Sektor Barang Mewah Mulai Boncos Dampak Tarif Trump, Laba Valentino Anjlok 22% di 2024

Setelah kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump, sektor barang mewah bersiap dengan kemungkinan terjadi kemerosotan terpanjang

oleh Natasha AmaniDiterbitkan 19 April 2025, 16:00 WIB
Ilustrasi Laporan Keuangan, Laba, Rugi. Foto: Freepik/mindandi

Liputan6.com, Jakarta - Laba barang mewah asal Italia, Valentino turun 22% di 2024. Kerugian itu terjadi ketika sektor barang mewah menghadapi perlambatan permintaan global untuk barang-barang mewah, khususnya di Asia.

Mengutip MarketScreener, Sabtu (19/4/2025) Valentino mengatakan bahwa biaya satu kali juga mendorong laba operasinya turun menjadi 246 juta euro pada tahun 2024, karena terus berinvestasi di toko-toko yang dikelola secara langsung.

Pendapatan Valentino turun 2% pada nilai tukar konstan menjadi 1,31 miliar euro, meskipun penjualan bagus di Jepang, Timur Tengah dan Amerika, kata perusahaan yang berpusat di Roma itu.

Sementara itu, penjualan online Valentino naik 5% dibandingkan dengan tahun sebelumnya, sejalan dengan tujuan grup untuk memperkuat bisnis e-commerce-nya.

"Pekerjaan kami telah melangkah maju dengan kedatangan Alessandro Michele sebagai Direktur Kreatif baru kami," kata Kepala Eksekutif Valentino, Jacopo Venturini dalam sebuah pernyataan.

Valentino merekrut mantan desainer Gucci tersebut pada Maret 2024 lalu menyusul keluarnya direktur kreatif Pierpaolo Piccioli, yang telah menduduki posisi tersebut selama 25 tahun.

Pada tahun 2023, pemilik Gucci, Kering, membeli 30% saham di Valentino dengan opsi untuk membeli seluruh modal saham perusahaan tersebut pada tahun 2028.

Industri barang mewah Eropa sejauh ini telah mengandalkan masyarakat kelas atas di Amerika untuk memulai pertumbuhan karena prospek untuk China tetap suram.

Namun setelah kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump, sektor ini bersiap dengan kemungkinan terjadi kemerosotan terpanjang dalam beberapa tahun.

 

7 Emiten Teknologi Raksasa Rugi USD 1,8 Triliun dalam 2 Hari Dampak Tarif Trump

Ilustrasi bursa saham Asia (Foto by AI)

Tidak ada yang lebih terpukul daripada emiten teknologi raksasa karena pasar memasuki mode aksi jual.

Setelah mendorong pasar saham ke titik tertinggi baru, emiten teknologi yang dikenal sebagai Magnificent Seven telah mengalami cobaan yang sangat berat selama dua sesi perdagangan terakhir.

Dikutip dari CNBC, Minggu (6/4/2025), tuju emiten teknologi rasasa harus kehilangan nilai pasar gabungan sebesar USD 1,8 triliun. Apple telah mengalami penurunan paling tajam, dengan kapitalisasi pasar anjlok lebih dari USD 533 miliar.

Rencana tarif agresif Presiden Donald Trump yang diterapkan pada hari Rabu mengirimkan gelombang kejut di seluruh dunia, memicu kepanikan dan ketakutan yang meluas akan perang dagang global yang akan mendorong ekonomi ke dalam resesi.

Banyak saham yang dijual dengan kecepatan yang belum pernah terlihat sejak serangan Covid, dengan Nasdaq yang berisikan saham-saham teknologi mengalami minggu terburuknya sejak Maret 2020.

 

Nasdaq Anjlok

Ilustrasi pasar saham global. (c) iwatchwater/Depositphotos.com

Nasdaq anjlok pada hari Kamis, dan kelompok Magnificent Seven kehilangan lebih dari USD 1 triliun dalam nilai pasar gabungan. Kerugian meningkat pada hari Jumat.

Tesla adalah yang paling merugi dari kelompok tujuh nama tersebut berdasarkan persentase, anjlok lebih dari 10% selama sesi hari Jumat. Kapitalisasi pasar perusahaan tersebut anjlok dalam dua hari menjadi lebih dari USD 139 miliar.

Nvidia telah kehilangan USD 393 miliar selama dua sesi perdagangan terakhir.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya