Proyeksi Standard Chartered: Bitcoin Berpotensi Tembus Harga Rp 2 Miliar

Harga Bitcoin diperkirakan akan terus merangkak naik dan berpotensi mencetak rekor baru di angka USD 120.000 atau setara Rp2 miliar (asumsi kurs Rp16.801 per dolar AS).

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 29 April 2025, 16:13 WIB
Ilustrasi Kripto. (Foto By AI)

Liputan6.com, Jakarta Harga Bitcoin diperkirakan akan terus merangkak naik dan berpotensi mencetak rekor baru di angka USD 120.000 atau setara Rp2 miliar (asumsi kurs Rp16.801 per dolar AS), menurut Kepala Global Riset Aset Digital di Standard Chartered, Geoffrey Kendrick.

Melansir Yahoo Finance, dikutip Dalam laporan terbarunya yang dibagikan ke The Block, Kendrick menyebutkan saat ini adalah waktu yang tepat untuk membeli Bitcoin, dengan mengacu pada sejumlah indikator kunci yang mendukung reli aset kripto ini.

Faktor Pendorong Kenaikan Harga Bitcoin

Menurut Kendrick, ada tiga faktor utama yang mendorong optimisme terhadap kenaikan harga Bitcoin. Pertama, premi jangka waktu Treasury Amerika Serikat saat ini mencapai level tertinggi dalam 12 tahun, menandakan tekanan di pasar keuangan tradisional yang mendorong investor mencari alternatif. 

Kedua, para investor besar atau paus Bitcoin melakukan akumulasi secara agresif, memperkuat permintaan di pasar. Ketiga, terjadi pergeseran pandangan mengenai aset aman, di mana Bitcoin perlahan menggantikan emas, terutama dengan makin banyaknya produk ETF Bitcoin yang tersedia bagi investor ritel dan institusional.

Tak hanya itu, Kendrick juga mencatat bahwa minat investor Amerika terhadap Bitcoin semakin kuat sejak Presiden Donald Trump memperpanjang tarif perdagangan selama 90 hari untuk semua negara kecuali Tiongkok. 

Setelah kebijakan ini diumumkan, Bitcoin menunjukkan performa yang lebih baik dibandingkan saham-saham teknologi, mengabaikan korelasi historis yang biasanya terjadi antara keduanya.

 

Investor Besar

Ilustrasi kripto (Foto By AI)

Investor besar atau Whale (paus) terus melakukan pembelian Bitcoin bahkan saat harga sempat terkoreksi akibat faktor tarif, sebagaimana yang mereka lakukan dalam berbagai momentum penting sebelumnya, seperti saat runtuhnya Silicon Valley Bank, persetujuannya ETF Bitcoin, dan kemenangan Trump dalam pemilihan presiden.

Menariknya, pada 28 April, perusahaan Strategy dilaporkan membeli sekitar 15.355 Bitcoin senilai USD 1,42 miliar, mencerminkan tingkat keyakinan yang sangat tinggi terhadap potensi masa depan Bitcoin.

Kendrick sendiri memperkirakan harga Bitcoin bisa mencapai USD 200.000 atau setara Rp3,3 miliar pada 2025. Ia juga optimistis tren kenaikan ini akan berlanjut sepanjang musim panas, terutama karena beberapa faktor pendukung seperti meningkatnya transparansi laporan ETF 13F dan kemungkinan pengesahan regulasi stablecoin di Amerika Serikat.

 

Bitcoin Jadi Instrumen Lindung Nilai

Ilustrasi berbagai macam aset kripto. (Foto By AI)

Lebih lanjut, Kendrick menilai bahwa Bitcoin kini menjadi instrumen lindung nilai (hedging) terhadap risiko sistem keuangan yang lebih baik dibandingkan emas. Ia menegaskan:

"Kami berpendapat Bitcoin lebih efektif dalam hal ini karena sifatnya yang terdesentralisasi,” kata Kendrick.

Menurutnya, semakin banyak dana yang berpindah dari ETF emas ke ETF Bitcoin, menunjukkan pergeseran preferensi investor terhadap aset digital. Meskipun emas tetap menjadi pilihan utama dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik, Kendrick menyatakan bahwa Bitcoin lebih unggul dalam menghadapi risiko sistemik.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.  

INFOGRAFIS: 10 Mata Uang Kripto dengan Valuasi Terbesar (Liputan6.com / Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya