Liputan6.com, Paris - Prancis mengumumkan pada Selasa (15/4/2025) akan mengusir 12 pejabat diplomatik Aljazair. Langkah ini merupakan respons atas pengusiran 12 diplomat Prancis oleh Aljazair sehari sebelumnya, memicu eskalasi ketegangan antara kedua negara.
Aljazair menyatakan pengusiran diplomat Prancis pada Senin (14/4) dilakukan sebagai protes atas penahanan seorang pejabat konsulernya oleh Prancis terkait kasus penculikan. Demikian seperti dilansir AP, Rabu (16/4).
Advertisement
Hubungan kedua negara mulai retak sejak musim panas 2024, ketika Prancis secara resmi mendukung rencana otonomi Maroko untuk Sahara Barat—wilayah sengketa yang juga diklaim Front Polisario, kelompok separatis yang didukung Aljazair.
Ketegangan memuncak pada November 2024 setelah Aljazair menahan Boualem Sansal, penulis Prancis-Aljazair yang vokal mengkritik Islamisme dan pemerintah Aljazair. Sansal dihukum 5 tahun penjara, vonis yang kini sedang ia banding.
Selain mengusir 12 diplomat Aljazair, yang disebut Prancis sebagai tindakan "simetris", Paris juga memanggil pulang duta besarnya di Aljir untuk konsultasi. Istana Elysee menegaskan Aljazair bertanggung jawab atas "kemerosotan drastis" hubungan bilateral.
Jaksa antiteror Prancis mengungkap tiga warga Aljazair ditangkap pekan lalu dengan tuduhan "penculikan atau penahanan sewenang-wenang terkait terorisme." Mereka diduga terlibat dalam penculikan Amir Boukhors (Amir DZ), influencer Aljazair yang kerap mengkritik pemerintah dengan setidaknya 1,1 juta pengikut di platform TikTok.Boukhors diculik pada April 2024 di dekat Paris dan kemudian dibebaskan keesokan harinya. Dia telah tinggal di Prancis sejak 2016 dan diberikan suaka politik pada 2023 .
Kementerian Luar Negeri Aljazair mengecam penangkapan pejabat konsulernya sebagai upaya "menghina kedaulatan negara, mengabaikan imunitas diplomatik, dan melanggar konvensi internasional."