Mencekamnya Konser Metallica di Jakarta Tahun 1993, Area Panggung Tak Keruan hingga Dinodai Kerusuhan, Penjarahan dan Pembakaran

Di balik suksesnya penampilan Metallica di Jakarta pada 1993 silam, suasana di luar area stadion malah benar-benar kacau hingga terjadi kerusuhan dan penjarahan.

oleh Ruly RiantrisnantoDiterbitkan 28 November 2024, 15:30 WIB
Suasana kolaborasi Metallica dan Lady Gaga Grammy Awards ke-59, Los Angeles (12/2). Metallica dan Lady Gaga membawakan lagu Moth Into Flame dari album terbaru, Hardwired To Self Destruct. (Kevin Winter/Getty Images for NARAS/AFP)

Liputan6.com, Jakarta Maraknya kedatangan para musisi dan penyanyi internasional ke Indonesia untuk tampil menyapa para penggemarnya di Tanah Air, saat ini sudah bukan hal yang langka. Namun hal itu berbeda pada tahun 1990-an. Antusiasme terhadap musisi terutama grup musik atau band dari luar negeri sangatlah besar, termasuk kedatangan Metallica pada 1993 silam.

Metallica kala itu menjadi band yang diagung-agungkan oleh para pecinta musik rock dan metal di Tanah Air. Sayangnya, kedatangan James Hetfield (vokal, gitar), Kirk Hammett (gitar), dan Lars Ulrich (drum) harus dinodai dengan kericuhan, bahkan hingga berujung dengan kerusuhan yang menncekam!

Menelusuri sejumlah catatan dari berbagai sumber, konser Metallica di Indonesia kala itu berlangsung selama dua hari, tepatnya pada 10 dan 11 April 1993 di Stadion Lebak Bulus, Jakarta Selatan yang hanya sanggup menampung 12 ribuan orang. Konser tersebut merupakan bagian dari tur dunia mereka yang bertema Nowhere Else To Roam Tour.

Menyimak metallica.com, selama dua hari konser, Metallica memainkan sebanyak 18 lagu yang sama serta urutannya yang tak berbeda. Konser dibuka oleh "Enter Sandman", ditutup dengan "One" sebagai 'encore' keempat.

Namun di balik penampilan Metallica yang terbilang sukses di atas panggung, suasana sekitar panggung hingga di luar area stadion malah benar-benar kacau. Hal ini seperti diungkapkan oleh dua orang penonton yang merasakan sendiri rusuhnya suasana kala itu.

 


Musisi Tanah Air Ini Merasakan Kacaunya Area Panggung Metallica Kala Itu

Juliet Project: Bimo Sulaksono, Willy Kinan, dan Zidni Hakim saat bertandang ke kantor Liputan6.com di Gedung KLY, Gondangdia, Rabu (13/11). (Liputan6.com/Herman Zhakaria)

Bimo Sulaksono, drummer sekaligus pendiri grup Juliet Project, menceritakan betapa kacaunya suasana area panggung pada hari pertama. Bimo yang pada saat itu sedang merintis karier musiknya bersama grup Netral (sekarang sudah keluar), mengaku banyak merasakan dan melihat hal-hal yang tak keruan.

"Wah waktu nonton Metallica, hari pertama itu benar-benar kacau banget. Penonton berdesakan kayak sudah melebihi kapasitas area stadion. Jadi, sepertinya banyak orang-orang yang menerobos dikasih masuk. Saya sama teman-teman musisi sampai minggir-minggir, akhirnya duduk di sisi panggung samping Lars Ulrich persis!" kenang Bimo saat dihubungi tim Showbiz Liputan6.com via telepon, Selasa (28/11/2024).

Lanjut Baca:

Selain di sekitar area panggung, Bimo juga melihat pemandangan yang tak lazim sewaktu berada di luar area, namun masih di kawasan stadion. "Enggak cuma di area panggung kacaunya, di luar itu ada bus yang disangka ditumpangi Metallica, dihadang sampai digoyang-goyangin sama kerumunan orang," ujar drummer yang pernah menjadi personel Romeo dan Ahmad Band ini.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya