Pusat Studi Blockchain Pertama di Yogyakarta Didirikan UAJY

Pusat Studi Blockchain ini bukan hanya untuk mengikuti tren. Tapi untuk membangun keunggulan kompetitif mahasiswa kami. Ini akan mengangkat kualitas lulusan Atma Jaya ke level nasional dan internasional.

oleh Kukuh SetyonoDiperbarui 27 April 2025, 12:25 WIB
UAJY resmi menjadi perguruan tinggi pertama di Yogyakarta yang memiliki Pusat Studi Blockchain hasil kolaborasi Indonesia Blockchain Center, EQBR Holdings dan Dubai Blockchain Center. (Dok UAJY)

Liputan6.com, Yogyakarta - Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) menjadi perguruan tinggi pertama di Daerah Istimewa Yogyakarta yang mendirikan Pusat Studi Blockchain. Ini merupakan kolaborasi dengan Indonesia Blockchain Center yang mendapatkan mendapat dukungan dari EQBR Holdings Korea Selatan dan Dubai Blockchain Center.

Pendirian kampus ini sebagai tindak lanjut penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang dilakukan pada bulan Januari lalu. Sejak Kamis (24/4/2025) sampai hari ini, Sabtu (26/4/2025), Fakultas Teknologi Industri (FTI) UAJY menggelar kegiatan Training of Trainer (ToT) bekerja sama dengan Indonesia Blockchain Center.

Dekan Dekan FTI UAJY, Parama Kartika Dewa, menyatakan Pusat Studi Blockchain ini bukan hanya untuk mengikuti tren. Tapi untuk membangun keunggulan kompetitif mahasiswa kami. Ini akan mengangkat kualitas lulusan Atma Jaya ke level nasional dan internasional.

“Tiga belas dosen yang ikut dalam pelatihan ini akan menjadi trainer bagi mahasiswa. Sehingga transfer ilmu terkait teknologi blockchain dapat berlangsung secara berkelanjutan di lingkungan kampus,” terangnya.

Parama menegaskan kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen FTI UAJY bersama Indonesia Blockchain Center untuk menyebarkan pemahaman teknologi blockchain, termasuk menuju tahap sertifikasi mahasiswa.

Dengan dukungan penuh dari EQBR Korea Selatan, Dubai Blockchain Center, dan First Bullion Holdings Hongkong, Pramana menyebut Atmajaya Yogyakarta kini bersiap menjadi pusat pendidikan, riset, dan inovasi blockchain kelas dunia dari Indonesia.

“Saya berharap ilmu yang telah diterima para dosen dapat diteruskan dan diimplementasikan kepada seluruh mahasiswa di program studi yang ada di FTI UAJY," ucapnya.

Pemateri dari EQBR Korea Selatan, Jinsu Han menyampaikan pihaknya ingin berbagi pengetahuan mengenai blockchain kepada mahasiswa Indonesia. EQBR berkeinginan mendukung mahasiswa agar dapat mengembangkan ide-ide menjadi layanan komersial nyata melalui teknologi Web3 dan blockchain.

EQBR, yang merupakan mitra Indonesia Blockchain Cente, disebut Jinsu berfokus pada pengembangan infrastruktur Web3 dan meyakini bahwa teknologi blockchain mampu membangun kepercayaan.

“Khususnya bagi perusahaan rintisan di Asia, yang sering menghadapi tantangan dalam membuktikan kredibilitasnya di tengah persaingan global,” jelasnya.

Co-Founder sekaligus Direktur GreenX dan Indonesia Blockchain Center, Tam Pak Yin Philip berharap hal ini dapat memberikan gambaran kepada para dosen mengenai cara kerja blockchain dan Web3.

"Saya harap studi kasus semacam ini dapat memberikan kesempatan bagi mereka untuk melihat kasus secara nyata," ujarnya.

Materinya membahas mengenai Aetherium, sebuah proyek yang sedang dijalankannya. Proyek ini menggabungkan kecerdasan buatan dengan hiburan musik serta memanfaatkan teknologi blockchain.

Direktur Utama Indonesia Blockchain Center, H. Hambali, menegaskan Blockchain adalah masa depan. Kehadiran pusat studi ini, secara resmi menjadikan Yogyakarta sebagai pionir transformasi digital berbasis blockchain di Indonesia.

“Ini adalah langkah nyata membangun masa depan ekonomi berbasis inovasi,” tutupnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya