Deretan Kelebihan Gen Z saat Mulai Rintis Bisnis, Simak di Sini!

Pertumbuhan Gen Z di lingkungan yang serba digital, menjadikan mereka sangat familiar dengan teknologi dan media sosial. Hal ini menjadi sebuah keuntungan sendiri saat mereka akan memulai bisnis.

oleh Natasha AmaniDiterbitkan 30 April 2025, 20:00 WIB
tips membuka usaha ©Ilustrasi dibuat AI

Liputan6.com, Jakarta - Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) mengungkapkan beberapa kelebihan yang dimiliki pengusaha di kelompok usia generasi Z (Gen Z), ketika membangun bisnis mereka.

"Gen Z adalah generasi yang paling adaptif dan kreatif. Tapi jangan hanya mengejar gaya hidup entrepreneur, perlu juga mindset builder: sabar, tahan banting, dan siap belajar dari kegagalan," kata Sekretaris Jenderal HIPMI, Anggawira kepada Liputan6.com di Jakarta, Rabu (30/4/2025).

Angga menjelaskan, hal itu didukung oleh pertumbuhan Gen Z di lingkungan yang serba digital, menjadikan mereka sangat familiar dengan teknologi dan media sosial.

"Hal ini memudahkan mereka dalam memanfaatkan platform digital untuk pemasaran, penjualan, dan pengembangan produk," jelasnya.

Angga juga melihat pengusaha di antara Gen Z sangat kreatif dan inovatif. "Mereka cenderung berpikir out-of-the-box dan berani mencoba hal baru, yang penting dalam menciptakan produk atau layanan yang unik dan menarik bagi pasar," bebernya.

Selain itu, menurutnya, Gen Z juga memiliki orientasi pada tujuan dan nilai ketika memulai suatu bisnis.

"Gen Z seringkali memulai usaha yang selaras dengan nilai-nilai pribadi mereka, seperti keberlanjutan lingkungan atau pemberdayaan komunitas, yang dapat membangun loyalitas pelanggan," ungkapnya.

Kelebihan lainnya termasuk multitasking dan karakter Gen Z yang mandiri. "(Pengusaha Gen Z) memiliki kemampuan untuk menangani berbagai tugas sekaligus dan keinginan untuk mandiri mendorong mereka untuk belajar berbagai aspek bisnis secara cepat," imbuh Angga.

Kekurangan 

Namun, Angga melihat pengusaha Gen Z juga memiliki beberapa kekurangan saat merintis usaha. Salah satunya, pengalaman dan ketekunan yang perlu ditingkatkan.

"Karena usia yang relatif muda, banyak dari mereka belum memiliki pengalaman bisnis yang cukup dan cenderung mudah menyerah saat menghadapi tantangan," katanya.

Adapun ketergantungan pada teknologi. Meskipun mahir dalam teknologi, menurut Angga, ketergantungan yang berlebihan dapat menjadi kelemahan jika tidak diimbangi dengan keterampilan interpersonal dan manajemen yang baik.

Kekurangan lainnya adalah mudah terpengaruh tren. Pasalnya, di masa kini, terlalu banyak informasi dan tren yang beredar dapat membuat mereka sulit fokus pada satu ide bisnis dan mudah beralih ke hal lain sebelum ide tersebut matang.

"Kurangnya pengalaman dan koneksi dapat menyulitkan mereka dalam membangun jaringan bisnis yang kuat, yang penting untuk pertumbuhan usaha," Angga menambahkan.

 

Tips Menghadapi Guncangan Ekonomi bagi Pengusaha Gen Z

Ilustrasi Bisnis Online (Photo by freepik/tirachardz)

Seperti diketahui, dunia usaha tengah dilanda berbagai khawatiran seputar dampak dari ketidakpastian ekonomi global, yang dipicu oleh serangkaian tarif impor baru yang diumumkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Ketegangan meningkat ketika China membalas tarif impor baru AS dengan pengenaan tarif hingga 125% pada produk dari negara tersebut. Ketegangan dagang antara dua ekonomi terbesar dunia menimbulkan guncangan pada pasar global, mulai dari pasar saham hingga sejumlah mata uang.

Dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global, seperti fluktuasi pasar dan perubahan kebijakan perdagangan, Angga membocorkn berbagai tips untuk Gen Z saat merintis bisnis:

Pertama, adalah meningkatkan literasi keuangan. Angga menjelaskan, memahami manajemen keuangan dasar untuk menjaga kestabilan arus kas dan dapat membuat keputusan investasi yang bijak.

Kemudian, Gen Z juga perlu membangun ketahanan bisnis di tengah ketidakpastian ekonomi. Misal, dengan mempersiapkan strategi cadangan dan diversifikasi produk atau layanan untuk mengurangi risiko.

Selain itu, mereka juga perlu mengembangkan jaringan dan mentoring. Hal itu dapat dilakukan dengan bergabung dengan komunitas bisnis atau mencari mentor dapat memberikan wawasan dan dukungan dalam menghadapi tantangan.

Fokus pada Nilai Tambah. (Dengan) menawarkan produk atau layanan yang benar-benar dibutuhkan pasar dan memberikan nilai tambah yang jelas dapat membantu mempertahankan pelanggan," pungkas Angga.

 

Sektor Prospektif Untuk Gen Z yang Mau Merintis Bisnis

tips membuka usaha sendiri ©Ilustrasi dibuat AI

Selain itu, Anggawira juga membocorkan sektor prospektif untuk Gen Z di tengah situasi ketidakpastian ekonomi saat ini.

Sektor pertama, adalah ekonomi digital dan kreatif. Menurut Angga, pengusaha Gen Z dapat memanfaatkan peluang di sektor tersebut dengan kemampuan mereka untuk terus adaptif.

Angga membeberkan, salah satu bisnis yang menarik dari sektor ekonomi digital dan kreatif yaitu content creator service, agency digital marketing, live commerce, serta manajemen UMKM digital.

"Gen Z punya keunggulan adaptasi digital dan kreativitas tinggi," ujar Angga kepada Liputan6.com di Jakarta, Rabu (30/4/2025).

Kedua, sektor prospektif menarik lainnya adalah produk konsumen lokal yang mencakup F&B kekinian berbasis lokalitas, minuman herbal, cemilan sehat, hingga fashion streetwear lokal.

"Adopsi tren lokal dengan branding kuat sangat diminati pasar anak muda," ungkap Angga.

Sektor selanjutnya adalah agribisnis modern dan peternakan urban yang mencakup bisnis budidaya hidroponik, urban farming, madu lebah, atau peternakan lele sistem bioflok.

 

Berdampak Luas

Menurut Angga, sektor tersebut cocok untuk pengusaha kelompok usia Gen Z yang ingin memberikan dampak luas ke masyarakat sekaligus mencetak keuntungan.

Jasa Teknologi dan freelance juga menjadi sektor menarik, Angga menambahkan. Misal, tech support, UI/UX design, AI prompt engineer, coding, video editing. Pasalnya, bisnis tersebut membutuhkan modal yang tak besar dan bisa dilakukan dari rumah.

Angga juga melihat bahwa energi terbarukan dan daur ulang bisa menjadi sektor yang menarik bagi pengusaha Gen Z yang masih pemula.

"Startup yang bergerak di energi surya skala kecil, waste-to-product, atau refill station ramah lingkungan," bebernya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya