Dampak Impor Tarif AS, OJK Lakukan Stress Test Perbankan

OJK melakukan stress test baik secara berkala maupun sewaktu-waktu untuk melihat dampak dari perubahan kondisi ekonomi, termasuk pengaruh penerapan tarif impor AS dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap perbankan.

oleh Tira SantiaDiperbarui 08 Mei 2025, 21:11 WIB
Tulisan OJK terpampang di Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Dian Ediana Rae, mengungkapkan bahwa OJK melakukan stress test baik secara berkala maupun sewaktu-waktu industri keuangan.

Hal ini dilakukan untuk melihat dampak dari perubahan kondisi ekonomi, termasuk pengaruh penerapan tarif impor AS dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap perbankan.

"Sejauh ini, OJK menilai bahwa rasio permodalan (CAR) perbankan tergolong tinggi dan mampu menyerap potensi peningkatan risiko kredit, risiko pasar, dan risiko likuiditas," kata Dian dikutip dari jawaban tertulisnya, Selasa (29/4/2025).

Selanjutnya, OJK juga mencatat pada Februari 2025, kinerja intermediasi perbankan pun dinilai relatif stabil dengan risiko kredit yang terjaga, tercermin dari rasio kredit bermasalah (NPL) gross sebesar 2,22%, NPL net 0,81%, dan loan at risk (LaR) sebesar 9,77%.

Dari sisi penyaluran kredit, perbankan mencatatkan pertumbuhan dua digit sebesar 10,30% secara tahunan (yoy), meningkat menjadi Rp7.825 triliun. Pertumbuhan tertinggi dicatat oleh Kredit Investasi (14,62%), disusul Kredit Konsumsi (10,31%), dan Kredit Modal Kerja (7,66%).

Peran Bank BUMN

Bank BUMN menjadi pendorong utama pertumbuhan kredit dengan laju 10,93% yoy, sementara dari sisi kategori debitur, kredit korporasi tumbuh pesat sebesar 15,95%, dan kredit UMKM sebesar 2,51%.

Meski demikian, OJK mencermati bahwa ketidakpastian global, termasuk potensi kebijakan tarif tinggi dari pemerintah Amerika Serikat, dapat mengganggu rantai pasok, meningkatkan inflasi global, dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.

 

OJK Khawatirkan Produk Utama Ekspor RI ke AS Tertekan

Surplus yang didapat pada periode Juni 2024 berasal dari nilai transaksi ekspor yang mencapai 20,84 miliar dolar AS, serta impor sebesar 18,45 miliar dolar AS. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Produk-produk utama ekspor Indonesia ke AS juga dikhawatirkan menghadapi tekanan akibat meningkatnya biaya impor. Berdasarkan hal tersebut, terdapat peningkatan risiko kredit pada beberapa sektor, utamanya yang terkait produk-produk utama ekspor Indonesia ke AS, antara lain produk tekstil dan alas kaki, mesin-mesin elektronik, produk perikanan dan kelapa sawit.

"Sektor ekonomi pendorong kenaikan kredit secara tahunan meliputi 3 sektor utama, yaitu Industri Pengolahan, Transportasi dan Pergudangan, dan Pertambangan," ujarnya.

Industri pengolahan utamanya industri minyak goreng dan kelapa sawit mentah, industri kertas, dan industri logam dasar bukan besi, sedangkan pada sektor pertambangan utamanya pada pertambangan logam dan biji timah, serta batu bara dan gambut.

 

Perbankan Diminta Proaktif Hadapi Gejolak Ekonomi Dunia

Gedung bank mandiri (c) Bank mandiri

Oleh karena itu, industri perbankan perlu memetakan lebih jauh sektor-sektor dan debitur-debitur yang dapat terdampak dari ketidakpastian global utamanya yang dapat mengalami penurunan kemampuan membayar, senantiasa antisipatif dalam memitigasi peningkatan risiko kredit dengan pembentukan CKPN yang memadai, serta mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran dan monitoring kredit.

"OJK juga meminta kepada perbankan agar secara proaktif melakukan asesmen terhadap perkembangan yang terjadi di global maupun domestik dan mempersiapkan langkah-langkah yang dibutuhkan untuk mengantisipasi perkembangan dimaksud," ujarnya.

Sebagai upaya memperkuat ketahanan sistem keuangan, OJK juga terus mendorong pendalaman pasar keuangan guna meningkatkan efisiensi dan daya tahan fungsi intermediasi perbankan di tengah gejolak ekonomi dunia.

"Selain itu, OJK juga terus berupaya memperkuat fondasi sistem keuangan salah satunya melalui upaya pendalaman pasar keuangan, guna meningkatkan ketahanan dan efisiensi intermediasi perbankan di tengah gejolak global," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya