Pangkoops: Kemarin, William Nessen Sempat Menghubungi

Jurnalis asal AS yang berada di wilayah GAM itu menelepon Pangkoops Brigjen TNI Bambang Darmono sekitar pukul 19.45 WIB. Pemerintah tetap melindungi Nessen meski batas waktu telah habis.

oleh Liputan6Diterbitkan 15 Juni 2003, 08:23 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Panglima Koordinator Operasi Brigadir Jenderal TNI Bambang Darmono mengaku dihubungi William Nessen, jurnalis asal Amerika Serikat yang berada di wilayah Gerakan Aceh Merdeka di Nanggroe Aceh Darussalam, Sabtu kemarin. Hubungan lewat telepon itu terjadi sekitar pukul 19.45 WIB atau hampir dua jam usai batas waktu jaminan keselamatan yang diberikan TNI.

Saat berkomunikasi, menurut Bambang, Nessen menanyakan apakah dia bisa bergabung dengan TNI. Menjawab pertanyaan itu, Bambang mengatakan, Nessen bisa bergabung kapan saja, asal dia menyebutkan posisinya saat itu. Mendengar hal itu, Nessen menjawab, dia tak ingin ditangkap TNI karena dia jurnalis. "Lalu saya katakan (kepada Nessen), soal ditahan itu kewenangan saya. Tapi jika kamu [Nessen] menyebutkan posisi, saya menjamin kamu tidak akan tertembak," ujar Bambang, saat berdialog via telepon dengan SCTV dari Aceh Timur, Ahad (15/6) pagi.

Bambang menambahkan, ketika ditanya kembali soal posisi, Nessen menjawab dia berada di suatu tempat. Namun, belum selesai bicara, telepon tiba-tiba terputus. Bambang yakin, hubungan itu diputus oleh GAM yang mendampingi Nessen selama menelepon. "Pasti itu dimatikan oleh GAM, bukan oleh Nessen. Sebab dia pasti ditempel terus oleh GAM selama berbicara," kata Bambang.

Pangkoops kembali menegaskan, Operasi Militer tak akan dihentikan hanya gara-gara ada seorang wartawan di wilayah GAM. Menurut Bambang, jika Nessen punya itikad baik, dia pasti menghubungi langsung saat diberi kesempatan selama 48 jam [baca: Batas Jaminan Keamanan untuk Nessen Berakhir]. Apalagi, Nessen tahu betul nomor telepon genggam Bambang. Asal tahu saja, Bambang mengaku sudah mengenal Nessen sejak lama dan sering berhubungan lewat telepon. "Nessen ini kenal betul dengan saya. Kami sering berhubungan sejak di Cot Trieng dulu," aku Bambang.

Sebelumnya, Menteri Koordinasi Bidang Politik dan Keamanan Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, perlindungan terhadap Nessen akan terus diupayakan meski batas waktu yang diberikan kadaluarsa. Namun, Susilo mensyaratkan, Nessen harus bersikap kooperatif kepada TNI dengan memberikan informasi yang jelas dan benar-benar memutuskan meninggalkan pasukan GAM. Demikian pula disampaikan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Jusuf Kalla. Dia mengatakan, sebaiknya warga asing memang tidak berada di Tanah Rencong. Pasalnya, hal itu akan membahayakan jiwa yang bersangkutan dan menghalangi operasi penumpasan kelompok separatis GAM.

Sementara Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda masih meragukan jurnalis Nessen yang mana yang berada di Aceh. Pasalnya, menurut Hassan, juru bicara Menlu Marty Natalegawa mengaku sempat menerima telepon dari seorang jurnalis asal AS bernama sama, tapi berada di Jakarta. "Saya masih mempertanyakan apakah karena kekisruhan nama, karena bahasa Inggris, lalu menjadikan seorang menjadi dua orang," kata Menlu. Hassan menambahkan, pemerintah belum dapat menilai Nessen terlibat dengan kelompok separatis. Yang jelas, pemerintah meminta wartawan berambut ikal itu melakukan tugasnya secara profesional.

