Es Legen, Kesegaran Tradisional Khas Surabaya Tak Lekang oleh Waktu

Rasa legen sendiri manis dengan aroma khas yang sulit ditiru, sedikit berfermentasi jika dibiarkan terlalu lama, sehingga memberikan sensasi unik

oleh Panji PrayitnoDiterbitkan 28 April 2025, 12:00 WIB
ilustrasi buah lontar @pixabay.com

Liputan6.com, Jakarta Di tengah hiruk-pikuk dan panas terik kota Surabaya, tersimpan satu minuman tradisional yang telah lama menjadi bagian dari keseharian warganya, yaitu Es Legen.

Minuman ini bukan hanya menyegarkan tenggorokan, namun juga membawa serta kisah panjang budaya dan warisan lokal yang berakar kuat dalam kehidupan masyarakat Jawa Timur, khususnya Surabaya. Es Legen adalah minuman yang berbahan dasar legen, yaitu nira dari pohon siwalan (Borassus flabellifer), yang dikenal sebagai pohon lontar atau tal.

Nira ini diperoleh dengan cara menyadap bunga jantan pohon siwalan yang masih muda, dan hasilnya adalah cairan bening manis alami yang menjadi bahan dasar utama es legen.

Rasa legen sendiri manis dengan aroma khas yang sulit ditiru, sedikit berfermentasi jika dibiarkan terlalu lama, sehingga memberikan sensasi unik saat dikonsumsi dalam kondisi segar maupun setengah fermentasi.

Proses menyadap legen ini masih dilakukan secara tradisional oleh para petani penyadap yang biasanya tinggal di daerah pinggiran kota atau di desa-desa sekitar Surabaya dan Madura, serta beberapa wilayah lain di Jawa Timur.

Maka dari itu, setiap tetes legen menyimpan nilai kerja keras, tradisi, serta kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Minuman Es Legen khas Surabaya biasanya dijajakan oleh pedagang kaki lima atau penjual keliling yang menggunakan gerobak sederhana.

Keberadaan mereka menjadi pemandangan umum di kawasan-kawasan ramai seperti pasar tradisional, terminal, atau di sudut-sudut jalan protokol yang dilalui banyak orang. Dalam penyajiannya, Es Legen disajikan dengan es batu dalam gelas plastik atau beling, ditambah dengan irisan kelapa muda atau cincau hitam sesuai selera pembeli.

Kombinasi antara manis alami legen dan dinginnya es batu menjadikan Es Legen sebagai minuman pelepas dahaga yang sangat digemari, apalagi ketika cuaca Surabaya sedang panas-panasnya. Rasanya yang otentik dan alami membuatnya berbeda dari minuman-minuman kemasan yang banyak beredar saat ini.

Nostalgia

Es Legen juga dipercaya memiliki berbagai manfaat kesehatan, seperti meningkatkan stamina, mendinginkan tubuh secara alami, hingga membantu pencernaan, meskipun tentu manfaat ini masih banyak bersifat empiris dan turun-temurun.

Namun demikian, minuman ini tetap menjadi pilihan utama bagi mereka yang mencari kesegaran alami yang minim proses kimia dan pengawet. Sayangnya, meskipun Es Legen masih cukup populer, keberadaan dan eksistensinya perlahan mulai terpinggirkan oleh tren minuman modern dan kekinian yang menjamur di berbagai sudut kota.

Bubble tea, kopi kekinian, dan berbagai varian minuman dengan topping modern mulai mengambil alih perhatian generasi muda, yang tak jarang mengabaikan kekayaan kuliner lokal seperti Es Legen.

Padahal, jika dipromosikan dan dikemas secara lebih kreatif, Es Legen memiliki potensi besar untuk menjadi ikon kuliner minuman khas Surabaya yang bisa dibanggakan di kancah nasional bahkan internasional.

Beberapa pengusaha muda sudah mulai melirik peluang ini, dengan menjual Es Legen dalam kemasan botol modern atau menjadikannya menu utama di kafe-kafe bertema tradisional. Inisiatif-inisiatif semacam ini menjadi harapan baru agar minuman tradisional seperti Es Legen tidak hanya bertahan, tapi juga berkembang dan mendapat tempat di hati generasi masa kini.

Pemerintah daerah bersama komunitas pecinta kuliner tradisional sepatutnya memberikan ruang dan dukungan agar minuman ini tetap lestari. Festival kuliner, lomba kreasi es legen, atau promosi melalui media sosial bisa menjadi jalan untuk memperkenalkan es legen kepada khalayak yang lebih luas.

Surabaya sebagai kota besar yang sarat akan sejarah dan budaya, tentu memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga agar warisan semacam ini tidak punah di tengah gempuran globalisasi dan modernisasi.

Dengan begitu, es legen tidak hanya bertahan sebagai kenangan masa kecil atau nostalgia orang tua kita, tapi juga menjadi bagian hidup yang nyata dan relevan dalam kehidupan masyarakat urban masa kini.

Penulis: Belvana Fasya Saad

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya