Liputan6.com, Yogyakarta: Sekitar 500 karyawan perkebunan PT Pagilaran asal Batang, Jawa Tengah, menggelar aksi di kantor pusat perusahaan tersebut di Kota Baru, Yogyakarta, baru-baru ini. Mereka menuntut sejumlah hak, seperti uang cuti, jasa produksi, dan pembagian seragam yang hingga kini belum terpenuhi.
Dalam orasinya, pengunjuk rasa menganggap pihak direksi telah membohongi karyawan dengan menyatakan perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan ini terus merugi. Padahal, gaji para direksi terus dinaikkan. Sedangkan pembayaran sejumlah hak karyawan kian tak jelas. Menanggapi tuntutan para pengunjuk rasa, Direktur Utama PT Pagilaran Sudarmadi yang menemui para mereka berjanji akan mengkaji ulang sejumlah kebijakan berkait tuntutan para pengunjuk rasa.
Sebelumnya, ratusan warga di empat desa di Kecamatan Blado, Batang, Jateng, menuntut dikembalikannya lahan garapan mereka yang kini menjadi perkebunan teh PT Pagilaran. Warga menilai tanah yang diambil alih pemerintah semasa Presiden Soekarno pada 1964 itu adalah milik warga empat desa, di antaranya Desa Pagilaran, Bismo, dan Gondang. Karenanya, warga yang kebanyakan para petani teh itu akan terus berjuang meminta lahan garapan dikembalikan [baca: Warga Pagilaran Tetap Menuntut Lahan Garapan Dikembalikan].(ORS/Wiwiek Susilo)
Dalam orasinya, pengunjuk rasa menganggap pihak direksi telah membohongi karyawan dengan menyatakan perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan ini terus merugi. Padahal, gaji para direksi terus dinaikkan. Sedangkan pembayaran sejumlah hak karyawan kian tak jelas. Menanggapi tuntutan para pengunjuk rasa, Direktur Utama PT Pagilaran Sudarmadi yang menemui para mereka berjanji akan mengkaji ulang sejumlah kebijakan berkait tuntutan para pengunjuk rasa.
Sebelumnya, ratusan warga di empat desa di Kecamatan Blado, Batang, Jateng, menuntut dikembalikannya lahan garapan mereka yang kini menjadi perkebunan teh PT Pagilaran. Warga menilai tanah yang diambil alih pemerintah semasa Presiden Soekarno pada 1964 itu adalah milik warga empat desa, di antaranya Desa Pagilaran, Bismo, dan Gondang. Karenanya, warga yang kebanyakan para petani teh itu akan terus berjuang meminta lahan garapan dikembalikan [baca: Warga Pagilaran Tetap Menuntut Lahan Garapan Dikembalikan].(ORS/Wiwiek Susilo)