Kasus ini juga dikomentari pengamat asal Melbourne, Australia bernama Damien Kingsbury yang mengaku secara sering berhubungan dengan Nessen sebulan silam. Seperti dilansir media cetak asal Australia The Age edisi 14 Juni, Kingsbury menyatakan, batas waktu selama dua hari buat Nessen tidak masuk akal. Pasalnya, Nessen tidak memiliki telepon. "Dia tak memiliki telepon, jadi dia tidak bisa menghubungi (TNI) dan dia tak bisa mendapat kabar (dari pemerintah RI) secara langsung. Jika TNI beritikad baik, seharusnya tidak memberi batas waktu hanya dua hari," kata Kingsbury.

Masih dilaporkan The Age, juru bicara Sofyan Dawood mengatakan, Nessen masih hidup dan dalam keadaan sehat walafiat. Namun, Sofyan tak mengkonfirmasikan apakah Nessen mengetahui deadline yang diberikan pemerintah RI. "Yang diinginkan Billy adalah keluar dari Aceh, tapi kami tak punya waktu untuk membahas rencana itu," ujar Sofyan. Yang dimaksud dengan Billy adalah nama panggilan Nessen. Sofyan menambahkan, yang jelas Nessen ingin dilindungi oleh GAM. "Mungkin dia [Nessen] takut kepada TNI," ucap Sofyan.

Sementara itu, Syahdia Marhadan yang sempat diberitakan sebagai istri Nessen ternyata masih berstatus sebagai istri seorang warga Aceh bernama Shalahuddin Alfatah. Menurut Salahudin, dia menikah dengan Syahdia 12 tahun silam. Namun, rumah tangga mereka mulai retak sejak 1999. Saat itu, mereka sudah tinggal di Kompleks Tanjung Mas Raya, Jakarta Selatan.

Shalahuddin baru mengetahui istrinya berhubungan dengan Nessen ketika dia berada di Houston, AS, pada Agustus 2001. Ketika itu, Syahdia menelepon suaminya untuk meminta izin agar Nessen bisa menginap di rumahnya di Jakarta. Shalahuddin tak memberi izin. Namun, hal itu tak digubris Syahdia. Sepekan kemudian, Shalahuddin kembali ke Indonesia. Ternyata, istrinya sudah kabur bersama Nessen. "Ketika saya pulang ternyata Syahdia telah kabur dan meninggalkan anak-anak," kata Shalahuddin di Banda Aceh, Sabtu pekan ini.

Dua hari kemudian, Nessen menelepon Shalahuddin. Dalam pembicaraan selama setengah jam, Nessen meminta Shalahuddin menceraikan istrinya. "Inilah awal dari malapetaka yang terjadi pada saya. Padahal hubungan saya dengan istri sebelumnya sangat harmonis, karena bapak Syahdia dengan ibu saya adalah adik kakak," kata direktur sebuah perusahaan daerah di Aceh itu.

Shalahuddin kemudian mencari istrinya sampai ke Singapura. Namun, usaha Shalahuddin tak berhasil. Alih-alih, dia malah mendapat kabar istrinya sudah lari ke AS bersama Nessen. Tiga bulan kemudian, tiba-tiba Syahdia kembali ke rumah. Dari paspor Syahdia, Shalahuddin mengetahui istrinya pergi ke Singapura dan Paman Sam. Sayang, baru dua pekan berada di rumah, Syahdia kembali kabur. "Sedikit nasihat saya berikan, dia kabur lagi," papar Shalahuddin.

Lelaki itu mengaku baru mengetahui Syahdia diperistri Nessen dua hari silam lewat pemberitaan media. Saat mendengar kabar itu, Shalahuddin kaget. Pasalnya, dia belum menceraikan istrinya. "Saya sangat kaget karena permasalahannya belum selesai," ujar pria berkaca mata itu. Beberapa hari silam, dia dihubungi polisi mengenai kebenaran hubungannya dengan Syahdia. Kini, dia bertekad memburu Nessen. "Saya akan memburu dia sampai ke mana pun," ujar Shalahuddin, geram.(ZAQ/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya