Puan Soroti Murid Tak Bisa Baca Tapi Lancar Main Medsos, Pil Pahit Pendidikan!

Baginya, kondisi itu cerminan dari kesenjangan pemenuhan hak dasar pendidikan di Indonesia.

oleh FachriDiterbitkan 30 April 2025, 11:55 WIB
Ketua DPR RI Puan Maharani. (c) Istimewa

Liputan6.com, Jakarta Paradoks pendidikan di Indonesia makin hari makin terlihat wujudnya. Pertengahan bulan April ini, terkuak sebuah fenomena yang mencengangkan, yakni ratusan murid SMP di Kabupaten Buleleng, Bali, belum lancar membaca, namun aktif menggunakan media sosial.

Fenomena miris tersebut pun mendapat atensi dari Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Puan Maharani. Baginya, kondisi itu cerminan dari kesenjangan pemenuhan hak dasar pendidikan di Indonesia.

"Bagaimana mungkin kita bicara soal kemajuan teknologi, ekonomi masa depan dan SDM unggul, jika masih ada anak-anak SMP yang belum mampu membaca dengan lancar? Ini bukan sekadar isu pendidikan, tapi tantangan besar dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat," ujar Puan, Kamis (17/4/2025).

Ia pun meminta kepada pemerintah untuk menindaklanjuti fenomena yang miris di dunia pendidikan tersebut.

"Temuan ini menjadi refleksi dari ketimpangan layanan pendidikan dan perlunya perhatian serius dari semua pemangku kepentingan," ucap Puan.

Dirinya juga mengungkapkan, ketidakmampuan membaca akan berdampak besar secara akademis maupun sosial-emosional anak-anak. Ia pun menegaskan, pentingnya negara hadir memastikan setiap anak bangsa mendapat kesempatan belajar berkualitas.

"Setiap anak yang belum bisa membaca menyimpan potensi luar biasa yang tak boleh kita abaikan. Mereka harus dibantu agar potensi itu berkembang," ungkap Puan.

Ia juga menyoroti lemahnya deteksi dini terhadap hambatan belajar dan kurangnya dukungan dari lingkungan keluarga maupun sekolah.

"Mengatasi persoalan ini bukan hanya tanggung jawab guru, tetapi seluruh pihak, termasuk orang tua," ujar Puan.

Skor PISA Rendah, Alarm bagi Pemerintah

Ketua DPR RI Dr. (H.C) Puan Maharani. Foto : Dok/Andri

Temuan di Buleleng menambah daftar panjang lemahnya kompetensi siswa Indonesia. Sebelumnya, juga banyak beredar video siswa SMP dan SMA yang tidak mampu melakukan perhitungan dasar. Hal ini sejalan dengan rendahnya skor literasi Indonesia dalam penilaian PISA.

PISA atau Program for International Student Assessment (PISA) di tahun 2022, mencatat skor literasi membaca Indonesia hanya 359, jauh di bawah rata-rata OECD sebesar 476. Dalam lingkup ASEAN, Indonesia tertinggal dari Singapura, Vietnam, Brunei, Malaysia, dan Thailand.

Puan menyebut rendahnya skor ini sebagai alarm bagi pemerintah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendidikan nasional.

"Ketika anak-anak lebih mahir menggunakan media sosial daripada memahami isi buku, itu pertanda kita harus meninjau kembali arah kebijakan pendidikan secara menyeluruh," sebutnya.

Puan mendorong Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memperkuat program literasi, pelatihan guru yang berpihak pada siswa, serta meningkatkan keterlibatan orang tua dalam pendidikan. Menurutnya, perlu terobosan nyata demi meningkatkan literasi siswa-siswi Indonesia.

"Data-data tidak berbohong dan kondisi ini menunjukkan perlunya gebrakan untuk meningkatkan literasi siswa-siswi Indonesia. Temuan di Buleleng menjadi salah satu pil pahit dalam dunia pendidikan Tanah Air yang harus segera diatasi," ujarnya.

 

(*)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya