung hingga tengah hari, karena diyakini para dewa dan leluhur kembali ke alamnya sebelum siang hari.

Tamiang, yang berbentuk lingkaran, melambangkan perlindungan, sementara endongan merupakan simbol bekal kehidupan bagi para leluhur. Penempatan tamiang dan endongan ini memiliki makna simbolis yang penting dalam perayaan Kuningan. Perayaan Kuningan tidak hanya sekedar ritual keagamaan, tetapi juga menjadi momen untuk mempererat hubungan keluarga dan kerabat.

Infografis Nyepi di Bali tanpa Internet

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya