Terburuk Sejak 2022, Saham Tesla Anjlok 36% di Kuartal Pertama 2025

Saham Tesla terakhir kali mengalami masa buruk adalah pada akhir tahun 2022, ketika sahamnya anjlok 54%.

oleh Natasha AmaniDiterbitkan 02 April 2025, 06:00 WIB
Showroom Tesla di New York, Amerika Serikat. Liputan6.com/Iskandar

Liputan6.com, Jakarta Saham Tesla mencatat kinerja bulanan terburuknya sejak 2022 dan mengalami penurunan tertajam ketiga dalam 15 tahun di pasar publik.

Melansir CNBC International, Rabu (2/4/2025) saham Tesla anjlok 36% dalam tiga bulan pertama tahun 2025.

Saham Tesla terakhir kali mengalami masa buruk adalah pada akhir tahun 2022, ketika sahamnya anjlok 54%.

Kuartal itu termasuk penjualan saham Tesla senilai lebih dari USD 22 miliar oleh CEO Elon Musk untuk membiayai akuisisi Twitter senilai USD 44 miliar, yang kemudian berganti nama menjadi X.

Pada hari Jumat (28/3), Musk mengatakan perusahaan rintisan kecerdasan buatannya, xAI, telah mengakuisisi X dalam kesepakatan yang menilai perusahaan media sosial itu senilai USD 33 miliar.

Penurunan saham Tesla pada kuartal pertama menghapus kapitalisasi pasar produsen mobil listrik itu hingga lebih dari USD 460 miliar. Sebagian besar kuartal tersebut bertepatan dengan masa jabatan Musk di periode kedua pemerintahan Donald Trump , yang memimpin upaya untuk memangkas pengeluaran dan regulasi pemerintah, serta memberhentikan puluhan ribu pegawai federal.

"Saham Tesla dan saham semua orang yang memegang Tesla telah turun sekitar setengahnya," kata Musk pada Minggu malam di sebuah rapat umum yang diadakannya di Green Bay, Wisconsin.

"Ini adalah pekerjaan yang sangat mahal, itulah yang saya katakan," ucapnya.

 

Meskipun penurunan saham Tesla di kuartal pertama menyakitkan bagi para pemegang saham, mereka telah mengalami volatilitas serupa di periode sebelumnya.

Pada kuartal pertama tahun 2024, saham Tesla sudah anjlok 29% karena penjualan mobil menurun dan persaingan semakin meningkat. Namun, sahamnya menguat sepanjang sisa tahun ini hingga naik 63%.

"Dalam jangka panjang, saya pikir saham Tesla akan baik-baik saja," kata Musk saat reli di Green Bay.

"Jadi, Anda tahu, mungkin ini peluang untuk membeli," tuturnya.

Bursa S&P 500 dan Nasdaq Composite Catat Kinerja Terburuk Sejak 2022

Ilustrasi bursa saham Asia (Foto by AI)

Bursa S&P 500 dan Nasdaq Composite membukukan kinerja kuartalan terburuk sejak tahun 2022 pada hari Senin (31/3).

Penurunan ini terjadi buntut ketidakpastian seputar kebijakan ekonomi pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang mengguncang pasar ekuitas AS pada kuartal pertama 2025.

Mengutip Economistimes, Selasa (1/4/2025) S&P 500 merosot 4,6% dan Nasdaq Composite anjlok 10,5% pada kuartal pertama 2025.

Kedua indeks acuan tersebut juga mengalami penurunan tajam pada bulan Maret 2025, mencatat persentase penurunan bulanan terbesar sejak Desember 2022, karena Presiden Donald Trump memberlakukan serangkaian tarif baru yang menimbulkan kekhawatiran akan perang dagang global.

Dow Jones Industrial Average tidak kebal terhadap kegelisahan tersebut, merosot 1,3% dalam tiga bulan pembukaan.

"Investor, kurang lebih pada kuartal pertama ini menyerah, karena Anda benar-benar tidak dapat melakukan perdagangan di sekitar ini," kata Adam Turnquist, kepala strategi teknis untuk LPL Financial.

 

Menanti Reaksi S&P 500 dan Dow Jones Soal Kebijakan Tarif Impor AS

Ilustrasi Foto Perdagangan Saham dan Bursa (iStockphoto)

Pada hari Senin, baik S&P 500 maupun Dow untuk sementara waktu mengabaikan ketidakpastian seputar rencana tarif mendatang pemerintahan Trump, yang akan diumumkan pada Rabu besok (2/4).

Tujuh raksasa teknologi yang mendorong kenaikan selama pasar bullish yang berlangsung sepanjang tahun 2023 dan 2024, sangat membebani pasar ekuitas AS karena investor menjual nama-nama yang sedang tumbuh.

Penurunan salah satunya terjadi pada saham Tesla hingga 36% pada kuartal pertama 2025, dan Nvidia turun hampir 20%.

"Pelajaran besar kita dari kuartal pertama adalah diversifikasi belum mati," kata Michael Reynolds, wakil presiden strategi investasi di Glenmede.

"Baik Anda melihat di antara, atau di dalam, kelas aset, jika Anda menghindari bahaya konsentrasi pasar, Anda sebenarnya bertahan sedikit lebih baik dibandingkan dengan beberapa indeks utama," ujarnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya