Liputan6.com, Jakarta Emas selama ini dikenal sebagai simbol kemakmuran dan instrumen investasi favorit. Namun, di balik kilauannya, banyak mitos keliru tentang emas yang beredar dan kerap menyesatkan masyarakat.
Berikut lima mitos emas yang perlu Anda ketahui kebenarannya dikutip dari galeri24 Pegadaian, Selasa (29/4/2025):
Advertisement
1. Emas Selalu Naik Harga Setiap Tahun
Banyak orang beranggapan bahwa harga emas terus meningkat tanpa henti. Faktanya, harga emas tetap fluktuatif dan dipengaruhi oleh faktor global seperti ekonomi dunia, nilai tukar, dan suku bunga. Meski demikian, emas tetap menjadi aset lindung nilai terhadap inflasi dalam jangka panjang.
2. Emas Putih Lebih Murah daripada Emas Kuning
Mitos lain menyebut emas putih lebih murah dari emas kuning. Padahal, harga emas tidak ditentukan warnanya, melainkan kadar karatnya. Emas putih merupakan hasil campuran logam lain seperti palladium atau nikel, dan sering kali dilapisi rhodium untuk tampilan lebih mengilap.
3. Semakin Berat Emas, Semakin Mewah
Banyak yang salah paham bahwa berat emas menentukan kemewahan. Padahal, faktor kemurnian (karat), desain, serta tingkat kerajinan sangat memengaruhi nilai sebuah perhiasan emas. Sebuah desain rumit dengan kadar tinggi bisa bernilai jauh lebih mahal daripada emas berat namun berkualitas rendah.
4. Semua Emas Batangan Sama Saja
Tidak semua emas batangan memiliki kualitas yang sama. Kadar kemurnian dan sertifikasi resmi sangat menentukan nilai investasi emas batangan. Emas dari produsen terpercaya seperti Galeri 24, misalnya, menawarkan emas batangan berkadar 99,99% dengan sertifikat resmi.
5. Menyimpan Emas di Rumah Selalu Aman
Sebagian orang percaya menyimpan emas di rumah adalah pilihan teraman. Padahal, risiko seperti pencurian atau bencana tetap mengintai. Menggunakan layanan brankas profesional atau investasi emas secara digital menjadi pilihan lebih aman dan praktis di era modern.
Dengan mengetahui fakta di balik lima mitos ini, Anda bisa lebih bijak dalam investasi emas dan memilih produk yang sesuai kebutuhan.
Harga Emas Masih Dalam Tekanan, Siap-siap Anjlok
Harga emas dunia kembali melemah di awal perdagangan sesi Asia hari ini. Harga emas bergerak di kisaran USD 3.310 pada hari Senin (28/4/2025), setelah sempat mencetak rekor tertingginya minggu lalu.
Analis Dupoin Futures Indonesia Andy Nugraha, emas mengalami koreksi tajam setelah tanda-tanda meredanya ketegangan perdagangan global, khususnya antara Amerika Serikat dan China, membuat permintaan terhadap aset safe haven menurun.
Berdasarkan kombinasi analisis candlestick dan indikator Moving Average, tren bearish kembali terbentuk pada harga emas dunia. Saat ini, pergerakan harga emas menunjukkan pola pelemahan yang kuat, terutama setelah harga gagal mempertahankan penguatan pada hari Kamis (24/4/2025) dan jatuh di bawah level USD 3.300.
"Berdasarkan proyeksi teknikal, emas berpotensi melanjutkan penurunan hingga mencapai area USD 3.213. Namun demikian, jika terjadi rebound yang kuat, emas masih memiliki peluang untuk kembali menguji resistance terdekat di sekitar USD 3.367," kata dia dalam keterangan tertulis, Senin (28/4/2025).
Faktor fundamental yang turut mendorong tekanan terhadap harga emas antara lain adalah pernyataan Menteri Pertanian AS, Brooke Rollins, yang mengungkapkan bahwa negosiasi perdagangan dengan China terus berlangsung dan kesepakatan dagang "sangat dekat."
Harapan terhadap tercapainya kesepakatan ini memperkuat sentimen risk-on di pasar keuangan, sehingga mengurangi minat investor terhadap aset safe haven seperti emas. Selain itu, berita tentang kemungkinan pengecualian sebagian tarif balasan turut menekan harga emas, membuatnya anjlok di bawah level psikologis USD 3.300.
Tekanan Jual Masih Besar
Meskipun tekanan jual masih mendominasi, ada faktor risiko yang perlu diperhatikan. Presiden AS, Donald Trump, tetap menunjukkan sikap keras terhadap tarif perdagangan, menyatakan bahwa ia tidak akan menghapus tarif terhadap China tanpa konsesi besar.
Ketidakpastian ini membuat volatilitas pasar tetap tinggi. Di sisi lain, International Monetary Fund (IMF) juga memperingatkan tentang meningkatnya risiko resesi di Amerika Serikat akibat ketegangan perdagangan yang berlarut-larut. Jika kekhawatiran resesi meningkat, permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai bisa kembali menguat dalam waktu dekat.
Untuk jangka pendek, para pelaku pasar akan mengalihkan perhatian mereka ke data ekonomi penting dari AS, termasuk laporan pendahuluan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal pertama yang akan dirilis Rabu (30/4) ini, serta data ketenagakerjaan Nonfarm Payrolls (NFP) pada hari Jumat (2/5).
Kedua rilis data tersebut diantisipasi dapat memberikan arah lebih lanjut bagi harga emas, mengingat potensi dampaknya terhadap ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve.