Dibanding H5N1, H7N9 Lebih Mudah Menular dari Unggas ke Manusia

Kasus flu burung H7N9 kali ini agak aneh karena tidak menunjukkan gejala sakit pada unggas sehingga mempersulit upaya penelusuran dan pengendalian.

oleh Liputan6 diperbarui 30 Apr 2013, 17:16 WIB
Seorang warga Shanghai dilaporkan meninggal dunia setelah terinfeksi virus H7N9 sehingga jumlah warga yang meninggal dunia akibat virus tersebut mencapai 24 orang dari 126 kasus yang terjadi.

Menurut tim pakar, yang membingungkan pada kasus flu burung kali ini adalah tidak adanya gejala sakit pada unggas sehingga mempersulit upaya penelusuran dan pengendalian.
   
Berdasar bukti yang diperoleh tim, Asisten Dirjen WHO untuk keamanan kesehatan, Keiji Fukuda mengatakan, virus tersebut lebih mudah ditularkan dari unggas ke manusia dibandingkan H5N1 yang telah menewaskan 371 orang di seluruh dunia sejak 2003.
   
Di samping kasus awal penularan H7N9 di sekitar Shanghai, korban lain terinfeksi di Beijing dan lima provinsi di Cina.
    
Dirjen pada kantor kesehatan darurat Komisi Kesehatan Nasional dan Keluarga Berencana Cina Liang Wannian memperingatkan kemungkinan munculnya kasus yang lebih sporadis sebelum sumber infeksi benar-benar dikonfirmasikan dan dikendalikan secara efektif.
   
Sementara itu, Direktur Pusat Kolaborasi Referensi dan Penelitian Influenza WHO Anne Kelso mengatakan bahwa terdapat penurunan dramatis kasus infeksi H7N9 di pusat perdagangan Shanghai, yang merupakan lokasi pertama ditemukan kasus tersebut dengan angka kematian terbanyak.
    
"Pada fase ini, berita tersebut sungguh sangat menggembirakan. Setelah Shanghai menutup pasar-pasar unggas hidup pada awal April, segera terjadi penurunan kasus baru infeksi virus," kata Kelso seperti dikutip Xinhua, Selasa (30/4/2013).

(Abd)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya