Harga Batu Bara dan Minyak Mentah Menguat, Simak Penyebabnya

Namun jika dihitung dari awal tahun, harga batu bara saat ini masih mengalami penurunan. Diketahui, pada 2 Januari 2025 harga batu bara di kisaran USD 125 per ton.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 02 Mei 2025, 16:40 WIB
Kapal tongkang pengangkut batu bara lepas jangkar di Perairan Bojonegara, Serang, Banten, Kamis (21/10/2021). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor produk pertambangan dan lainnya pada September 2021 mencapai USD 3,77 miliar. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Harga batu bara mengalami kenaikan yang cukup besar dalam beberapa hari terakhir. Namun memang jika dihitung dalam jangka panjang harga batu bara masih mengalami penurunan.

Mengutip data tradingeconomics Jumat (2/5/2025) harga batu bara terus merangkak naik sejak 23 April 2025 dari USD 92,82 per ton menjadi USD 97,50 per ton di 2 Mei 2025.  

Namun jika dihitung dari awal tahun, harga batu bara saat ini masih mengalami penurunan. Diketahui, pada 2 Januari 2025 harga batu bara di kisaran USD 125 per ton.

Harga minyak juga kembali menguat pada Kamis, 1 Mei 2025. Harga minyak kembali perkasa setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberlakukan sanksi baru terhadap Iran dan laba yang kuat dari Meta dan Microsoft mendukung saham AS.

Mengutip CNBC, Jumat (2/5/2025), harga minyak mentah berjangka AS naik USD 1,03 atau 1,77% menjadi USD 59,24 per barel. Harga minyak Brent bertambah USD 1,07 atau 1,75% ke posisi USD 62,13.

Pada Kamis, Presiden AS Donald Trump menuturkan kalau setiap negara dan orang yang membeli minyak serta petrokimia dari Iran tidak akan diizinkan untuk melakukan bisnis apapun dengan AS.

Sementara itu, Oman mengatakan kalau putaran berikutnya dari perundingan nuklir AS-Iran yang direncanakan sementara pada Sabtu 3 Mei 2025 akan dijadwalkan ulang karena alasan logistic.

 

Pemotongan Pasokan

Ilustrasi harga minyak dunia (dok: Foto AI)

Sebelumnya, kekhawatiran tentang pasokan yang lebih tinggi membebani harga. Seorang sumber menuturkan, Arab Saudi memberi tahu sekutu dan pakar industri kalau mereka tidak mau menopang pasar minyak dengan pemotongan pasokan dan dapat mengelola periode harga rendah berkepanjangan.

Sumber juga menyebutkan, beberapa anggota OPEC+ akan menyarankan kelompok itu mempercepat kenaikan produksi pada Juni untuk bulan kedua berturut-turut. Delapan negara OPEC+ akan bertemu pada 5 Mei untuk memutuskan rencana produksi pada Juni.

Sementara itu, ekonomi AS mengalami kontraksi untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pada kuartal pertama, dari data pada Rabu pekan ini. Pelaku bisnis berlomba-lomba untuk menghindari biaya lebih tinggi dari tarif dan menekankan dampak dari kebijakan perdagangan Presiden AS Donald Trump yang tidak dapat diprediksi. Hal itu juga membuat banjir impor.

Berdasarkan jajak pendapat sebuah media internasional, tarif Trump telah membuat kemungkinan ekonomi global akan tergelincir ke dalam resesi pada 2025.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya