Mengenal Rokat Desa, Tradisi Sakral Masyarakat Madura Sebagai Ungkapan Syukur dan Permohonan Perlindungan

Upacara ini biasanya digelar secara kolektif dengan melibatkan seluruh warga desa, mulai dari tokoh adat, tokoh agama, hingga anak-anak

oleh Panji PrayitnoDiperbarui 02 Mei 2025, 09:41 WIB
Suasana tradisi Rokat Desa di Madura Jawa Timur. Foto (sumenepkab.go.id)

Liputan6.com, Jakarta Rokat Desa adalah sebuah tradisi yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Madura Jawa Timur. Khususnya di wilayah pedesaan yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal dan spiritualitas leluhur.

Tradisi Rokat Desamerupakan bentuk selamatan desa yang diselenggarakan secara turun-temurun sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang melimpah serta sebagai permohonan perlindungan bagi seluruh warga desa dari berbagai macam marabahaya, penyakit, maupun bencana alam yang mengancam kehidupan.

Meskipun istilah rokat sendiri memiliki makna penyucian atau pensucian, dalam konteks budaya Madura, ia mengandung makna yang jauh lebih dalam dan holistik, yaitu menyucikan desa dari segala unsur negatif yang bisa mengganggu keseimbangan hidup serta menjaga harmoni antara manusia, alam, dan kekuatan spiritual yang diyakini mengatur kehidupan.

Upacara ini biasanya digelar secara kolektif dengan melibatkan seluruh warga desa, mulai dari tokoh adat, tokoh agama, hingga anak-anak, yang semuanya bersatu dalam semangat kebersamaan untuk menjaga warisan budaya dan menghormati nilai-nilai tradisional yang telah diwariskan oleh para leluhur.

Pelaksanaan Rokat Desa umumnya dilakukan pada waktu-waktu tertentu yang dianggap sakral oleh masyarakat, sering kali setelah musim panen berakhir sebagai simbol rasa terima kasih atas limpahan rezeki dari bumi.

Dalam praktiknya, Rokat Desa terdiri dari serangkaian prosesi yang mencakup ritual keagamaan, arak-arakan, persembahan sesajen, dan puncaknya adalah makan bersama yang disebut dengan kenduren. Prosesi ini biasanya dimulai dengan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama atau sesepuh desa, yang memanjatkan doa kepada Tuhan agar seluruh hasil panen membawa berkah dan jauh dari kerugian.

Kemudian dilanjutkan dengan acara arak-arakan yang membawa hasil bumi, seperti padi, jagung, ketela, buah-buahan, dan berbagai simbol hasil panen lainnya yang dihias sedemikian rupa, lalu diarak mengelilingi desa sebagai simbol persembahan kepada alam dan kekuatan ilahi.

Praktik Budaya

Tradisi ini bukan hanya sebuah ritual formalitas belaka, tetapi menjadi ruang untuk mempererat tali silaturahmi antarmasyarakat, memperkuat solidaritas sosial, dan menumbuhkan kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga alam serta menghormati siklus kehidupan yang telah ditentukan oleh Tuhan.

Uniknya, dalam setiap pelaksanaan Rokat Desa, terdapat kekayaan simbolik dan makna filosofis yang sangat mendalam. Misalnya, makanan yang disajikan dalam kenduren tidak hanya sekadar hidangan untuk dinikmati bersama, tetapi juga menjadi media spiritual yang diyakini dapat menghadirkan berkah.

Makanan seperti nasi tumpeng, urap-urapan, dan aneka jajanan tradisional dibuat dengan penuh niat dan doa, karena diyakini bahwa setiap elemen makanan memiliki makna tersendiri—nasi tumpeng melambangkan gunung sebagai tempat bersemayamnya roh leluhur dan simbol kemakmuran, urap-urapan melambangkan kehidupan yang beragam namun harmonis, dan jajanan pasar mencerminkan kegembiraan serta kebersamaan.

Selain itu, sesajen yang dipersembahkan seperti dupa, bunga, dan air suci adalah bentuk penghormatan kepada kekuatan tak kasat mata yang dipercaya menjaga desa. Semua elemen ini membentuk sebuah sistem kepercayaan dan praktik budaya yang begitu kaya akan nilai-nilai spiritual, ekologis, dan sosial yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Penulis: Belvana Fasya Saad

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya