Liputan6.com, Yogyakarta - Berbasis blockchain atau bank data, musisi Anang Hermansyah meluncurkan aplikasi pemutar musik yang akan membantu memonitor pemanfaatan karya sehingga pembagian royalti kepada kreatornya transparan dan realtime. Happymusic.ai diharapkan membantu pemerintah mengawasi streaming yang dilakukan secara digital.
Bakal diluncurkan pada quartet kedua tahun ini, Happymusic.ai mengandeng aplikasi penyedia NFT Artificial Intelligence (AI) para idol K-Pop Korea Selatan, Aetherium atau ATVM.ai sebagai penambah fitur menarik.
Advertisement
CEO of Happy Music, Dara Ninggarwarti pada Rabu (23/4/2025) menerangkan inisiatif dari Anang Hermansyah sebagai pendiri ini berangkat dari pandangan bagaimana pembagian distribusi royalti dari hak cipta di industri musik selama dirasa tidak transparan, adil dan bisa dimonitor sepanjang waktu.
“Kami akan menjadi program pionir karya anak bangsa berbasis blockchain dengan tujuan memonitor transparansi pembagian royalti musik bagi kreator yang terlibat di dalamnya,” katanya di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dengan pemanfaatan blockchain sebagai basis data, Happymusic pada awalnya nanti fokus pada pembagian royalti secara digital. Dimana tidak hanya pengawasan pemanfaatan karya yang diputar digital, namun juga pemutaran music melalui radio, ruang-ruang karaoke maupun fasilitas publik lainnya.
Aplikasi Happymusic diharapkan membantu pengawasan pemanfaatan karya music oleh Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) Kementerian Hukum dan HAM secara digital. Sehingga pembagian royalti kepada kreator musik secara nyata mendukung proses kreativitas.
“Tentunya pemanfaatan ini nantinya akan bisa dilakukan setelah proses pendewasaan algoritma dan pengayaan algoritma yang lama kelamaan akan menghadirkan machine learning yang mencerdaskan perangkat kami,” lanjutnya.
Sedangkan mengenai kerjasama dengan ATVM.ai, Dara menyatakan perangkat ini akan menunjang diplomasi budaya antara Indonesia dan Korea Selatan dalam industri music. Dimana seluruh karya-karya NTF AI Idol K-Pop yang dipasarkan nantinya bukan hasil dari penyusunan algoritma secara digital. Namun NFT yang dibuat oleh manusia langsung dengan pemanfaatan AI.
Founder Anang Hermansyah yang hadir online, menyebut kehadiran Happymusic merupakan perwujudan cita-citanya bagaimana seluruh stakeholder industry music menerima royaltinya dengan baik.
“Karena Happymusic memang sebetulnya player, bagaimana perjalanan lagu bisa terdeteksi dengan baik, dan bagaimana back to backnya berjalan dengan baik. Karena itulah yang menarik,” ujarnya.
Perwakilan ATVM.ai, Philip Tam menegaskan masih sangat menghargai bagaimana kreatifitas disaring dari manusia bukan machine learning. Pihaknya mengkombinasikan karakter dari generate dari AI namun mewakili kreasi dari otak manusia.
“Fitur inilah membedakan ATVM.ai dengan platform lain,” ucapnya.
Melalui kerjasama ini, kedua pihak berharap akan terwujud diplomasi budaya yang kemudian menyamakan efektifitas, efisiensi, keunggulan maupun kebesaran industri kreatif bagi industri musik di negara masing-masing.